Kuota habis dalam tiga menit, lalu yang tidak kebagian kursi tetap datang dan menunggu di luar! Begitulah teman-teman diaspora dan PPI Edinburgh menyambut diskusi kami di Old College, University of Edinburgh, Minggu kemarin.
Panitia sampai harus mencari ruangan yang lebih besar. Karena hari Minggu, ruangan harus sudah bersih dan ditutup pukul lima sore, padahal diskusi masih berjalan hangat. Maka kami pun keluar dan melanjutkan diskusi di tangga Old College.
Gedung ini mulai dibangun tahun 1789, di masa Pencerahan Skotlandia, ketika Edinburgh ramai dengan perkumpulan diskusi tempat orang beradu gagasan soal ekonomi, kota, dan kehidupan bersama. Sore itu, tangga yang sama dipenuhi anak-anak muda Indonesia yang duduk ngemper, bertanya, menyanggah, dan tertawa bersama. Rasanya seperti rembug di serambi kampus waktu kami kuliah dulu.
Kami membahas kota dan masa depannya, juga situasi terkini di tanah air dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis. Di setiap pertanyaan tersirat rasa cinta dan kepedulian pada Indonesia, serta tekad untuk ikut membuatnya lebih baik. Walau jauh, mereka tetap memikirkan rumah.
Terima kasih PPI Edinburgh, Karsa City Lab, dan semua yang hadir, di dalam ruangan maupun di tangga Old College. Sampai jumpa lagi!
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, bencana makin parah, biaya hidup makin mahal.
Dari banjir, karhutla, sampai cuaca ekstrem, krisis iklim makin terasa di kehidupan sehari-hari. Tapi, apa kerja pemerintah?
Mampir ke kantor @C40Cities London. Senang sekali, ikhtiar udara bersih Jakarta yang kita mulai bersama sejak 2019 kini jadi contoh bagi kota-kota besar dunia di jaringan C40.
Nangis gue, nangis! 😭😭😭 Dikasih pemimpin model begini. Lo milih cuma gara-gara gemoy dan joget-jogetnya, sampai segala ditangisin pas lihat debatnya 😂😂😂
Menerima penghargaan The Freedom of the City of London.
Di Guildhall, London, balai kota yang berdiri sejak abad ke-15, ada sebuah ruangan tempat satu tradisi dijalankan selama ratusan tahun. Di ruangan itu, siang kemarin, penghargaan Freedom of the City of London kami terima. Alhamdulillah.
Prosesinya khidmat. Tidak ada kamera yg boleh menyala sampai seluruh rangkaian selesai. Hanya ada deklarasi yg dibacakan dengan kata2 yg sama seperti ratusan tahun lalu, sebuah buku besar untuk ditandatangani, jabat tangan, diakhiri satu kalimat sambutan: “a Citizen of London.”
Penganugerahaan Freedom of the City of London adalah salah satu tradisi sipil tertua di dunia. Tercatat sejak 1237, awalnya ia menandai status warga merdeka yg berhak berdagang di kota London. Kini ia diberikan kepada mereka yg dinilai berkontribusi bagi kehidupan publik. Dalam daftar panjang penerimanya ada Winston Churchill, Nelson Mandela, Desmond Tutu, Lee Kuan Yew, Stephen Hawking, J.K. Rowling, Tim Berners-Lee, Harry Kane, Andrew Lloyd Webber, dan banyak lainnya.
Nominasi bagi kami datang dari Lord Mayor of London Alastair King dan Alderman Gregory Jones. Upacara dimpimpin The City Remembrancer selaku kepala protokol. Alderman Vincent Keaveny, Lord Mayor 2021-2022, berdiri di samping mendampingi sepanjang upacara. Fery ikut hadir menyaksikan prosesi yg amat khidmat itu.
Kami sadar, yg dibawa masuk ke ruangan itu bukan nama satu orang, melainkan kerja2 kami sebelumnya, terutama saat diberi amanah di Jakarta. London memberi pengakuan terhadap kerja bersama itu, maka penghargaan ini pun kami dedikasikan menjadi milik bersama.
Dalam sambutan singkat, satu pesan disampaikan, kami ini ingin penghargaan ini diperlakukan sebagai pintu, bukan piala. Semoga lewat pintu ini makin banyak walikota, insinyur, guru, dan anak muda Indonesia yg belajar ke London, dan London juga datang belajar ke kota2 kita.
Kami menutup sambutan singkat di Guildhall kemarin dgn satu kata bahasa Indonesia. Kata yg diteriakkan bangsa ini pada 1945, dan masih diteriakkan setiap kali kita berbahagia. Kata yg dalam bahasa Inggris berarti freedom.
Merdeka!
Terima kasih, London. Sampai jumpa di Jakarta.
Tidak ada manusia yang semestinya menghirup asap sebanyak itu. Tidak ada anak-anak yang seharusnya terkena ispa. Tidak ada yang mau bertanggung jawab sampai hari ini.
Kebakaran hutan masih terjadi. Sebarkan beritanya, bukan apinya. Padamkan apinya, bukan beritanya
Mendarat di London bareng Fery, disambut warna daun musim gugur…
Akan berada di Inggris selama beberapa hari ke depan untuk hadiri beberapa agenda. Di antaranya, kuliah umum di LSE dan roundtable dengan PPI. Info lengkap ada di poster.
Buat yg di London ada waktu luang, kita ketemu dan diskusi ya. :)
Sekitar 20 tokoh dari berbagai negara berkumpul dalam satu ruangan di Singapura selama dua hari. Jumlahnya kecil agar percakapan bisa berjalan akrab dan mendalam.
Begitulah suasana Asia Leaders Connect, forum tahunan Temasek Foundation kali ini dengan tema "Scaling Impact Together". Kami duduk bersama para pemimpin dari pemerintahan, dunia usaha, filantropi, dan lembaga internasional dari berbagai negara.
Seharian penuh kami berbincang tentang hal-hal yang dampaknya terasa sampai ke rumah-rumah warga, mulai soal dana untuk pembangunan yang ramah lingkungan, bagaimana sebuah bangsa tetap tangguh saat dunia makin terpecah, sampai bagaimana beralih ke energi yang lebih bersih.
Kebetulan, pekan ini Singapura sedang ramai dengan F1 Week. Di sela agenda, kami melihat bagaimana kota ini menjadikan satu ajang balap sebagai ruang bertemu. Para pemimpin saling terhubung, ekonomi bergerak, dan kolaborasi tumbuh. Banyak pelajaran berharga yang layak dibawa pulang.
Cuma mau ngelabuin soal ijazah SMA lu yang nggak jelas di mana, sampai KPU ikut nyelundupin pasal. Dari awal gue sudah bilang: prosesnya busuk, jangan berharap hasilnya wangi.
Cuma soal SMA, bro… cuma soal ijazah elu. Kok satu negara jadi ikut nyari. Sma lu di mana?
Habibie g punya ijazah S1 karena Beliau pindah ke RWTH Aachen setelah hanya 6 bln di ITB. Di RWTH, Beliau adalah mahasiswa program Diplom-Ingenieur yg menggabungkan program S1 dan S2.
Klarifikasi aja, supaya g ada yg salah sangka. Walaupun sama-sama Wapres, kasusnya berbeda 🙏🏼