Guys, lu pada tahu enggak ada yang baru terjadi di Indonesia yang menurut gue gila banget?
Bukan soal rupiah.
Bukan soal korupsi triliunan.
Bukan soal pejabat mewah.
Ini soal Josepha Alexandra siswi SMAN 1 Pontianak
yang viral beberapa waktu yang lalu
ada cerita dari keluarga
beberapa waktu setalah pulang dari lomba itu
banyak nomor asing masuk ke WhatsApp-nya.
Pesannya begini:
"Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi."
Seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau diketahui identitasnya, mengancam anak SMA lewat WhatsApp. Minta dia hapus video. Ancam somasi.
Siswi SMA.
Diancam somasi.
Karena mempertanyakan ketidakadilan di lomba cerdas cermat.
Dan ini yang paling menyayat hati dari seluruh kejadian ini:
Josepha stres berat.
Hari-hari tidur terus.
Pendiam.
Berubah drastis.
Dan di tengah semua tekanan itu dia bertanya kepada kakaknya:
"Kak, apa aku harus minta maaf?
Katanya aku yang bikin gaduh..."
Baca itu sekali lagi.
Anak yang diperlakukan tidak adil yang diancam lewat WhatsApp oleh pihak tak dikenal malah bertanya apakah dia yang harus minta maaf.
Karena sistem berhasil membuatnya merasa bahwa dia yang salah.
Bahwa dia yang bikin masalah.
Bahwa keberaniannya mempertanyakan ketidakadilan adalah sebuah kesalahan yang perlu dimintakan maaf.
Dan sementara Josepha stres di rumah apa yang dilakukan juri yang kontroversial itu?
Status WhatsApp-nya bocor ke publik.
Isinya: "Nggak akan bikin gue jatuh!"
Orang yang keputusannya dipermasalahkan pamer kekayaan di status WhatsApp.
Sementara anak yang mempertanyakannya stres dan tidur terus di rumah.
Ini bukan soal menang kalah lomba:
Ini soal apa yang terjadi ketika seorang anak muda Indonesia berani bersuara.
Josepha tidak melakukan apa-apa yang salah.
Dia mempertanyakan keputusan yang tidak konsisten.
Itu bukan bikin gaduh.
Itu adalah hak dasar setiap peserta dalam kompetisi apapun di seluruh dunia.
Tapi di sini itu direspons dengan ancaman.
Dengan intimidasi.
Dengan pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya diam.
Dan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang:
Siapa yang mengirim pesan ancaman itu?
Dari nomor asing.
Mengatasnamakan siapa?
Dengan kewenangan apa untuk melayangkan somasi?
Kalau memang tidak ada yang salah dalam lomba itu kenapa harus ada ancaman?
Kenapa video harus dihapus?
Kenapa tidak cukup dengan klarifikasi terbuka?
Yang minta video dihapus adalah orang yang takut video itu terus ditonton.
Yang takut kebenaran terus beredar.
Josepha hafal konstitusi sampai tidur komat-kamit. Dia mempelajari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dengan serius dan penuh dedikasi.
Dan pengalaman pertamanya mempraktikkan nilai-nilai itu di hadapan lembaga negara adalah ini: ancaman WhatsApp dari nomor tak dikenal.
Tekanan untuk diam.
Pertanyaan di dalam hatinya apakah dia yang harus minta maaf.
Kalau anak sekecil Josepha saja sudah diajarkan bahwa kejujuran itu berbahaya kita tidak perlu heran kenapa generasi berikutnya memilih untuk tidak peduli.
Kita yang mengajarkan mereka untuk tidak peduli. Dengan cara seperti ini.
โ ๏ธ Disclaimer: Berdasarkan berita https://t.co/NzjIn3zG4K 16 Mei 2026. Kasus masih dalam proses penanganan MPR RI. Identitas oknum yang melakukan intimidasi belum diungkap resmi.
All Paid Courses (Free for First 4500 People)
๐ฃ๐ฎ๐ถ๐ฑ ๐๐ผ๐๐ฟ๐๐ฒ ๐๐ฅ๐๐ (PART - 1)
1. Artificial Intelligence
2. Machine Learning
3. Prompt Engineering
4. Claude,Chatgpt,Grok
5. Data Analytics
6. AWS Certified
7. Data Science
8. BIG DATA
9. Python
10. Ethical Hacking
(72 Hours only )
To get-
1. Follow @TechByArti to get DM
2. Like + RT
3. Reply " All "
A police officer in the US assaulting a woman.
If this had happened in Iran, the entire Western media would already be condemning it and crying out about women's rights in Iran.
Nabung Receh Malah Berujung ditangkap Polisi, Sekarang jadi pertanyaan Kalau orang kecil nabung uang koin saja bisa ditangkap, harus nyelengi ke mana lagi?
Inilah yang dialami Surya, pemulung 45 tahun di pinggiran Jakarta,
Hidupnya keras sejak istrinya meninggal Demi satu mimpi sederhana menyekolahkan anaknya Rina,
Ia melakukan hal kecil yang konsisten. Setiap dapat kembalian koin 500 atau 1.000 rupiah ia simpan,
Bukan sehari Bukan sebulan,
Tapi bertahun-tahun.
Galon bekas air mineral jadi โbankโ pribadinya, Suara koin jatuh jadi pengantar tidur di gubuk reyotnya, Ia menahan lapar Menahan keinginan beli rokok, Menahan semuanya, demi masa depan anaknya. Waktu berlalu, 1 galon penuh, 2 galon penuh, Sampai akhirnya 10 galon terisi, Nilainya ditaksir puluhan juta rupiah. Dengan harapan besar, suatu pagi Surya berdiri di depan bank, membawa galon-galonnya.
Ia pasang tulisan kardus: โJual galon isi koin murah, butuh modal hidup.โ
Beberapa orang mulai mendekat, Harapan itu sempat terasa nyata.
Tapi tak lama Petugas keamanan datang, Polisi dipanggil.
Surya dituduh menimbun uang, Tubuh kurus itu gemetar. โPak saya cuma nabung buat anak sayaโฆโ katanya lirih.
Namun galon tetap disita, Surya tetap dibawa pergi.
Di balik jeruji, ia hanya bisa memeluk Rina yang menangis saat menjenguk.
Mimpi 10 tahun runtuh dalam satu pagi. Kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan uangnya tapi ketika niat baik orang kecil justru berujung masalah.
INNALILLAHI..... Telah dibunuh dengan keji bapak H. Ermanto Usman SETELAH tampil di podcast Bongkar NAMA-NAMA BESAR KASUS KORUPSI JICT (Jakarta International Container Terminal)
https://t.co/NtfH0YPz7A
Ramadan Quest to Convert 2026: Trade Top-Performing Tokens to Share $50,000 in USDC Rewards | Sign up as a Binance user to get 100 USD worth of trading fee rebates now!
https://t.co/Rf0v540EbE