Pangku bukan sekadar cerita tentang kehidupan di jalur Pantura. Film ini membuka jendela ke realitas yang sering disederhanakan,tentang tubuh perempuan, kemiskinan, relasi kuasa, dan rapuhnya konstruksi maskulinitas di masyarakat kita.
Dari kejadian ini pun aku lebih banyak bersyukur, Semua org masih baik ke aku. Semua peduli, Orang tua, sahabat, bahkan teman kerja.
Ada satu lagi yg aku pelajari bahwa segala sesuatu yang berat, coba utarakan.
Sisanya, mari terus mencoba untuk terus berbahagia :)
Mungkin ini hikmahnya, ada yang pergi biar aku didektkan lagi dengan orang tua dan tuhan. Segala buruk ada baiknya, segala pergi ada gantinya. Dunia masih luas, hidup masih panjang. Cepat tidaknya sembuh, kita jalani saja.
Usai ngeluarin segala keluh kesah, aku tidur. Ada pikiran tenang. Segala beban seperti dikeluarkan. Lampu sudah dimatikan, bapak tiba2 ke kamar, membawa sepotong es cream dingin. Tertawa sambil bilang “nih, obat biar ketawa” dalam bahasa jawa. Aku nangis :’)
Ikhlas kehilangan memanglah sudah ikhlas, tapi dari sekian hari menangis tanpa tahu alasannya, ternyta yang aku butuhin cuman didengar. Dan orang tuaku saat ini jawabannya. Tempat dimana aku tidak dihakimi, bebas bercerita, dirangkul badan dan pikiran. Semuanya.
Obrolan kita dibalut dengan beberapa wejangan hidup kedepan, bahwa manusia pun bertemu dengan alasan, berpisah pun dengan alasan. Segalanya yang baik akan kmbali dgn yg baik, jdi diterima saja semuanya. Diambil saja hikmahnya. Yang penting kita sudah baik ke dia. Semampunya.
Sepanjang cerita ibu bapak tidak menghakimi siapa yang benar siapa yang salah, tidak pula membela siapa yang baik siapa yang buruk. Manusia bertumbuh, pun berubah. Manusia datang, pun ada yang pergi. Ibu bapak lagi lagi menenangkan dengan rasa kasih dan sayang.
Dari semua yg aku ceritakan, ibu cuman jawab satu kalimat, “nduk, jangan sedih sendirian, kalau mau pulang, pulang aja yah.” di malam itu, di hari yang sama, aku pesan tiket dan berkemas. Rasanya di minggu itu, pertama kalinya aku ngerasa sudah ada sedikit semangat. 🥹
Tangis. Tiba2 air mata keluar. Sudah seminggu lebih aku nangis tapi ngga ngerti kenapa. Tapi saat ibu tanya pertanyaan itu, nangisku ada alasannya. Ada sedikit tenang. Seperti rasanya berlabuh di dermaga terakhir. Aku bercerita…semuanya.
Besoknya, seperti tidak ada apa2, kita makan dan sarapan seperti biasanya, menonton tv, sampai sore menunggu bapak pulang kerja. Selesai makan dengan ibu bapak, Ibu membuka kalimat dengan “gimana kabarmu nak? Sudah enak hatinya?” Dalam bahasa jawa.
Dini hari, kereta sudah sampai di tujuan akhir. Bapak ibu sudah menunggu di gerbang. Disambut dengan peluk, cium, salam. Tidak ada tanya bagaimana dan kenapa, pulang langsung tidur dengan perasaan yang sudah sedikit tenang.
Pulang dengan hati yang kosong, duduk di gerbong kereta yang sepi. Sesekali menahan tangis sewaktu “relapse” after breakup datang. Kenangan yang tiba2 muncul meski orangnya sudah tidak ada. Pandangan memang di jendela, tapi air mata menemai perjalanan di sepanjang pulau jawa.
Sebenrnya, aku sudah sedikit banyak cerita mengenai masalahku ke orang tua. Bapak ibuku tidak menghakimi apapun, atau membela pihak manapun. Beliau berdua pure mendengarkan semua keluh kesah yang aku tangisi beberapa waktu kemarin.
“To love and lose, and still be kind”
.
.
Kemarin, aku sempet ngalamin beberapa kejadian yg bikin aku sedih. Salah satunya perihal kehilangan di hubungan. Long short story, aku mutusin untuk pulang kampung sejenak buat nenangin pikiran yg kayaknya udah ga bisa dihadapi sendirian.