Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
di saat rupiah anjlok 1 USD: 17.720, prabowo tetap pertahankan program MBG. sedangkan habibie memilih mengubur mimpinya untuk pesawat N250, demi stabilitas ekonomi indonesia.
"saya mengalah untuk menang, yang menang itu siapa? rakyat" (Habibie)
sederhana tapi prabowo ga bisa
Dollar udh mau 20k, program ga becus masih jalan semua, aktivis diserang, media dibungkam, sibuk kunjungan kesana kemari, join BOP, etc. Bener kok berproses, berproses ngancurin negara dan rakyatnya
DILAPORKAN: Setelah tadi malam dijaga Dishub dan dipasang palang pintu manual. Terlihat pada tadi sore, Perlintasan Kereta Ampera kembali dijaga orang tidak berseragam alias
Dari kejadian kemaren, kita tidak belajar apa apa.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
Guys, Michael Yoh trader dan investor yang sudah 14 tahun di pasar modal baru sharing sesuatu yang jarang banget orang berani ngomong jujur kayak gini di depan publik.
Dia pernah rugi hampir 1 miliar dalam satu hari.
Bukan floating minus realize.
Uangnya beneran hilang.
Dan reaksinya? Dia pergi ke gereja, buka pintunya masih tutup, duduk di situ sendirian, nangis, dan muntah-muntah sampai kosong.
Bukan lebay itu respons tubuh manusia normal ketika mental sudah melewati batas yang bisa ditanggung.
Tapi yang paling menarik bukan cerita sedihnya. Yang paling menarik adalah apa yang dia pelajari dari situ.
Dia bilang tidak ada satupun angka di dunia ini yang worth ditukar dengan kesehatan mental sampai muntah kosong.
Dan dari titik itu dia mulai belajar sesuatu yang jauh lebih penting dari semua analisis teknikal dan fundamental yang pernah dia pelajari yaitu emotional intelligence terhadap uang.
Dan ini sangat relevan dengan kondisi sekarang guys. Pasar global lagi chaos.
Perang Iran makin melebar, Irak sudah masuk, Kuwait keluarkan panduan nuklir, carrier Amerika mundur, harga minyak meledak, IHSG sudah turun jauh dari puncaknya.
Di kondisi seperti ini banyak banget orang yang panic selling, panic buying, atau yang paling berbahaya melakukan revenge trading karena tidak terima rugi dan mau balik modal secepat mungkin.
Michael bilang itu adalah jebakan paling mematikan. Ketika lu rugi besar dan langsung masuk lagi dengan energi ketakutan dan dendam lu tidak trading dengan logika, lu trading dengan trauma. Dan pasar tidak peduli sama sekali dengan perasaan lu. Market tidak akan naik hanya karena lu butuh balik modal bulan ini untuk bayar cicilan.
Yang dia temukan setelah 14 tahun adalah satu kesamaan dari semua investor yang berhasil dengan metode apapun emotional intelligence-nya terhadap uang sudah matang. Mereka sudah selesai dengan dirinya sendiri. Uang buat mereka hanya angka, bukan harga diri, bukan pembuktian ke orang lain, bukan obat FOMO.
Dan di kondisi geopolitik sekarang yang penuh ketidakpastian ekstrem ini Michael justru melihat opportunity besar di satu tempat yang banyak orang abaikan. Saham-saham dividen.
Bank Mandiri di bawah 4.000 itu yield dividennya bisa double digit.
UNTR, Astra, Telkom, Adaro semua dalam kondisi harga yang sangat menarik secara historis.
Bukan karena marketnya bagus, tapi justru karena marketnya lagi jelek dan harganya sudah sangat murah relatif terhadap fundamentalnya.
Intinya guys di tengah situasi global yang makin tidak terdugaeperti sekarang, senjata paling penting yang harus lo punya bukan sinyal saham, bukan kelas trading mahal, bukan insider info.
Senjata paling penting adalah kejernihan mental untuk tidak membuat keputusan finansial besar berdasarkan ketakutan, FOMO, atau dendam.
Karena pasar bisa salah lebih lama dari yang lo bisa bertahan secara finansial dan mental. Dan muntah kosong di depan pintu gereja yang terkunci itu adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar hanya demi membuktikan bahwa prediksi lo benar.
Cowokku non perokok. Hidup minus, membayar utang bank keluarganya yang sekarang udah gak kerja. Sandwich gen, cowok Bugis yg bergelut dengan panaik, freelance yang gajinya gak pasti.
Tapi, gajian pertama dia yang nyentuh UMR dipakai buat traktir aku sushi yang 100k+ itu.
Cowokku gak perlu rokok untuk cari ide, semangat, kuat, tahan banting, dan jadi Ultraman. HE HAS HIS BOOK, BRAIN, BRAVE, AND RESPONSIBILITY TO BE AN ULTRAMAN ❤️
Temen gue cowok. Sebut aja Rama.
Dia ngerokok udah dari SMA. Bukan perokok berat tapi konsisten. Sebungkus bisa 3-4 hari. Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan? Lumayan juga.
Terus dia punya pacar. Dan pacarnya ini tipe yang natural banget paling pol makeupnya bedak sama lip balm. Nggak pernah minta apa-apa, nggak pernah nuntut dibeliin ini itu.
Justru itu yang bikin Rama kesambet.
Suatu hari dia ngitung-ngitung sendiri.
Uang rokok sebulan sekitar 150 sampai 200 ribu. Kecil memang. Tapi dikali 12 bulan? Hampir 2 juta lebih. Habis begitu aja. Dibakar. Literally dibakar.
Dan dia mikir "Duit segitu bisa buat beliin cewe gue skincare yang dia sendiri nggak pernah minta."
Bukan karena disuruh. Bukan karena ada perjanjian apapun.
Rama mutusin sendiri buat berenti ngerokok. Pelan-pelan. Mulai ngurangin sebatang demi sebatang. Dan uang yang biasanya kepake buat rokok dia simpen.
Sebulan pertama berat. Tangannya sering nggak ada kerjaan. Mulutnya pengen ngisep sesuatu. Tapi setiap kali pengen nyerah, dia inget ngapain dia lakuin ini.
Tiga bulan kemudian dia beliin cewenya skincare pertama.
Bukan yang mahal-mahal. Tapi dipilihin sendiri, riset sendiri, tanya-tanya sendiri mana yang cocok buat jenis kulit cewenya.
Cewenya nangis waktu nerima. Bukan karena barangnya. Tapi karena tau dari mana uangnya.
Dan ini yang bikin gue respect sama Rama
Dia nggak jadiin ini bahan drama. Nggak posting di mana-mana. Nggak minta pujian.
Dia cuma bilang ke gue waktu gue tanya kenapa tiba-tiba berenti ngerokok
"Gue mau ngasih sesuatu yang lebih berguna dari asap."
Di tengah banyaknya cerita cowok yang ngitung-ngitung pengorbanan dan minta balasan Rama cuma diem dan lakuin.
Ada bangunan kost di daerah kampus Jogja dijual seharga Rp8 Miliar. Kos itu umurnya udah puluhan taun, bangunannya jelek dan sering kosong karena kalah bersaing sama kos2an lain yang lebih modern.
Orang yang ga punya pengetahuan finance dasar tanpa pikir panjang bakal beli buat penghasilan pasif.
Sedangkan kita yang ngerti langsung bikin itungan kasar di kepala.
Harga kostan Rp8 Miliar, biaya renov biar jadi kost eksklusif Rp2,5 Miliar, total capital expenditure Rp10,5 Miliar.
Rencananya, kita mau bikin 20 kamar kos, per kamar disewain Rp2juta sebulan jadi kalo penuh terus dalam setaun kita dapat Rp480 juta.
Untuk bayar penjaga, listrik, sampah, dan cadangan biaya renov, kita perkirakan 30% dari total pendapatan Rp480 juta, sisa keuntungan bersih jadi Rp336 juta setahun.
Untuk menghitung yield investasi, kita bagi antara pendapatan per tahun dengan CAPEX, jadi Rp336 juta / Rp 10,5 miliar, ketemulah yield 3,2% per tahun.
Yield 3,2% ini jauh lebih rendah dari obligasi negara yang ngasih 6% setahun, padahal obligasi negara ini bisa dikatakan risk free asset, kemungkinan gagal bayar sangat kecil, kita juga ga perlu effort apapun buat dapat 6% itu.
Ada yang bilang, kalo bisnis rental properti keuntungannya bukan di yield tapi di kenaikan harga aset, pertanyaannya, dengan yield yang sekarang cuma 3,2%, siapa yang mau beli properti tersebut dengan harga tinggi dan dapat yield di bawah 3,2%?
Terus, berapa harga yang pantas untuk beli properti tersebut?
Bisa kita hitung dengan formula:
Yield yang kita syaratkan = risk free rate + risk premium
Misal risk premium 1%, berarti total yield yang kita syaratkan 7%. Untuk mendapatkan yield tersebut dengan asumsi keuntungan bersih Rp336 juta dan biaya renov Rp2,5 miliar, berarti harga tanah harus turun ke Rp2,3 miliar.
Buat mas mohan.
Ngacengan itu wajar, tapi ada otak bagian pre frontal buat ngontrol titit anda sehingga tidak memaksa orang buat kentu.
Sebagai orng yg mengenal sampean d skena brand lokal, jujur klarifikasi ente ngeselin.
Circlenya juga mengecewakan.
Terkesan Mewajarkan