Menurut saya, dari tiga kali perayaan Persib juara, kali ini yang terburuk.
Bojan ngamuk, Haye ngamuk, Barba ngamuk, Jung ngamuk & Putros hilang hape. Ini semua fatal.
Kesalahan utama adalah pemilihan venue di Asia Afrika, berikutnya tidak ada pengamanan berarti untuk clear area sepanjang jalur konvoi.
Kalau mau contoh klub2 eropa sebenernya bisa. Jalur dibuat steril pake pagar barikade berikut dijaga oleh satuan pengamanan setiap 5 meter, jarak clear area 1-2 meter. Tapi ini nampaknya gak mau atau gak mampu? Entahlah.
Bobotoh juga sebenernya mau diatur kok. Contoh konkrit, pas match terakhir gak ada tuh yg turun ke lapangan seperti tahun sebelumnya. Ini berlangsung organik dari komunitas2 yg aktif bikin himbauan, senior2nya juga turun jagain. Lah pas hari H konvoi, sama sekali gak ada yang ngatur crowd di lapangan. Gimana mau teratur kalo gak ada yang ngatur?
Kritik ketidaknyamanan dari warga akibat konvoi jg sebetulnya valid, yang tidak itu anda-anda yang berlaku klasis & elitis sampai berlaku rasis! Mending menta hampura, bisi kena hukum adat.
Kalo ngomongin soal “MARGA”. Hal yg pertama kali terlintas dipikiran biasanya tertuju pada suku batak. Setuju gak?
Tapi, kalian tau gak? Suku sunda jg punya nama marga yg gak kalah keren lhoo, sayangnya budaya kemargaannya ga semelekat orang Batak.
Kira2 kenapa yaaa..?
Yoi, fokus pada perayaan dan dinamika klub sendiri aja. Berbahagialah kalian yang jadi saksi sejarah kemarin, bahwa suka ataupun tidak, semua sepakat Persib adalah identitas kultural yg tidak akan lekang oleh panyakit haté batur.
Setuju, sih. Gak ada yg enak di Bandung mah. Jangan mau ke Bandung, deh. Udah mah jalanannya macet, makanannya gak enak pula. Mending jauh-jauh dari yg namanya Bandung, Kak. Tolong kasih tau yg lain, "Jangan mau ke Bandung!"