O hiato de Kagurabachi é mais uma prova da mudança na indústria.
Anos atrás, o ex-editor-chefe da Shonen Jump, Nakano, comentou sobre a importância de dar mais atenção ao bem-estar dos autores. Hoje, foi anunciado que Kagurabachi vai entrar em hiato até agosto para que Hokazono priorize a sua saúde.
O fato de Hokazono poder fazer pausas para descansar e se recuperar é bom para todo mundo. Os mangás modernos demandam muito mais detalhe e esmero na arte para serem produzidos e, por isso, o ritmo semanal frenético se torna ainda mais prejudicial para a saúde dos mangakás.
Vimos tratamentos parecidos com Kohei Horikoshi que, além de ter mais pausas, também reduziu o número de páginas por capítulo na reta final de My Hero Academia. O mesmo vale para Eiichiro Oda, que hoje faz ao menos uma pausa por mês.
O próximo passo seria adicionar pausas obrigatórias para todos os autores após uma quantidade fixa de capítulos. O público mais exigente e imediatista iria reclamar, mas não podemos esquecer que estamos falando de vidas humanas.
Espero que mais autores possam ter a liberdade de parar para priorizarem a sua saúde física e mental. Que, pouco a poco, a Shueisha consiga pavimentar uma indústria muito mais saudável.
Gini guys, apa yang kita dapat ini bukan taken for granted. Bukan serta merta ada.
- Alhamdulillah tata kelola MBG dievaluasi total selama liburan sekolah, setelah korupsinya terbongkar dan protes-protes tata kelola dari awal program ini
- Pemerintah anggarkan revitalisasi 71ribu sekolah karena kita protes terus kenapa gak dapur MBG lebih bagus dari sekolah. Prioritas harusnya perbaikan sekolah dulu.
- IHSG hijau, Rupiah menguat karena kita konsisten menujukan kekhawatiran kita terhadap situasi dan potensi krisis. Akhirnya banyak intervensi2 moneter dan fiskal, termasuk perbaikan komunikasi publik.
Capaian ini bukan hadir karena kita diam, tapi konsisten BERISIK.
Ada ribuan mahasiswa yang berdemo, guru-guru berteriak, sampai netizen kayak kita yang konsisten menyuarakan keresahan.
Resah itu hak kita sebagai pembayar pajak.
Ingat, Pemerintahan bekerja itu BARE MINIMUM. Kalau butuh diapreasiasi; ya lewat pajak yang kita bayarkan.
Maaya Sakamoto returns as Motoko Kusanagi (The Major) in Science SARU's new 'THE GHOST IN THE SHELL' anime!
She previously voiced the Major in 'Ghost in the Shell: Arise' and 'The New Movie,' and portrayed a young Motoko in the 1995 anime film
Agustus 1989, sekelompok mahasiswa ITB demo di depan rektorat. Mereka menolak kedatangan Menteri Dalam Negeri. Waktu itu, namanya Rudini. Jenderal Angkatan Darat.
Para mahasiswa yg terlibat ditangkap. Diadili. Dan dipenjara.
Salah satu pelakunya sekarang jadi Menteri. Namanya Jumhur Hidayat.
Mereka yang ngecam aksi mahasiswa mengusir para menteri di UGM, mesti tahu sejarah ini.
Mahasiswa menolak dan mengusir pejabat politisi dari kampus, itu biasa aja.
i think pada dasarnya semua jurusan itu berguna, but maybe the real issue is that our country doesn’t invest equally in developing opportunities for every field of knowledge. some are nurtured, funded, and prioritized, while others are left fighting for survival. sedih sih
Bagi yang penasaran kenapa novel supertebal “Kura-Kura Berjanggut” belum atau tidak dicetak ulang lagi, jawabannya ada di video ini.
Yang jelas, Pak Azhari (penulisnya) tidak menjual kelangkaan. Selama beliau masih hidup, masih sangat mungkin KKB dirilis kembali. Sabar saja dan jangan fomo. 👌🏼
______________
Sumber video: wawancara Maulidan Rahman Siregar (https://t.co/BQrX23ahBP) bersama Yusi Avianto Pareanom (Penerbit baNaNa), September 2025.
Kira-kira beginilah dinamika harga komik di Indonesia
dulu memang kerasa murah karena pakai kertas koran yang cukup murah, sehingga satu jilid harganya bisa murah banget.
Terus pembaca ngeluh karena kualitas koran sudah menurun, gampang tembus. Jadilah penerbit beralih ke bookpaper. Alhasil harga komik sekarang terasa mahal daripada dulu
Tapi kalau pakai harga sekarang itu masih sama seperti 2 tahun lalu, penerbit lagi nahan harga padahal bahan baku sudah pada naik
Ada yg ngabari novel "Dari Dalam Kubur" dijual Rp 700K (posting di bawah). Mohon penjual seperti ini dilaporkan ke saya & penerbit, supaya bisa di-blacklist.
Kalau persediaan novel saya menipis, kontak penerbit supaya cetak ulang. Jangan beli dr penjual yg tdk etis.
Orang Indonesia bukannya nggak suka baca.
Masalahnya, beli buku legal itu mahal banget kalau dibandingin gaji (legal yaa bukan PDF hehe).
Contoh kasar:
UMP Jakarta 2026: Rp5,73 juta/bulan
Minimum wage Louisiana kalau dijadiin bulanan: sekitar Rp22,6 juta/bulan
Minimum wage New York City kalau dijadiin bulanan: sekitar Rp52,9 juta/bulan
asumsi 173 jam kerja/bulan dan kurs Rp18 ribu per dollar
Sekarang lihat harga buku.
Atomic Habits terjemahan Indonesia di Gramedia: sekitar Rp86 ribu
Itu sekitar:
1,5% gaji UMP Jakarta
Atomic Habits English di Periplus: sekitar Rp458 ribu
Itu sekitar:
8% gaji UMP Jakarta
Atomic Habits di Barnes & Noble: sekitar Rp396 ribu
Itu sekitar:
1,8% gaji minimum Louisiana
0,7% gaji minimum NYC
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat di Gramedia: sekitar Rp62 ribu
Itu sekitar:
1,1% gaji UMP Jakarta
The Subtle Art of Not Giving a F*ck English di Periplus: sekitar Rp355 ribu
Itu sekitar:
6,2% gaji UMP Jakarta
One Piece Indonesia di Gramedia: sekitar Rp45 ribu
Itu sekitar:
0,8% gaji UMP Jakarta
One Piece English di Periplus: sekitar Rp198 ribu
Itu sekitar:
3,5% gaji UMP Jakarta
One Piece English di Barnes & Noble: sekitar Rp180 ribu
Itu sekitar:
0,8% gaji minimum Louisiana
0,3% gaji minimum NYC
Jadi kalau orang Indonesia banyak baca manga gratisan, artikel gratisan, PDF, thread, atau rangkuman online, bukan berarti mereka anti-buku.
Bisa jadi mereka rasional.
Karena buat pekerja UMP Jakarta, satu buku impor Rp350-450 ribu itu bukan “ah cuma buku”.
Itu bisa 6-8% gaji sebulan.
Bahkan manga legal English Rp180-200 ribu aja bisa 3% lebih dari gaji UMP Jakarta kalau belinya di Indonesia.
Kalau gaji Rp5,7 juta, beli 2 buku impor aja udah kayak bayar listrik, internet, atau makan beberapa hari.
Di Amerika, buku yang sama juga mahal secara nominal.
Tapi kalau dibandingin gaji minimum bulanan, bebannya jauh lebih kecil.
Ini kenapa literasi nggak bisa cuma diceramahin:
“ayo dong rajin baca buku”
Pertanyaannya juga harus:
bukunya affordable nggak?
akses perpusnya bagus nggak?
ebook legalnya murah nggak?
gaji orangnya cukup nggak?
toko bukunya dekat nggak?
bahasa terjemahannya tersedia nggak?
Orang Indonesia rajin baca kok.
Cuma seringnya mereka baca format yang paling masuk akal buat dompet mereka.
Masalahnya bukan cuma minat baca.
Masalahnya juga rasio harga buku terhadap gaji.
Pustaka Langka butuh dukunganmu!
Hi all, beberapa bulan terakhir, website Langka dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan kali. Tentunya kami sangat senang, tetapi ini berarti biaya yang dikeluarkan juga lebih besar.
Bagi yang mau mendukung, bisa lewat https://t.co/bJOIc8UhMp ya!
Kami tidak menerima donasi dari organisasi atau yayasan agar tetap bisa menjalankan proyek-proyek Logos tanpa tekanan, tetapi hal ini juga membuat keuangan kami minus sejak didirikan pada tahun 2020.
Selama 6 tahun terakhir, kami membuat ribuan artikel gratis, 300+ kelas gratis, dan yang terbaru adalah digitalisasi 1000+ buku dan majalah langka.
Semuanya gratis untuk masyarakat, tetapi ada harga yang harus dibayar oleh tim Logos ID dari dompet kami sendiri.
Semoga dukungan teman-teman dapat mengurangi defisit kas Logos ID dan suatu saat kami bisa berkembang lebih jauh apabila ada uang lebih untuk membuat proyek pendidikan gratis lainnya.
Orang Indonesia rajin baca kok, tuh lihat yang aktif baca berita, baca artikel gratisan.
Situs baca manga, Mangaplus mencatat orang Indonesia peringkat 3 pengunjung terbanyak.
cuma untuk beli buku pada gak punya duit karena kembali lagi, buku tidak affordable. Rasio gaji kecil.
Memang membaca dan membeli buku dua hobby yg berbeda.
Di kasus saya, saya membeli buku untuk buku-buku yg kemungkinan tidak cetak ulang lagi dan mempermudah saya membaca buku dengan tema atau genre.
Ambil contoh, saya mau membaca tema kerajaan bulan ini, karena saya sudah menabung dengan membeli buku dengan tema kerajaan beberapa tahun silam, jadi saya tinggal ambil di rak. Tidak perlu pusing berburu dan mencari bukunya lagi, belum lagi harga buku yg kian mahal.
Menabung membeli buku di masa silam saya rasa sebuah investasi, melihat kondisi negara ngehe belakangan ini.
Jadi apa salahnya?
Les "architectes" (maçons) du Moyen Âge ne sortaient pas de nulle part.
Ils étaient formés au sein des corporations de métiers, selon un parcours progressif qui allait généralement de l'apprentissage au compagnonnage, puis, pour certains, à la maîtrise.
Les savoirs circulaient, les techniques se transmettaient et les artisans voyageaient fréquemment d'un chantier à l'autre pour perfectionner leur art et acquérir de nouvelles compétences. Ce qui a, d'ailleurs, donné les Compagnons du tour de France et diverses guildes.
Ils passaient des examens pour monter en grade. Bref. Ces comptes font des milliers de vues sur de l'ignorance pure.
SMS indonesia mahal
Akhir-akhir ini beberapa aplikasi seperti LINE, Telegram, bahkan Google mulai menonaktifkan verifikasi OTP via SMS. Setelah ditelusuri, ternyata sejak 2023–2024 operator seluler di Indonesia kompak menaikkan tarif SMS A2P International secara signifikan. Dari yang sebelumnya sekitar Rp300–Rp400 per SMS, kini melonjak 2–3x jadi Rp1.000–Rp1.400. Bandingkan dengan Uni Eropa dan Amerika yang hanya Rp45–Rp150 per SMS. Dengan trafik besar dari aplikasi seperti WhatsApp, TikTok, Shopee, hingga mobile banking, biaya OTP di Indonesia bisa bikin perusahaan boncos miliaran rupiah per hari. Jadi ini bukan aplikasinya yang pelit, tapi memang biaya di Indonesia yang terlalu mahal. Akibatnya, perusahaan memilih efisiensi dan pengguna yang kena dampaknya. Ada yang ngerasain juga di aplikasi lain?
FB - Fauzan Hujatan Teknologi Indonesia (HTI)
'DR.STONE' Manga Artist Boichi shared his thoughts on readers who say they cannot afford manga, discussing the financial struggles of both fans and creators while highlighting issues of access and pricing
"Most Japanese readers do not have much money either. Most Japanese mangaka do not have much money. Most aspiring manga artists do not have much money."
"Many readers carefully save a small allowance to buy a single tankōbon volume."
"They do it because they want to support creators. They do it because they want manga to continue existing. They do it because if nobody pays, manga cannot continue to be made."
"Manga did not become successful because Japan was rich. Manga grew during the 1950s, when Japan was still a very poor country."
"It grew because people chose to buy manga. Because they valued it. Because they believed it was worth supporting."
"Of course, there are exceptions. There are always exceptions. Some people genuinely face circumstances far more difficult than most of us can imagine. I do not want to dismiss those realities."
"I began my career as a poor mangaka in a country that was still poor. I care deeply about people who struggle financially. I am on their side."
"Many creators sacrificed comforts in order to draw manga."
"The real problem is not whether people have money to buy manga. The real problem is that many people have no practical way to buy it."
"Officially licensed foreign editions are often far too expensive for readers around the world. I believe that is a genuine problem."