Yanh perlu kita diskusikan bukan cuma “apakah mereka salah?”, tapi juga “kenapa publik merasa berhak menghukum seseorang lebih keras daripada lembaga resmi?”
Karena sering kali, yang paling menakutkan bukan pelanggarannya, tapi nafsu kolektif untuk menyaksikan orang lain hancur.
It's called scapegoating. Di waktu krisis, pemerintah butuh kambing hitam. Biasanya kelompok yg bisa disalahin buat ngalihin amarah publik. Mereka harus berbeda & lemah secara politik. Mereka sama sekali ga salah, yg penting semua orang marah ke mereka, bukan ke pemerintah
Negara ini gagal menjunjung ideologi Pancasila.
1. Sila satu, cuma tau agama abrahamik.
2. Sila dua, minus kemanusiaan terhadap minoritas.
3. Sila tiga, konflik pecah dimana-mana.
4. Sila empat, kerakyatan dipimpin oleh presiden jahat.
5. Sila lima, keadilan cuma buat mayoritas.
Curiga kasus kampus sebelah hanyalah rekayasa semata untuk menggiring opini masyarakat terhadap keberadaan queer di lingkungan akademik. Kaya wowo x teddy kind of thing LOL
dari kasus pnj we can see how PDA in this country is still seen as immoral/taboo/breaking the law 😒 get some love mfs no wonder ya’ll r full of negativity all time
@didihadid_ orang gila, ga punya empati, coba lu punya anak dulu, atau minimal sodara yg gay dan dikucilkan sama masyarakat. Atau bahkan, lu coba jadi gay, tukar tubuh kek atau apa. Gila banget lu
@parkgata@TkimChen ya ini??? Ga usah pura-pura bego lah. Cyclic banget reasoning-nya, "asusila salah, tapi sanksi sosialnya berlebihan -> sanksi sosialnya salah, tapi tiap tempat beda aturan" https://t.co/ZAbdWigLr4
perlakuan sosialnya emang salah, tapi kalian harus liat juga peraturan tempat itu dan sanksi yang berlaku di tempat itu, karena beda tempat beda aturan