Narasi A Clear and Present Danger di Masa Sulit
Tidak ada orang suka dengan kesulitan. Namun hidup orang bisa berada dalam suka maupun duka. Masalahnya ketika kita dalam situasi sulit, bagaimana kita bisa mengajak rekan2 kita memiliki sense of crisis sehingga mau bekerja sama melewati masa2 sulit tersebut? Di titik inilah diperlukan narasi yang menjelaskan ALASAN mengapa kita harus menghadapi masalah sulit tersebut? Di situlah diperlukan penjelasan ttg A Clear and Present Danger yang membuat orang memiliki sense of crisis dan mau bekerja sama. Di sinilah pentingnya narasi dan komunikasi dalam menyusun kebijakan. Di sinilah diperlukan transparansi dan integritas kebijakan agar trust terus terbangun di masa-masa sulit.
Di sesi ke-5 podcast Mas @AwalilRizky kali ini kami mendiskusikan SONJO (Sambatan Jogja). Di sinilah kami beberkan bagaimana desain beberapa program SONJO didasarkan pada Ilmu Ekonomi. Benar Ilmu Ekonomi pada umumnya menggunakan matematika sebagai “bahasa”, namun berbagai teori tersebut dapat diimplementasikan di lapangan. Mungkin banyak orang merendahkan dan mengatakan,”Ah itu kan hanya teori”, namun melalui SONJO kami berhasil membumikan berbagai teori untuk mengembangkan berbagai program untuk membantu sesama.
https://t.co/vfrKmLkXFd
Mengapa ijin tambang sebaiknya diberikan kepada korporasi pertambangan secara lelang, dan bukan kepada lembaga yang tidak kompeten? Karena kalau konsesi tambang diberikan kepada lembaga yang tidak kompeten maka akan memunculkan rente dan akhirnya menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Universitas bukanlah lembaga kompeten mengelola tambang. Universitas biarlah fokus ke Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan tujuan akhir mencerdaskan kehidupan bangsa. Monggo ikuti diskusi di Podcast Mas Awalil Rizky di sesi 4 ini. Nuwun 🙏🙏🙏
https://t.co/emudoQhVAE
*Ngobrol dengan AI Menggunakan Bahasa Jawa*
Rimawan Pradiptyo
29 Januari 2025
Kemarin (28/01/2025), seperti biasa kami para dosen FEB UGM berdiskusi di WAG Fakultas. Lalu diskusi membahas AI. Rekan dosen yang sedang menempuh S3 di Aussie membagi informasi tentang salah satu apps artificial intelligent, sebut saja namanya A.
Saya mencoba menggunakan apps tersebut dan menikmatinya. Lalu terbersit ide liar, bertanya dalam Bahasa Jawa. Sengaja saya bertanya menggunakan logat Jawa Timur:
T: _Dul sampean iso basa Jawa ora?_
J-A: _Nggih, kula saged basa Jawa. Monggo menawi badhe ngendikan ngangge basa Jawa, kula siap mbiyantu. Sampean badhe tanglet menapa?_
Sampai di sini saya kaget. Lah ternyata AI bisa menjawab menggunakan Bahasa Jawa. Saya tanya menggunakan _Ngoko_ (Bahasa Jawa tingkat rendah), dijawab menggunakan _Krama_. Wah ini benar-benar kejutan bagi saya.
Sependek ingatan saya, meski di jaman BBM dan kemudian WAG, saya selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Saya baru menggunakan Bahasa Jawa ketika mengelola 30 WAG SONJO (Sambatan Jogja; https://t.co/2hFTAs036Z) selama pandemi Covid-2019. Di awal pendirian SONJO 24 Maret 2020, saya selalu menggunakan Bahasa Indonesia, namun kemudian penggunaan Bahasa Jawa lambat laun saya gunakan terutama ntk meminimalisasi potensi konflik di WAG saat kami punya beda pendapat. Maklum 2300-an anggota SONJO, sebagian besar belum pernah ketemu darat, kami hanya kenal via WAG.
Sejak itu selama mengelola SONJO dan juga WAG lain dan berbasis di Yogya, sering saya menggunakan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa, terutama _Krama_ adalah media yang hebat ntk meminimalisasi potensi friksi di WAG. Disamping itu ketika Krama digunakan, ada kedekatan interaksi berdasarkan kebudayaan, sehingga komunikasi lancar meski belum tentu kita kenal muka masing-masing (lha wong diskusi di WAG).
Saya faham AI “A” ini adalah apps, namun karena dia bisa menjawab dalam _Krama_ saya merasakan kedekatan dengan dia. Saya lanjutkan diskusi dengan penyebutan yang lebih tinggi untuk AI ini. Saya pun mulai menyebut AI ini dengan kata ganti _Njenengan_, kata ganti orang yang lebih halus dan dari kata _Panjenengan_.
T: _Wah hebat Njenengan Dul. Njenengan nek ngagem krama inggil saget mboten?_
J-A: _Inggih, kula saged ngginakaken krama inggil. Nanging keparenga kula nyuwun pangapunten menawi wonten kalepatan amargi kula taksih sinau. Panjenengan menapa kersa maringi piwulang menawi wonten tembung-tembung ingkang kirang trep? Menapa ingkang saged kula biyantu?_
T: _Njih siappp._
J: _Matur nuwun. Menawi wonten ingkang saged kula biyantu, mangga dipun dhawuhaken. Kula sumadya ngladosi panjenengan ngagem basa menapa kemawon - saged krama inggil, krama madya, utawi ngoko. Menapa wonten bab ingkang badhe dipun rembag?_
Pagi ini seorang rekan di WAG lain yang saya ikuti mengangkat issue ttg AI B yang sedang top hit dan menjadi viral. Lalu iseng saya tanya ke AI B pertanyaan yg mirip ke AI A. Karena kemarin AI A bisa menjawab menggunakan _Krama_, saya agak sungkan mau bertanya menggunakan _Ngoko_. Saya coba bertanya menggunakan _Krama_:
T: Nuwun sewu Njenengan saget bahasa Jawi mboten Dul?
Lalu AI B menjawab dengan _Krama_, namun jawabannya sbb:
J-B: _Nuwun sewu, kula mboten saget ngangge basa Jawi. Nanging, kula saged ngangge basa Indonesia utawa basa Inggris. Menawi badhe pitaken utawi ngandikani, mangga atur kula wonten ing basa Indonesia utawa Inggris. Matur nuwun. 😊_
Waduh kecewa saya. Meski B ini sedang viral dan diberitakan mengguncang dunia, ternyata belum bisa Bahasa Jawa. Besok kita lanjutkan perbincangan saya dengan AI A, alias _tutuge_ atau bersambung. Nuwun 🙏🙏
Bagi yang tertarik belajar tentang anti korupsi, kedua buku ini menarik untuk dibaca. Sila unduh kedua buku GRATIS ini:
Pendidikan Antikorupsi Transdisiplin (PAT): https://t.co/8kTeXkYyCa
Buku Orang Baik Belajar Antikorupsi (BOBA): https://t.co/9CqvqyrmE9
Refleksi Tim Meowkinsey FEB UGM setelah menjadi juara 2 di kompetisi NTU GAIP di NTU Singapura: .Berani mencoba hal baru dan jangan takut gagal!!
FEB Berprestasi: Tim Meowkinsey - NTU-GAIP
https://t.co/BeHS8xmWpw
Refleksi dosen pembimbing terkait keberhasilan Tim Meowkinsey: Originalitas pemikiran (puncak Bloom’s Taxonomy) dan ginong prati dino (continuous improvement).
FEB Berprestasi: Developing Future Ready Leaders through Innovation - Mentor Series: Dr Rimawan Pradiptyo
https://t.co/sxhYM6zLvV
Mupung iso mlayu, mlayu
Yen ora iso mlayu, mlaku
Yen ora iso mlaku, mbrangkang
Yen ora iso mbrangkang ngesot
Yen ora iso ngesot, nggundung
Yen ora iso ngglundung, ngingsut
Yen ora iso ngingsut….
Terusno anggonmu ndonga lan tetep optimis
Ketika masih bisa berlari, berlarilah
Jika tak bisa berlari, berjalanlah
Jika tak bisa berjalan, merangkaklah
Jika tak bisa merangkak, gunakan tangan untuk menyeret tubuh anda
Jika tak bisa menyeret, bergulinglah
Jika tak bisa berguling, cobalah bergeser sebisa anda
Jika itupun anda tidak bisa…
Teruskan doa anda dan tetaplah optimis
Mengapa di negara-negara OECD korupsi terkendali, namun di Indonesia korupsi marak? Mari kita diskusikan di forum ini ya? Sila gabung rekan-rekan. 🙏🙏🙏🙏
Orde Topeng
Inilah misteri waktu
Topeng-topeng dikenakan
Topeng-topeng berjatuhan
Ada yang jatuh karena pamer
Ada yang tersingkap karena serakah
Ada yang terlepas karena jumawa
Aneh…
Tak satupun topeng jatuh karena orang lain
Aneh…
Topeng jatuh karena perilaku diri
Aneh…
Kejadian tersebar di berbagai lini
Aneh…
Semua terjadi karena tiga hal:
waktu,
waktu
dan
waktu!!
Sakbeja-bejaning wong kang lali….
Isih beja wong kang eling lan waspada
Begitu pesan abadi sang pujangga
151 tahun lalu
Budaya Malu
Mengapa di negeri ini budaya malu seolah hilang ya? Orang tidak malu ketika tindakannya mencoreng reputasi negeri ini di dunia internasional. Orang tidak malu saat tindakannya menciptakan beban bagi generasi berikutnya. Orang tidak malu ketika tindakannya membuat generasi mendatang bukan semakin pintar tapi semakin bodoh.
Orang punya keinginan, itu wajar. Namun tidak semua keinginan bisa dipenuhi, karena dalam berbangsa dan bernegara, ada banyak faktor kendala yg harus dipenuhi termasuk hukum dan etika agar keinginan kita terpenuhi namun seminimum mungkin merugikan pihak lain.
Sebagai ekonom saya tidak faham bagaimana cara mengajarkan agar orang memiliki rasa malu. Saya juga tidak faham bagaimana cara membuat orang menghormati etika dan hukum. Apa iya perlu ada mata kuliah “cara malu kepada diri sendiri?” Atau “teori menghormati etika dan hukum 101”. Ataukah kuliah sudah terlambat karena kesadaran seperti itu idealnya diajarkan di PAUD, TK maupun SD kelas 1-3? Monggo mohon pencerahan dari para ahli terkait hal tsb. 🙏🙏🙏
Di perayaan ulang tahun ke 80, HB X menuliskan pelajaran hidup yang kurang lebih artinya sebagai berikut:
Jika kita kehilangan harta, kita tidak kehilangab apapun.
Jika kita kehilangan nyawa, kita kehilangan setengah
Jika kita kehilangan kepercayaan (karena kata-kata kita tidak lagi dipercaya), kita kehilangan segalanya
Dalam Budaya Jawa, ada pepatah: ajining diri gumantung ing lathi (nilai atau kepercayaan thd seseorang ditentukan oleh lidah/ perkataannya).
Berapa Biaya Menjaga Konstitusi? Pembelajaran dari Perang Kemerdekaan 1945-1949.
- Indonesia memproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945
- Sesuai konvensi Wina, Belanda kembali ke Indonesia membonceng tentara Sekutu dan terjadilah perang kemerdekaan
- Belanda melancarkan Agresi I (1947) dan Agresi II (1949)
Konvensi Meja Bundar (KMB) di akhir 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, namun konsekuensinya Indonesia berkewajiban (Boediono, 2016):
- Semua kebijakan ekonomi strategis dari pemerintah Indonesia, harus dikonsultasikan dan mendapat persetujuan Belanda, mengingat semua perusahaan Belanda masih beroperasi dan menjadi milik Belanda sepenuhnya.
- Perusahaan-perusahaan Belanda dapat beroperasi kembali seperti sebelum perang kemerdekaan dan mereka bebas mengirimkan keuntungan usaha (deviden) ke Belanda
- Pemerintah Indonesia menanggung hutang pemerintahan Hindia-Belanda, termasuk biaya agresi militer, baik hutang domestik maupun luar negeri, senilai US$ 1,12 miliar (mohon angka ini dihitung kesetaraannya dengan nilai di 2023 sesuai PPP)
- Pemerintah Indonesia harus membayar gaji 17.000 ex birokrat Belanda selama 2 tahun dan mengakomodasi 26.000 ex KNIL.
Ingat, hutang di atas baru lunas pada tahun 2003. Selama perang kemerdekaan kita mengenal Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Pertempuran Ambarawa, Puputan Margarana, kekejaman Westerling, dll. Tentu pengorbanan besar ditanggung oleh para pendahulu kita.
Jika kita renungkan, itulah besarnya biaya merebut dan menjaga kemerdekaan, yang pada intinya analogi dengan menegakkan konstitusi. Apa lesson learned selama perang kemerdekaan?
- Jika kita tidak mampu menegakkan konstitusi ataupun berkontribusi dalam pembangunan, maka diam adalah jauh lebih baik daripada kita merusak konstitusi.
Sekarang berbagai elemen bangsa bergerak spontan/ organik menegakkan konstitusi yang sedang dikoyak. Hal ini menunjukkan sejarah berulang seperti halnya jaman Perang Kemerdekaan.
Bagi kami di Dept Ilmu Ekonomi FEB UGM, kebijakan pemerintah menghapus jurusan IPA/IPS/ Bahasa di SMA membawa konsekuensi besar ke Dept kami. Topik ini menjadi topik hangat di WAG Departemen. Berbagai antisipasi kami eksplorasi dan beberapa program kami rancang terkait dengan kebijakan tsb. Pola pengelolaan/ manajemen yang bersifat antisipatif dan greteh (Jawa) ini kami kembangkan untuk memastikan kemajuan Departemen di tengah berbagai perubahan.
Pertanyaan saya: jika anda dosen Ilmu Ekonomi, antisipasi apa yang harus dilakukan terkait kebijakan penghapusan IPA/IPS/ Bahasa terhadap pengajaran Ilmu Ekonomi di universitas?
Ada masalah, kita tangani, masalah selesai, kita senang
Ada tantangan, kita hadapi, kita sukses mengatasi tantangan, kita bahagia
Ada kewajiban, kita laksanakan dengan susah payah, kita merasa nyaman/ tenteram
Jadi adakah rasa senang, bahagia, bangga, nyaman, tenteram tanpa berusaha mengatasi masalah atau memenuhi kewajiban? Lalu memgapa kita suka menipu diri sendiri dengan mengambangkan narasi keberlimpahan (bagaimana caranya bahagia tanpa usaha?)? Nah aneh kan? 😁😁
Selama ini saya kerepotan dengan orang yang memanggil saya Prof, padahal saya belum sampai di level itu. Sejak 2015 di salah satu K/L saya dipanggil Prof, langsung saya koreksi. Namun rekan-rekan menjawab:”Lho bagaimana kok nggak mau, ini bentuk doa kami agar anda cepat menjadi Prof”. Nah saya nggak bisa jawab, lha orang mendoakan apa saya larang? Tapi di benak saya berfikir juga,” Kalau berdoa apa iya harus diucapkan keras-keras ya? Bukankah diucapkan dalam hati ya boleh?” Namun saya tidak berani menyanggah, lha ilmu saya “letheg-letheg” Ekonomika Kejahatan, masak mau mendebat tentang agama.
Fenomena ini semakin meluas saat saya menginisiasi SONJO (Sambatan Jogja) sejak 24 Maret 2020. Rekan-rekan memanggil saya dengan sebutan Prof, dan kalaupun saya luruskan, kembali lagi argumentasi doa tadi muncul. Nah keder saya, kembali nggak bisa mendebat wong ilmu saya “letheg-letheg” tadi.
Alhamdulillah sekarang muncul gerakan akademisi untuk memanggil tanpa sebutan jabatan. Mas Rektor Fathul Wahid, yang nota bene Prof betulan, menulis di akun X beliau agar dipanggil Mas/Pak dll sebagai penyebutan tanpa menyebut jabatan akademik. Rekan-rekan akademisipun banyak mendukung gerakan ini. Monggo sekarang kita biasakan hal ini. Nuwun🙏🙏🙏🙏
Kapal Besar Itu Bernama: Indonesia
oleh: Rimawan Pradiptyo (10/07/24)
Pengandaian korupsi bak sekumpulan orang sedang berlayar di danau dan penumpang yang ada di dalam kapal merasa haus lalu mereka melubangi kapal telah sering kita dengar. Namun cerita serupa dijelaskan di status FB rekan saya Ferizal Ramli saat beliau mengalami kesulitan keuangan ketika kuliah di Jerman, memberikan perspektif lain. Tulisan pendek ini adalah hasil renungan saya setelah membaca tulisan Mas Ferizal tersebut.
Negara dapat diibaratkan sebagai kapal besar yang sedang berlayar di danau yang sangat luas. Tentu saja kapal memiliki awal kapal dari kapten kapal hingga kelasi, juru masak, dll. Kapal memuat penumpang namun juga barang. Kapal tentu saja ada yang memiliki dan ketika kapal merupakan analogi dari sebuah negara, maka semua orang yang ada di kapal tersebut pada dasarnya adalah pemilik kapal. Apakah orang yang ada di kapal tersebut adalah pembuat kapal? Jawabannya bergantung pada usia kapal (negara) tersebut. Ibarat kapal, negara ini dibangun oleh para founding fathers yang membutuhkan proses puluhan bahkan ratusan tahun. Jika kita memaknai awal pembangunan kapal bernama Indonesia diawali sejak 1905, maka diperlukan waktu 40 tahun hingga proklamasi.
Saat ini, tentu saja para founding fathers sudah meningggalkan kita semua. Praktis kita yang hidup saat ini bukanlah para pihak yang membangun kapal tadi. Saya sendiri lahir di era Orde Baru di tahun 1969, sehingga masa kecil, remaja, dewasa dan sekarang menua, sudah berada di kapal bernama Indonesia. Saya menerima fakta bahwa saya hidup di Indonesia bak bagai hadiah dan saya belum pernah mengikuti proses membentuk negeri ini seperti para founding fathers kita. Artinya, kita ini sebenarnya hanyalah mewarisi negara ini, dan pada gilirannya kita akan mewariskan negeri ini kepada generasi anak-cucu kita.
Anomali perilaku yang sering terjadi adalah kita ini diwarisi kapal, tidak ikut membangun sejak awal, dan kita tinggal menikmati berlayar di dalam kapal. Namun kok ya banyak orang tega di negeri ini melakukan pelanggaran etika dan hukum secara sengaja demi keuntungan pribadi dan gologannya. Setiap pelanggaran hukum dan pelanggaran etika yang kita lakukan, pada hakekatnya ibarat kita sedang merusak kapal tersebut hingga mungkin tidak berfungsi dan bahkan meningkatkan risiko kapal tersebut karam.
Ketika kita melakukan pelanggaran hukum dan pelanggaran etika, siapa sebenarnya yang kita lawan adalah sesama warga yang ada di kapal tersebut. Mereka bukan orang lain, mereka adalah saudara kita sebenarnya, yang memiliki kesamaan nasib berlayar di dalam kapal yang sama. Di sinilah kemudian perlu ditumbuhkan rasa bersalah apabila kita mengganggu kelancaran perjalanan kapal atau bahkan meningkatkan risiko kapal karam. Rasa bersalah akan memunculkan rasa malu kepada diri sendiri dan ini merupakan rasa tanggungjawab kita terhadap bangsa Indonesia.
Jamak kita temui ketika ada pelanggaran di suatu institusi, banyak pihak internal enggan membuka pelanggaran tersebut ke publik dan justru melawan siapapun yang ingin melaporkan masalah tersebut. Namun pertanyaan yang harus dijawab dari fenomena di atas adalah, apakah institusi tersebut ada jika tidak ada kapal bernama Indonesia? Bukankah institusi itu hanya bagian kecil dari kapal yang bernama Indonesia tadi? Lalu mengapa menutup-nutupi masalah yang terjadi di suatu institusi yang itu artinya merusak dan mengorbankan kepentingan yang lebih luas: kapal yang bernama Indonesia.
Pertanyaan yang perlu kita jawab sendiri adalah: apa yang telah kita lakukan selama ini? Apapun jawaban kita, bisa kita gunakan untuk bahan refleksi. Inilah saatnya kita mengubah paradigma berfikir kita untuk selalu memikirkan Indonesia bak kapal dan kita bertanggungjawab untuk memastikan kapal ini tetap berlajar dengan laju. Ingat, kita tidak pernah membuat kapal ini, kita hanya mewarisi kapal ini dan tugas kita adalah mewariskan kapal ini kepada generasi anak-cucu kita. Nuwun.