@Dervishobi@RooneySianny@pangeransiahaan Mungkin niatnya tidak jahat, tapi caranya kurang benar. Ditambah persepsi orang membuat tindakan abu-abu jadi terlihat hitam.
Semua orang pernah melakukan kesalahan yang tidak disengaja kan? Sama-sama jadikan pembelajaran aja
Tempo posisi Kurzawa, beres crossing langsung balik ka posisi defense.
Pemain urang mah beres crossing ngajedog heula bari nempo umpan na nu teu akurat.
She’s not wearing a hijab. She’s roaming freely. She openly supports the Islamic Republic.
Women’s Day isn’t a stage for false narratives. Strong women uplift other women and stand for Truth, don’t hijack the day.
We were told by Western media that girls in Iran 🇮🇷 were not allowed to go to school
Meanwhile Iran 🇮🇷 has the highest women scientists in the world, more than the United States ��🇸
Yes, you read that right.
Apa yang salah jika Syi'ah Suni bersatu? Jika Israel Amerika dan negara-negara Arab bisa bersatu lalu kenapa Syi'ah Suni tidak? Berfikir secara logika.
WASPADA proyek adu domba!
UAE Hindus population : 7%
UAE Muslims population : 76%
Hindus are SAFE there.
Saudi Hindus population : 1.5%
Saudi Muslims population : 93%
Hindus are SAFE there.
Qatar Hindus population : 13%
Qatar Muslims population : 67%
Hindus are SAFE there.
Then how is India with 80% Hindu population and 15% Muslim population not safe for Hindus?
'Hindu Khatre Me Hai' is just a political slogan for votes.
- Bro is travelling in SpiceJet economy class one of the cheapest airlines in India.
- Bro is flexing a cheese sandwich, an iPhone Pro, and 2 Kg of jewellery like he’s in a private jet.
- Bro is pretending to be busy on an important call while casually looking outside the window.
- But bro forgot that mobile networks don’t work inside a plane. 😭
Aura straight went to negative 📉😭
Pengantin baru ini mendapat kesempatan hadir di majelis (alm) Ayatullah Khamenei, lalu si istri berkata, "Saat menikah kami belum bisa beli cincin, maukah Anda memberi hadiah cincin pada saya & suami saya?"
> Former Indonesian President Joko Widodo came to Tirumala, Andhra Pradesh for pilgrimage 🕉️🇮🇩
> This has been confirmed by temple authorities
> Have we started converting the Indonesian elite back to Hinduism again? 😲
Pada tahun 1980-1990an, preman-preman buas dari Timor Timur semakin membludak di Jakarta.
Preman-preman ini berkhianat terhadap bangsanya sendiri. Mereka menjadi anjing peliharaan ABRI di Timor Timur.
Akibatnya, mereka tak punya rumah untuk pulang.
Kalau begitu, apa yang mereka lakukan?
Mereka menjadi seperti karma bagi Indonesia: giliran kita yang dijajah dan dirampok.
Faksi ABRI yang beroperasi di Timor Timur sangat berhasil membentuk suatu mesin penindasan dan pemalakan buas. Saking berhasilnya, ketika mereka menyebar dan menginfeksi kota-kota Indonesia seperti hama tikus, kita kewalahan.
Preman-preman asing ini menetap di kota besar seperti Jakarta. Mereka kemudian memungli, memalak, dan memukuli rakyat kecil di Jakarta, terutama di Tanah Abang.
Oleh preman-preman ini:
- Pedagang pasar dirampok.
- Pembeli pasar dirampok.
- Orang yang parkir dirampok.
- Ruko dirampok.
- Perumahan cluster dirampok.
- Rumah-rumah kumuh dirampok.
- Perkapalan dirampok.
- Pelabuhan kontainer dirampok.
- Truk dirampok.
- Gudang dirampok.
- Pabrik dirampok.
- Gedung-gedung kantor dirampok.
- Perusahaan di dalam gedung-gedung itu dirampok.
Mereka kerap tawuran dengan gerombolan preman lain yang tidak kalah jahat dan buasnya untuk memperebutkan daerah rampokan. Secara jumlah mereka kalah dengan gerombolan preman dengan seragam warna luar biasa norak, sehingga mereka lebih fokus ke kekejaman dan kebengisan.
Warga Jabodetabek sangat resah. Malam hari sangat mencekam.
Punglinya sangat mahal. Pedagang yang tidak bayar dipukuli sampai mampus sebagai percontohan.
Orang yang bilang bahwa "zaman Orde Baru lebih enak" jelas belum pernah dipukuli preman-preman buas peliharaan rezim ini karena tidak punya uang untuk setor pungli, sebagai percontohan untuk pedagang-pedagang lainnya.
Argumen bahwa "Orde Baru membasmi preman" dipatahkan dengan keberadaan gerombolan-gerombolan preman ini.
Kriminalitas bukannya dibasmi, melainkan dilembagakan.
Bukan hanya dilembagakan, setoran punglinya juga dilembagakan. Supaya tidak dipetrus, para preman ini menyetor ke beking-beking mereka di atas.
Beking-beking rezim ini, in turn, melindungi preman-preman itu dan bahkan senang apabila pedagang kecil dipukuli sampai mampus. Semakin banyak pedagang yang diperas, semakin banyak uang yang terkumpul untuk disetor ke beking.
Beking-beking rezim ini kemudian memakai uang setoran hasil merampok pedagang dan pembelinya itu untuk berjudi, bermabuk-mabuk, menyewa prostitusi, atau (dan terutama) menyetor ke atasan mereka. Dan seterusnya.
Megawati naik menjadi pemimpin oposisi melawan Orde Baru pasca Kudatuli karena narasi sederhana: rezim Orde Baru adalah rezim preman. Rezim mafia kriminal, dengan Soeharto sebagai ketuanya seperti Don Corleone dalam film "The Godfather".
Kudatuli bukan disebabkan "preman kiriman rezim Soeharto". Melainkan, Soeharto, keluarganya, dan seluruh anak buahnya *adalah* preman.
Media AsiaWeek misal mencatat bagaimana preman-preman Timor terlibat langsung menyebabkan Kerusuhan Mei 1998. Saat itu, preman-preman Timor didatangkan dengan pesawat ke Yogyakarta lalu dibawa ke Jakarta pakai kereta api oleh beberapa oknum jenderal yang memelihara mereka sebagai semacam gerombolan tukang pukul (dan tukang bunuh) pribadi.
---
Gerombolan-gerombolan preman berkostum Betawi dan berkostum Islam garis keras sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap kegagalan negara membasmi preman-preman buas semacam ini dari pasar dan ruang-ruang hidup rakyat kecil di daerah kumuh Jakarta.
Debutnya terjadi pada akhir 1990an, yaitu ketika gerombolan-gerombolan preman yang berkostum etnis Betawi berhasil menggulingkan dominasi preman Timor dari Tanah Abang.
Gerombolan baru ini tetap memungli dan memalak ekstrem, tetapi dengan rate yang lebih masuk akal untuk dibayar pedagang dan dengan kekerasan yang jauh lebih dikurangi.
Daripada kekerasan murni, mereka memakai etnopopulisme sektarian Betawi untuk melakukan pendekatan yang politis, tidak seperti para preman Timor dan preman tua lain yang hanya bisa memukul dan membacok.
Preman-preman baru yang lebih efektif ini kemudian merapat dengan rezim Orde Baru dan bahkan bergabung dengan preman lama dalam suatu koalisi besar Pam Swakarsa untuk memukuli dan meneror para aktivis Reformasi.
Beberapa dari mereka bahkan membantu keluarga Cendana melakukan aksi teror dan bom terhadap usaha pengusutan kasus-kasus korupsi Orde Baru, sebagaimana diungkap Gus Dur pada September 2000.
Dalam serangan bom mobil yang mereka lancarkan pada Bursa Efek Jakarta, 15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil tubuh manusia.
Keluarga Cendana dan kroni-kroninya sendiri memiliki uang dengan jumlah sangat banyak yang mereka rampok dari berbagai sumber, seperti monopoli ekspor impor migas di Petral.
Uang rampokan itu kemudian menjadi sumber dana aksi-aksi teror preman untuk menghalangi orang-orang Reformasi yang berusaha mengusut mereka.
“We remind the two-billion-strong Ummah that this Arab Muslim people, who have been resisting for over 70 years, are facing genocide, starvation, and displacement before your eyes. What will you say to your Lord?”
—Martyr Abu Obaida
Beberapa ilmu Titen warisan nenek moyang dalam bercocok tanam.
‐--Titen Cuaca
Orang desa dulu tidak punya satelit cuaca, radar hujan, atau aplikasi prakiraan. Tapi mereka tetap bisa membaca langit.
Mereka memperhatikan :
— perilaku hewan
— perubahan angin
— bentuk awan
— aroma tanah
— dan suhu udara yang terasa di kulit
Jika angin sore makin lembut tetapi udara terasa lembab, mereka paham hujan sudah dekat. Jika langit berawan tapi angin panas dan kering, petani tahu itu hanya mendung tanpa hujan. Ketika kunang-kunang mulai banyak, belalang mulai aktif, dan suara kodok semakin “ramai”, petani tahu ekosistem sedang bergerak menuju musim yang berubah.
Itu bukan mistik.
Itu observasi panjang yang kini terbukti sejalan dengan meteorologi modern.
Ilmu titen itu bukan kebetulan.
Itu cara manusia berabad-abad berdialog dengan langit.
– Titen Air
Orang tua kita mungkin tidak belajar hidrologi. Tapi mereka paham siklus air lebih baik dari kita yang hidup serba digital.
Mereka membaca :
— tinggi air sungai
— kejernihan air
— waktu munculnya mata air musiman
— perilaku hewan air
— bahkan bau tanah basah
Jika mata air kecil mulai mengalir lebih lama dari biasanya, mereka tahu musim basah akan panjang. Jika air cepat surut padahal hujan masih ada, mereka waspada terhadap kekeringan yang akan datang. Bila serangga air mulai aktif dan rumput rawa tumbuh lebih subur, mereka tahu cadangan air tanah sedang kuat.
Hari ini, sains menyebutnya indikator ekologi dan hidroklimat.
Dulu, leluhur kita menyebutnya… titen.
Yang berubah hanya istilahnya, bukan kebijaksanaannya.
– Titen Tanam
Petani dulu tidak menanam karena kalender pemerintah. Mereka menanam karena membaca alam.
Mereka memperhatikan :
— kapan burung mulai membuat sarang
— kapan rumput tertentu mulai tumbuh
— kapan tanah mulai ‘hidup’ penuh organisme
— kapan udara malam terasa stabil hangatnya
— kapan hujan tidak lagi sekadar mampir
Saat tanda-tanda itu selaras, mereka yakin: ‘Wes wayahe nandur…’
Dalam bahasa modern, ini disebut phenology — ilmu yang mempelajari hubungan waktu kejadian alam dengan iklim.
Tanaman tidak mengikuti tanggal, tapi mengikuti tanda alam.
Dan para petani kita sudah paham itu sejak lama, jauh sebelum sains menuliskannya di jurnal.
Ilmu titen bukan warisan kuno.
Ia adalah manajemen pertanian berbasis pengamatan jangka panjang.
– Titen Musim Hama
Petani dulu tidak menunggu hama datang baru panik. Mereka membaca tanda-tanda kedatangannya.
Bila belalang mulai aktif lebih awal, bila kupu tertentu mulai banyak, bila rumput tertentu tumbuh subur, bila cuaca lembab berulang tanpa jeda, mereka tahu organisme lain akan ikut bangkit.
Itulah kenapa dulu petani lebih siap.
Mereka tidak hanya bertani dengan pupuk dan pestisida, tapi juga dengan kepekaan.
Hari ini, sains menyebutnya :
— ekologi populasi
— dinamika hama
— indikator biologis
Dulu, nenek moyang kita menyebutnya :
Titen.
Alam sebenarnya selalu memberi peringatan.
Kita hanya perlu kembali belajar membaca bahasanya.
Semoga Bermanfaat....🙏