Keluhan seperti ini cukup banyak muncul dari orang tua dan guru.
Tapi apakah hilangnya ranking dan UN benar-benar menjadi penyebab anak kehilangan motivasi belajar?
Berbagai penelitian dalam bidang pendidikan justru menunjukkan fenomena yang agak kompleks.
Anak biasanya termotivasi oleh tiga hal:
1. Kompetensi -> merasa dirinya makin mampu.
2. Otonomi -> merasa punya kendali atas proses belajar.
3. Keterhubungan -> merasa dihargai dan menjadi bagian dari kelompok.
Ranking dan ujian nasional memang bisa menambah motivasi, tetapi melalui kompetisi eksternal. Masalahnya, efeknya tidak bisaa sama untuk semua anak.
Sebagian anak jadi lebih semangat.
Sebagian lagi justru merasa "saya memang bodoh" lalu menyerah.
Yang berada di peringkat bawah terus-menerus sering kehilangan kepercayaan diri.
Di sisi lain, menghapus ranking saja juga tidak akan otomatis membuat anak menjadi termotivasi.
Karena motivasi belajar tidak bisa hidup hanya dengan slogan "belajarlah untuk masa depan", namun, anak perlu:
-> target yang jelas,
-> tantangan yang pas,
-> umpan balik yang cepat dan mudah dimengerti serta ditindaklanjuti,
-> rasa kemajuan (sense of progress) yang terlihat.
Menariknya, game memang sangat jago melakukan itu semua. Di game ada level, ada progress bar, ada badge, ada leaderboard, ada misi harian, ada tantangan yang meningkat sedikit demi sedikit, dan pernak-pernik game lainnya.
Sekolah sering menghapus leaderboard, tetapi lupa menggantinya dengan sistem kemajuan yang sama menariknya.
Menurut saya, perkaranya bukan apakah kita perlu mengembalikan UN dan ranking, tapi
> "Bagaimana membuat siswa merasakan kemajuan, tantangan, dan pencapaian setiap hari seperti saat mereka bermain game?"
Anak-anak zaman sekarang bukan anti-kompetisi. Buktinya mereka rela begadang demi naik rank di mobile legend.
Mungkin mereka kurang bisa melihat progress dalam belajar.