Tiba tiba bgt dipamitin bapak penjual cilok langganan yg biasa buat sarapan.
🧔🏻 : aku hari ini terakhir jualan di sini mba
🧕🏻 : loh kenapa pak? *syokk dikit* 🥹
🧔🏻 : pindah ke bali, besok berangkat. Maaf yaa mba kalo selama ini ada salah
🧕🏻 : loh ga adaa pak
😭 bapak hati hati yaa, biasanya bapak yg bilang hati hatii kalo saya mau jalan lagi
🧔🏻 : iyaa makasih ya mba
🧕🏻 : sehat sehat yaa pak, marii
🧔🏻 : hati hatii ya mbaa
cc:threadmelisaamq_
Kalau kamu bingung gimana cara membawa diri di tempat kerja,
nih, kenalin CHOKY SITOHANG.
TOP GLOBAL NGOLAH
Dari 1 konten videonya aja, banyak pelajaran yang bisa kita catat.
1. 00:13 "Kita kan menyesuaikan jadwal abang"
Kalau ditanya kapan mampir, atau ketemuan dengan seseorang yang "mungkin" lebih tinggi pangkat, status sosial, atau at least kamu hormati, kamu bisa pake kata-kata ini.
2. 00:21 "Bang, saya izin laporan ke yang bersangkutan"
Ini dipake ketika ingin menyudahi percakapan atau small talk tapi dengan cara yang halus.
3. 00:27 "Assalamualaikum, shallom, namo budaya, salam kebajikan"
Konteksnya karena di dalam ada bebeberapa orang dengan berbeda keyakinan, jadi sekalian sapa dengan salam sesuai kepercayaan mereka.
4. 00:45 "Akhirnya kita kenal juga, bang Asep"
Orang itu bakal lebih senang kalau kita tau nama dia, even baru pertama kali jumpa. Bisa baca name tag seandainya kamu benar-benar have no idea siapa nama dia.
5. 01:04 "Kapolres mohon izin, terima kasih Panglima, terima kasih Kapolda"
Detail kecil tapi berarti, untuk kasi respect ke orang yang kamu hormati. Misal di kantor dibeliin pizza sama bos, nah kamu bisa pake ini. "Bos, makasih ya pizzanya. Izin saya ambil, ya."
Siap buat ngolah? 😅
Skill oke, prestasi top cuma ya gitu berlebihan aja norak jatohnye cing wkwk di psywar belaga jadi korban. Padahal hobinyah suka manas2in org paye jamet ganteng kagak lu begitu.
@Pearlbastard98@strangerzssz@JanganGoyah Nangkep ga sih konteksnya? Kalo enggak lanjutkan mas bersorak buat tim kesayangan mu.. kritik sy bukan soal siapa yg lolos, kok bisa abang2an mu punya pemikiran begitu? Semua berhak main bola, bisnis bukan urusan suporter.
@abagusssss Ini semua ga ada hubungan ya sama panpel sama managemen, murni pihak keamanan ga ngasih izin banyak faktor, jakarta ga melulu bola. Satu lagi kebiasaan lau disana belum tentu bisa ditempat lain ga usah sok paling keren ngentot.
Selalu saya bisikan "maafkan papa sempat menyerah dan membuat kamu "menderita" selama dua hari. Pada akhirnya, apapun itu. Manusia harus mencintai kehidupan, karna Allah selalu punya cara di luar nalar manusia. ❤️
Pernah ada di posisi ini selama dua hari, 1 minggu 2 kali op besar. Saya kekeuh ingin lepaskan penderitaan. Allah datang setelah ashar, ttd berkas dan op pun langsung di lakukan, hasilnya alhamdulillah anak sehat sampai usia 3 tahun skrg. Setiap hari, bangun pagi
Guys, ada tweet yang bikin hati lo berantakan sekaligus mikir panjang.
Terkadang membiarkan pergi adalah bentuk cinta terhadap anak, daripada dia menderita di dunia.
Kalian setuju ga dengan statement diatas?
Dibawah ada yg ngepost video bayi kecil – namanya nggak disebut, tapi kondisinya bikin lo langsung terpaku.
Bayi ini lahir tanpa lengan, tanpa kaki (phocomelia berat), plus partial anencephaly alias otaknya nggak lengkap.
Dokter bilang “dia nggak bakal lama”. Tiap minggu operasi baru, paru-parunya rapuh, jantungnya nggak stabil, otaknya nggak utuh.
Tapi dia selamat sampe ulang tahun pertama.
Delapan operasi berbahaya.
Dia nggak bisa jalan, nggak bisa ngomong, nggak bisa pegang apa-apa… tapi dia senyum.
Senyum yang katanya “ngomong” kalau dia masih hidup, dan itu udah cukup.
Video ini sebenernya inspirational banget – nunjukin perjuangan jiwa kecil yang kuat meski tubuhnya nggak sempurna.
Tapi caption-nya? “Sometimes ‘letting go’ is a form of love”
Kita jarang tau realita di balik layar rumah sakit yang kebanyakan orang nggak mau liat.
Nggak lagi romantisasi penderitaan.
Nggak lagi bilang: kadang ngelepas, kadang memilih nggak memperpanjang, itu juga bentuk kasih sayang.
Dan liat komentar-komentarnya dibawah, ada dua kubu:
Banyak yang langsung setuju untuk "end-their-suffering".
“Aborsi ada alasannya.”
“Kenapa bawa bayi polos ke dunia cuma buat menderita seumur hidup?”
“Ini bukan keajaiban, ini penderitaan.”
“Orang tuanya yang egois kalau tetap pertahanin.”
Ada yang bilang “the miracle is in severe pain as it is, pls do the right thing.”
Bahkan ada yang nanya, “nanti pas orang tuanya meninggal, siapa yang rawat anak kayak gini?”
Tapi ada juga yang marah dan nuntut untuk dipertahanin.
“Hidup suci, nggak boleh dimainin.”
“Dia masih senyum, itu artinya dia mau hidup.”
Ini bukan cuma soal satu bayi. Ini cerminan sesuatu yang jauh lebih besar.
Di dunia medis, kasus-kasus kayak gini tiap hari ketemu. Janin dengan kelainan berat, orang tua dihadapkan pilihan: lanjutkan kehamilan atau nggak?
Setelah lahir, lanjut perjuangan medis mahal yang bikin anak menderita bertahun-tahun, atau… biarkan pergi dengan damai?
Aktivis kesehatan perempuan lagi kasih perspektif yang jarang orang berani bilang keras-keras: kadang “letting go” itu bukan kebencian, bukan penyerahan.
Tapi cinta yang paling berat. Cinta yang memilih nggak bikin makhluk kecil yang nggak minta dilahirkan ini harus ngalamin operasi tiap minggu, nyeri kronis, dan ketergantungan total seumur hidup.
Kenapa tweet ini langsung meledak ribuan like dan ratusan reply dalam hitungan jam?
Karena ini nyentuh titik paling sensitif manusia: batas antara “hidup harus diperjuangin mati-matian” versus “kualitas hidup yang layak”.
Kita ga perlu tau nama bayi, nggak perlu tau nama rumah sakit, nggak perlu tau orang tuanya siapa.
Tapi pesannya nyasar ke hati semua orang yang pernah liat atau bayangin punya anak kayak gini.
Dan reaksi netizen nunjukin: masyarakat kita masih terbelah banget soal isu disability, aborsi medis, dan euthanasia pasif.
Ini bukan soal “pro-life vs pro-choice” doang.
Ini soal: apa kita berani jujur sama diri sendiri kalau melihat anak seperti ini, apa kita masih bisa bilang “semua kehidupan harus diselamatkan” tanpa mikir panjang soal penderitaan yang bakal dia alami?
Si Bapak di Pemalang kemarin dibilang “berani kritik” sampe anaknya kena imbas. Ini juga “berani” dalam cara yang beda – berani nunjukin kenyataan medis yang kebanyakan orang tutup mata.
Kadang “letting go” emang bentuk cinta yang paling sakit. Karena cinta bukan cuma soal mempertahankan napas. Tapi soal membebaskan dari penderitaan yang nggak manusiawi.
Tweet satu ini bikin lo mikir ulang semua yang lo kira lo tau soal “cinta orang tua”.
Buat calon atau sedang jadi orang tua, pendapat kalian gimana?
Setuju buat diaborsi atau tetap dipertahanin dengan segala kekurangannya?