ada orang yang hidupnya sederhana banget.
naik sepeda onthel ke kampus.
nggak punya mobil. nggak punya rumah sendiri.
waktu dia mati pun, nggak ada harta yang ditinggal.
tapi organisasi yang dia bikin
melahirkan wakil presiden, menteri, ketua MK, dan puluhan elite republik.
namanya Lafran Pane.
dan lo mungkin belum pernah dengar namanya.
APA KABARMU, PAK OJOL?
Lo bangunin gue subuh. Lo anterin gue ke stasiun. Lo kirim makan siang ke kantor gue. Lo temenin gue pulang malem di tengah hujan. Lo anterin paket gue
Tapi lo kerja berapa jam?
Dapat berapa?
Kalau kecelakaan, siapa yang nanggung?
Kalau akun lo disuspend tiba2 , lo lapor ke mana?
Ini Utas buat kita bicara jujur soal kondisi lo , dengan data, bukan basa-basi.
@BosPurwa Aq aja dh nonton 20x tak bolak balik jdi 1 orang bukan nonton sekali bisa kan, yg komen juga itu itu lagi, yg lihat berulang2 juga itu2 lagi, kesmpulannya ternyata bapak itu hbis dri negara gurun bru ngomongnya di negara tropis jdi hasilnya kurang tepat di indonesia masih ujan
Alhamdullillah
Tabarakallah
Rakyat Indonesia dapat menikmati manfaat hasil perjuangan mas Didi dan mb Triana
Matur nuwun👍
Perjuangan Didi & Triana Demi Hak "Kuota Anti-Hangus"
Biasanya akhir tahun orang-orang sibuk liburan, tapi pasangan suami istri ini justru menutup tahun 2025 dengan sebuah "kejutan" yang luar biasa buat rakyat Indonesia. Di depan gedung Mahkamah Konstitusi, Didi Supandi (seorang driver ojol) dan istrinya, Wahyu Triana Sari (pelaku UMKM kuliner), resmi menggugat aturan yang bikin kuota internet kita angus gitu aja!
Dalam berita yang diterbitkan https://t.co/RG9T6Jc9Ki, pasangan suami istri, Didi Supandi dan Wahyu Triana Sari, mengajukan permohonan uji materiil terhadap Pasal 71 angka 2 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, yang mengubah Pasal 28 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Dalam permohonan yang teregister dengan nomor perkara 273/PUU-XXIII/2025, pasangan itu mempersoalkan praktik kuota hangus yang dinilai merugikan konsumen secara konstitusional.
Bagi mereka berdua, internet bukan cuma buat scrolling medsos. Bagi Pak Didi dan Bu Triana, kuota adalah alat produksi. Bayangin, lagi sepi orderan, kuota yang udah dibeli pakai keringat malah angus karena masa aktif habis. Mau kerja lagi? Harus utang dulu buat beli kuota baru. Padahal, itu kan hak mereka yang sudah dibayar lunas.
Gugatan ini tentunya bukan tanpa solusi, mereka minta agar:
1. Sisa kuota wajib di-akumulasi (data rollover).
2. Kuota nggak boleh hangus selama kartu masih aktif.
3. Atau kalau emang sisa, dibalikin jadi pulsa (refund).
Langkah berani pasangan ini bener-bener ngingetin kita sama hadits Rasulullah SAW:
“Khoirunnas anfa’uhum linnas”
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Thabrani).
Mungkin mereka cuma rakyat kecil, tapi keberanian mereka menggugat UU Cipta Kerja ini manfaatnya buat jutaan orang di Indonesia. Kalau gugatan ini dikabulkan, bukan cuma pak Didi dan bu Triana yang seneng, tapi jutaan driver ojol, mahasiswa, guru, dan kita semua nggak bakal lagi ngerasa "dirampok" oleh sistem kuota hangus.
Mereka nggak cuma mikirin dompet sendiri, tapi mikirin keadilan buat seluruh pengguna internet di negeri ini. Inilah sosok pahlawan di akhir tahun yang sesungguhnya.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian!
@sorotan Semua Orang
#jangkauanluas
HR: What are your salary expectations?
Candidate: 250,000 per month.
HR: We really liked your profile, but it's a little over our current budget.
Candidate: I really like this role. If 240,000 is okay, I'm willing to adjust.
HR: Great. Let's finalize at 220,000.
The candidate agreed—a little hesitant, but remained hopeful.
Later in the office:
"Position filled," HR reported.
“The budget was 280,000 — the deal closed at 220,000. Saved 60,000 per month!”
HR Manager: “Excellent. This was a very smart hiring move.”
A few weeks later…
The newly hired employee learns the truth — that colleagues in the same role are earning 270,000 to 280,000.
1. Motivation erodes
2. Trust erodes
3. Performance plummets
4. Resignations ensue
And this is how the company returns to zero:
- Another vacancy
- Another recruitment cycle
- More onboarding costs
- All the time and productivity wasted
Really?
👉 Underpaying talented professionals doesn't save anything—it only delays the cost.
👉 If you want to retain top talent, compensate them fairly from day one.
They don't just bring skills—they also bring stability, loyalty, and long-term value.
Have you seen such a situation in your career life?
a Christian british man breaks down a verse from the Qur’an that’s written on a van even much better than some people’s way of interpretation😮
interesting...