Ruwetnya jadwal KRL akhir akhir ini sudah di prediksi KAI ๐
Tahun 2023 KAI melaporkan ke DPR, meminta import kereta dari Jepang untuk penambahan armada.
DPR menolak dan minta KAI memesan kereta buatan lokal, INKA.
KAI menjelaskan INKA belum siap infrastruktur nya karena baru pindah pabrik, sedangkan DPR yg modal ngotot doang mengatakan jika INKA sudah siap sejak 2021.
Hasilnya kereta buatan INKA anjlok 2x dalam sehari dan berakhir 7 rangkaian masuk ICU.
Imbasnya, 17 perjalanan relasi Bogor-Jakarta Kota disesuaikan sampai 30 September.
12 Perjalanan dibatalkan dan 5 perjalanan jadwalnya disesuaikan. Beberapa kereta hanya bawa 8 rangkaian dari yg biasanya 12 rangkaian.
Penumpang makin menumpuk di setiap stasiun, penumpang didalam gerbong pun makin tergencet dan tergeprek ๐ฅ
Bapak/Ibu anggota DPR, Kalo ente tiap hari naik Alphard pake supir gausah sok sok an ngerti transum. kocak!
dprd kota malang sepakat menghentikan program makan bergizi gratis di kotanya:
- keputusan diambil setelah menerima aspirasi mahasiswa yang demo tanggal 15 juni 2026
- ketua dprd kota malang bilang mbg dihentikan
- karena dinilai belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat
- kota malang jadi kota pertama di indonesia yang ambil langkah menghentikan mbg
Update Peta Zona Merah Abu Vulkanik Anak Krakatau per 21:30 WIB
Welcome pendatang baru: Kambang, Kep. Seribu, Tangerang Raya (Semua), Jakarta (Soetta & Halim), Pangandaran, Patimuan, Kedungreja
SIGMET Alert via InaSIAM @infoBMKG
Start tanggal 16 agustus finish di tanggal 19 Agustus๐, edyann 1500km carita banten-banyuwangi disikat 3hari.
Congrats mas zidan warga swissdarjo๐ค
Anak gue gak ikut study tour ke Bali, biayanya Rp5,8 juta per anak buat lima hari. Dari 32 anak di kelasnya, cuma tiga yang gak ikut, dan anak gue salah satunya. Di grup wali murid gue sempet disindir halus, katanya kasihan anaknya nanti gak punya kenangan. Anak gue bahkan sempet nangis dua hari, dan itu yang paling berat buat gue. Tapi ada satu percakapan sama wali kelasnya yang bikin gue tetap yakin sama keputusan ini.
Gue tulis pertimbangan gue di sini buat orang tua lain yang mungkin lagi ada di posisi yang sama. Ini bukan sekadar soal mampu atau gak mampu, karena sebenarnya gue masih bisa usahain kalau dipaksain. Ada lima hal yang gue pertimbangin, dan yang kelima justru paling gak kepikiran sama gue sebelumnya. Malah datangnya dari wali kelas sendiri.
Pertama, gue hitung dulu Rp5,8 juta itu setara apa buat kondisi keuangan keluarga gue. Penghasilan gue sama suami kalau digabung Rp9,4 juta sebulan, sementara pengeluaran wajib Rp7,1 juta. Jadi sisa Rp2,3 juta per bulan. Artinya, Rp5,8 juta itu setara sekitar dua setengah bulan sisa tabungan kami. Bukan gak mampu, tapi setelah itu tabungan kami bakal kosong selama tiga bulan ke depan.
Kedua, gue cek isi acaranya, bukan cuma lihat nama tempatnya. Lima hari itu ternyata dua hari habis buat perjalanan bus pulang-pergi, jadi efektif cuma tiga hari. Dari tiga hari itu, dua harinya kunjungan ke tempat wisata umum dan satu hari ke museum. Bagian edukasinya cuma sehari, sisanya jalan-jalan yang sebenarnya masih bisa dilakukan kapan aja.
Ketiga, gue tanya wali kelas apakah kegiatan ini wajib atau opsional. Katanya opsional, dan anak yang gak ikut tetap masuk sekolah dengan kegiatan pengganti. Gue tanya lagi kegiatannya apa, jawabannya proyek kelompok di perpustakaan. Gak ada nilai yang hilang dan gak ada materi yang ketinggalan buat anak yang gak ikut.
Keempat, gue tanya tiga orang tua yang anaknya ikut tahun lalu. Dua bilang anaknya senang, satu bilang anaknya malah stres karena banyak yang bawa uang jajan dalam jumlah besar. Anaknya bawa Rp300 ribu, sementara ada temannya yang bawa sampai Rp1,5 juta, akhirnya dia jadi minder. Jadi biaya Rp5,8 juta itu ternyata belum termasuk uang jajan yang bisa jadi perbandingan sosial tersendiri.
Kelima, dan ini yang paling gak kepikiran sama gue, gue tanya wali kelasnya soal anak-anak yang gak ikut. Katanya tiap tahun selalu ada sekitar tiga sampai lima anak yang gak ikut, dan itu normal. Yang biasanya bikin anak sedih bukan karena gak ikut, tapi cara orang tua menyampaikannya. Kalau dibilang gak mampu, anak bisa nangkepnya sebagai โkeluarga kita miskinโ dan akhirnya malu.
Wali kelasnya nyaranin cara penyampaiannya dibikin beda, dan gue langsung coba malam itu juga. Gue bilang ke anak gue, kita lagi nabung buat sesuatu yang manfaatnya lebih lama. Gue kasih pilihan: uangnya dipakai buat study tour lima hari, atau buat les yang dia mau selama setahun. Anak gue pilih les gambar, karena memang udah lama dia minta dan selalu gue tunda.
Les gambarnya Rp350 ribu sebulan. Setahun jadi Rp4,2 juta, masih di bawah biaya study tour Rp5,8 juta. Sisa Rp1,6 juta gue simpan buat perlengkapan gambarnya selama setahun. Anak gue berhenti nangis begitu dia merasa dia yang memilih, bukan karena dia kekurangan. Itu yang dimaksud wali kelasnya: bedanya ada di apakah anak dikasih pilihan atau cuma dikasih kabar buruk.
Empat bulan berjalan, dia udah ikut dua lomba gambar tingkat kecamatan dari les itu. Teman-temannya yang ikut study tour juga udah gak ngomongin Bali lagi setelah dua minggu.
Gue gak bilang study tour itu buang-buang uang. Buat sebagian keluarga, mungkin memang worth it banget. Yang mau gue sampaikan, coba cek dulu lima hal tadi sebelum memutuskan buat maksa ikut atau langsung nolak mentah-mentah.
Kalau lo lagi ada di posisi yang sama, tanya wali kelas tiga hal ini dulu: ini wajib atau opsional, kegiatan penggantinya apa, dan biasanya berapa anak yang gak ikut tiap tahun. Tiga jawaban itu biasanya udah cukup buat bantu lo mutusin tanpa perlu nanya-nanya di grup wali murid.
Karena yang paling menentukan bukan anak ikut atau enggaknya, tapi gimana cara lo ngomong ke anak setelah keputusan itu dibuat.