@PT_Transjakarta@pramonoanung T31 tiap pagi (jam 6.30) membludak kayak gini sedangkan bis datang tiap 15 menit. Penumpang udah keburu numpuk di Petamburan sementara di dlm bus udah penuh + orang keluar masuk senggol bacok semua. Tambahin bis dan armada di rush hour 6-9 pagi
@PT_Transjakarta PENUMPANG T31 MEMBLUDAK di Depan PIK AVENUE. Ada bus tapi rusak penumpang menumpuk bus cadangan juga ga Dateng2. Kasian banyak lansia dan anak kecil
This morning, visuals show a road collapse after prolonged heavy rainfall, along Jalan Bagbagan–Warung Kiara 2 in the Pelabuhan Ratu area, Sukabumi Regency, West Java, Indonesia.
House and bridge collapses are occurring so often that it feels like a normal part of each day.
T31 BLOK M-PIK 2 ditambahin armadanya pliiss @PT_Transjakarta banyak nih warga selatan kerja di PIK. Interval 15 MENIT terlalu Lama. Bisa dipertimbangkan jadi 5-10 menit. Karena penumpang banyak numpuk di halte Petamburan apalagi pas jam jam berangkat/pulang kerja
Kalau turun di stasiun Manggarai hati-hati bagi perempuan. Kalau lewat situ banyak se**al Harr****t secara VERBAL. Pas tadi jalan ada driver mobil online doing that thing. Maunya nabok tapi lagi buru-buru
@bitaloof@gabumond@kegblgnunfaedh@balasaJr Pusat galaksi dan seisinya. Bisa mandi dan makan sampai tuntas itu udah syurgaaa banget buat ibu2 yg selalu ketempelan toddler
Panggung Ego
Ilmu itu cahaya. Tapi tidak semua yang tampak bercahaya benar-benar menerangi. Kadang, yang kita kira ilmu hanyalah kilau dari ego yang dipoles rapi.
Dulu, para ulama belajar ilmu untuk memperbaiki jiwa. Mereka menangis karena takut tak mengamalkan apa yang mereka tahu. Hari ini, banyak yang belajar demi menang debat, tampil di forum, mengejar konten di medsos, atau sekadar tampak cerdas di panggung sandiwara kehidupan.
Padahal ilmu yang sejati seharusnya melunakkan, bukan mengeraskan. Membuatmu tunduk, bukan menundukkan. Tapi entah mengapa, semakin tinggi gelar, kok semakin sulit menerima nasihat. Semakin luas bacaan, justru semakin sempit dada terhadap perbedaan. Ada apa, ya?
Entah sejak kapan kita lebih sibuk membicarakan siapa yang salah di dunia, dan siapa yang selamat di akhirat, ketimbang siapa yang paling bermanfaat untuk sesama. Kita lebih senang menilai cara orang lain sujud, daripada mengukur seberapa khusyuk kita sendiri berdiri di hadapan-Nya.
Di panggung kehidupan ini, ilmu kerap jadi alat untuk mengukur orang lain—bukan menimbang diri sendiri. Padahal ilmu itu seperti air: ia hanya mengalir ke tempat yang rendah. Hati yang tinggi tak akan mampu menampungnya.
Jika yang kita cari dari ilmu adalah panggung, maka kita akan terus gelisah: merasa kurang dihargai, kurang dikenal, kurang disebut. Tapi jika yang kita cari adalah terang bagi hati, cukup satu ayat yang menyentuh, atau satu hikmah yang mengubah arah hidup kita.
Karena ilmu tanpa kebijaksanaan justru menjauhkan kita dari sesama—dan dari rahmat-Nya.
Dan kini, saya pun harus bertanya kepada diri ini:
Apakah yang dicari dari ilmu? Terang bagi hati, atau panggung bagi ego?
Kasih, ilmu tanpa mahabbah darimu hanyalah sirāj yang redup cahayanya, yang menutupi nūr wajahku dan mengaburkan basirah mataku…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Kangen papa. Paling sabar sedunia, ga pernah bentak anak dan istrinya. Mengasihi sesama, tidak pernah sombong & tinggi hati. Ga pernah bilang "engga." Tapi takdir berkata lain. ALLAH lebih sayang sama orang paling baik.
Terimakasih petugas dari @pln_123 laporan mati lampu di rumah akibat kabel putus ditanggapi dan diperbaiki dengan cepat. Semuanya gratis. Lokasi: Ciputat Timur, Tangsel