Manchester United x Arsenal: Badut yang (Sebetulnya) Kompak
Fans Manchester United dan Arsenal tak henti-hentinya berbalas serangan di media sosial, salah satunya X. Keduanya saling mencari kelemahan dan berusaha mempermalukan rivalnya. Rivalitas fans seperti menggambarkan panasnya rivalitas klub ini di zaman Roy Keane dan Patrick Vieira.
Keduanya berusaha menjadi yang paling benar. Kalau bisa harus galak, pakai ancaman fisik. Kreativitas makian datang dan pergi.
Saya menyumbang satu makian untuk fans Setan: Fans Tanpa Otak Kiri. HEHE.
Begitulah, keduanya saling serang. Padahal, di beberapa titi kala mangsa, Manchester United dan Arsenal itu kompak sekali. Ya, kompak menjadi badut Liga Inggris.
Pada 2019, saya sudah merasakan kalau sebetulnya Manchester United dan Arsenal itu punya kekompakan yang tak terduga. Yes, keduanya kompak menjadi badut Liga Inggris. Saat itu, United dilatih oleh Ole Gunnar Solskjaer. Sementara itu, Arsenal dilatih Unai Emery.
Perlombaan menjadi badut
Mari kita flashback ke tahun 2019. Saat itu, Manchester United baru saja dihajar Everton dengan skor 0-4.
“Apakah para pemain di kamar ganti betul-betul ingin bermain untuk Manchester United?”
“Saya tidak tahu,” jawab Ole kepada wartawan.
Rangkaian tanya dan jawab di atas terjadi setelah Manchester United dihajar Everton dengan skor 0-4.
Kekalahan di detik-detik akhir Liga Inggris ini membuat mereka semakin berat untuk mengakhiri musim di empat besar. Peluang Man United untuk bermain di Liga Champions musim depannya menjadi begitu tipis.
Yang membuat kekalahan Man United semakin terlihat bodoh adalah sebuah kenyataan bahwa mereka punya kesempatan terbaik untuk masuk empat besar.
Ketika Tottenham Hotspur, klub jamban dari London Utara itu kalah dari City, tiga tim punya kesempatan besar untuk setidaknya mendekatkan diri, bahkan melewati, untuk masuk empat besar.
Namun, buat kamu fans Manchester United, tak perlu sedu sedan itu. Sebagai pecundang sejati, kalian punya teman, yang juga sejati, bahkan sehati, bernama Arsenal.
O, jangan salah, Arsenal ini pecundang yang paling orisinil. Bagaimana tidak, ketika segala sesuatu bisa dibikin gampang, saat itulah Arsenal punya skenario sendiri; dibuat sulit untuk pada akhirnya menjadi sampah.
Arsenal bermain melawan Crystal Palace dengan kesadaran bahwa Spurs dan United kalah. Yang mereka harus lakukan cuma satu, yaitu menang.
Kemenangan atas Palace bakal bikin Arsenal naik ke peringkat ketiga, menggeser Spurs, dan sedikit menjauh dari United dan Chelsea. Kalau bisa dibuat sulit, kenapa dipermudah?
Unai Emery sadar betul. Sebagai pelatih yang saat itu masih baru, yang patuh dengan kebodohan paling hakiki, Emery menurunkan Mohamed Elneny dan Matteo Guendouzi.
Sebuah kesalahan yang bikin Arsenal kalah di kandang dengan skor 2-3. Kalau bukan pecundang, ya badut namanya.
Nampaknya Arsenal tidak rela gelar klub suram diambil alih Manchester United. Kalau United bisa kalah dengan skor 4-0, The Gunners bisa menyajikan kekalahan dengan lebih megah, lebih drama, dan yang pasti lebih mengenaskan:
Kalah dengan skor 2-3, Shkodran Mustafi dapat kartu kuning karena diving, dan kebobolan oleh Christian Benteke, striker yang sudah 365 hari tidak bikin gol!
Fans Man United kala itu mengeluhkan performa Paul Pogba dan Lukaku yang tanpa determinasi. Kalian memang patut khawatir. Gelar pemain terburuk bisa-bisa diambil Mustafi.
Arsenal dan Manchester United pernah bersaing dengan sengit untuk mendapatkan status klub pecundang. Sungguh sebuah kehormatan bisa menjadi fans salah satu klub berdedikasi tinggi ini.
Sungguh, Liga Inggris tak bakal seru tanpa kegoblokan dua klub ini.
Dua badut yang bangkit
Musim ini adalah titik kulminasi perkembangan Arsenal. Setelah 3 kali juara 2, tahun ini, Arsenal juara satu.
Sementara itu, Manchester United di bawah asuhan Michael Carrick, menyelesaikan musim di peringkat 3 dan lolos ke Liga Champions musim depan.
Untuk kali pertama, dua klub ini mengakhiri musim di posisi yang berdekatan setelah United terlihat alergi untuk masuk 4 besar sebelumnya.
Kok ya kompak.
Ketika Arsenal semakin membaik, Manchester United juga sama. Dulu kompak menjadi badut, sekarang bersaing untuk menguasai kembali Liga Inggris.
Fakta inilah, menurut saya, membangkitkan lagi rivalitas panas zaman dulu. Zaman Fergie vs Arsene, dan Keano vs Vieira. Dan, panasnya itu menular kepada fans.
Banyak fans Manchester United lawas yang saya kenal hanya mengenal 2 jenis rivalitas, yatu Manchester United vs Arsenal dan Manchester United vs Liverpool. Itu kata mereka ya, bukan kata saya.
Melihat kekompakan ini, saya rasa sudah saatnya fans Manchester United dan Arsenal tahu batasan. Dokter @tirta_cipeng peng peng peng pernah menjelaskan batasan banter, yaitu:
"Jangan sara, menyebar identitas, mengajak gelut, menjurus ke personal dan pelecehan, pengancaman ke fans dan pemain lawan."
Saya rasa, batasan dari Dokter Tirta tersebut sudah sangat clear. Rivalitas itu hal yang alami di dalam kompetisi. Bahkan bisa memecah belah keluarga. Namun, di sisi lain, jangan kebablasan.
Pada akhirnya, tidak ada rivalitas semahal nyawa, juga martabat. Mari berdebat dengan cara-cara manusiawi. Fans Manchester United jangan gampang baper dan jahat banget, dan fans Arsenal memang yang terbaik. Itu contoh. Jangan marah.
Salam badut
#COYG
Jadi, fans Arsenal ini masih cukup bearable di musim-musim belakangan ini buat gue. Gue pun follow-followan sama si @JalanArsenal ini hahaha.
ManUtd tuh, bakal seanjing apa fans-nya kalo timnya juara EPL/UCL.
Air bah memenuhi bumi, layaknya Yajuj dan Majuj.
Gue mau nulis agak panjang tentang fenomena "Arsenal vs everybody" di era sosmed ini, dan coba se fair, dan sejujur mungkin.
Kalo ada yang mau komen dengan opini jujur silakan, mau repost kalo sepemahaman ama gue juga terimakasih
Gue ijin quote postingan ini ya kak @arsenatasyas , karna gue nganggep di mutual gue, beliau ini salah satu Gooners yg rasionil, dan argumen nya kuat.
Jadi alasan utama kenapa buanyak banget fans base dari banyak klub, bahkan di luar PL jadi pada seneng ngledek, atau istilah yg lg hits - ngebanter, menurut gue (udah banyak yg bilang juga), adalah karena :
Banyaknya akun" yang boleh dibilang besar, sangat besar, dalam dan luar negeri, seringan bikin konten, teks atau video, yang emang sifatnya rage, click bait. Demi farming engagement. Dan, harus diakui, berhasil.
Yang mengherankan, ada juga yang secara kasat mata ga cari engagement demi monet, tapi sering kali opininya, -- sorry, ga berdasar. Tapi ya sudahlah 😃
Situasi ini, lagi lagi di era sosmed ini jadi bola salju yang akhirnya berujung pada munculnya posting / konten yang merupakan reaksi atas komen" ngawur tadi, yang terlihat, atau emang keliatan men-generalisir semua fans Arsenal kek orang" dibalik akun" tadi.
Dan karna akun" yang direspon publik tadi masih juga ga berubah, ya sudah, membuncah lah itu publik yg aktif di sosmed, lebih nylekit dalam ngebanter
Padahal banyak juga Gooners yang rasional, pun risih ama kontennya akun akun tadi. Gue banyak punya kawan Gooners, yang sering duduk bareng ngopi ngebir, dan punya opini masuk akal. Banter? Biasa.
Nah yang jadi "korban" menurut gue justru yang rasionil ini. Karena makin nylekitnya opini fans dari klub lain, akhirnya kecebur dan ikut bereaksi.
Rame lah temlen.
Perihal istilah HARAMBALL , gue kmrn sempet lempar topik diskusi, bahwa haramball adalah hak smua klub bola, dan oleh sebab itu maka penghakiman atas itu harus dikurangi di lini masa, karena ... halaaah, malah memplesetkan pembukaan UUD
Ya begitulah intinya, haramball adalah approach pragmatis, untuk tujuan utama glory. Latar belakangnya? Banyak.
Yunani di Euro 2004, udah sampe final lawan Portugal, tuan rumah dengan squad bertabur bintang saat itu.
Internazionale di final UCL 2010 vs Barcelona juga melakukan hal yang sama.
Bahkan, dari aspek defensive yang rigid, LFC di semifinal leg 2 2005 lawan Chelsea udah mendekati kategori ini, possession 40% vs 60%
Pada kasus Arteta, gue coba minta jeminai bikin infografis hasil olah data dari sejumlah sumber.
Dari situ gue menyimpulkan, kenapa memilih approach ini, utamanya ya demi glory, prestasi. Arteta perlu membuktikan diri bahwa dia mampu, setelah memasuki musim ke 7 nya menukangi Arsenal.
Dan yang mungkin (dugaan gue) , adanya tuntutan dari manajemen untuk segera mewujudkan prestasi, setelah memberikan support penuh untuk berproses, berprogres, dalam bentuk nyata invenstasi cukup besar. Nett spend Arsenal sejak ditukangi Arteta sekitar £760 juta.
Tapi emang ga smua akan suka, bahkan bbrp kawan gw yang fans Arsenal, yg menikmati era Wengerball juga bilang ga menikmati. Karena dahulu terbiasa liat maen cepet 1-2 touch pass ala Henry, Bergkamp, Pires, Ljunberg.
Gue bahkan dulu berharap LFC era itu, bisa maen kek Arsenal.
Kira kira gitu lah. Panjang lebar tulisan sepi makna ini
Tabik
TL masih rame aja bahas arsenal gagal juara ucl, padahal mereka juara EPL dan masih mode parade juara.
Gue curiga fans-fans klub lain ini sebenernya lagi nutupin kalau klub²nya ga dapet apa² musim ini, namanya fans klub bola normal aja asal jgn bawa² sara, keluarga dll.
Jadinya nyari bahan yang lagi rame sekalian nyari impress, kalau yg hate akun kemarin sore sih biarin aja asal seneng.✌️😁
Arsenal: Terlatih untuk bangkit lagi
Arsenal tercatat 9 kali jadi runner up di kompetisi lokal. Catatannya:
Era Premier League (sejak 1992): 6 kali (1998/99, 1999/00, 2000/01, 2022/23, 2023/24, 2024/25). Lalu, Era Divisi Utama: 3 kali (1925/26, 1931/32, 1972/73).
Bersama Arteta, 3 kali berturut-turut, sebelum akhirnya jadi juara di tahun ini. Di mata saya, itulah kebanggaan tersendiri, ketika sebuah klub menjadi cermin, menjadi panutan. Bahwa di dalam kehidupan, orang yang berani bangkit untuk berjuang lagi, akan mendapatkan kebahagiaan pada saatnya.
Tahun lalu, Arsenal sampai di semifinal. Tahun ini, bermain di laga puncak. Lawannya sama, PSG yang monster itu. Melihat klub saya berani mencoba lagi, bahkan tahun ini tak terkalahkan selama 90 menit, membuat kekalahan ini terasa seperti reminder saja. Bahwa kalau kamu jatuh, pilihanmu adalah bangkit dan berusaha lagi.
Fans Arsenal yang baik. Dunia akan kejam kepadamu. Seharusnya, kita yang paling mampu menghadapi tekanan itu. Pengalaman, penerimaan, dan mentalitas untuk bangkit lagi, kita yang punya.
Malam ini, bersedih kita bersama. Melepaskan semua adrenalin dan kegelisahan. Esok pagi, ketika dunia semakin kejam, kita bisa bilang ke diri sendiri: "We go again. Over land and sea."
Be proud. COYG
Arsenal: Terlatih untuk bangkit lagi
Arsenal tercatat 9 kali jadi runner up di kompetisi lokal. Catatannya:
Era Premier League (sejak 1992): 6 kali (1998/99, 1999/00, 2000/01, 2022/23, 2023/24, 2024/25). Lalu, Era Divisi Utama: 3 kali (1925/26, 1931/32, 1972/73).
Bersama Arteta, 3 kali berturut-turut, sebelum akhirnya jadi juara di tahun ini. Di mata saya, itulah kebanggaan tersendiri, ketika sebuah klub menjadi cermin, menjadi panutan. Bahwa di dalam kehidupan, orang yang berani bangkit untuk berjuang lagi, akan mendapatkan kebahagiaan pada saatnya.
Tahun lalu, Arsenal sampai di semifinal. Tahun ini, bermain di laga puncak. Lawannya sama, PSG yang monster itu. Melihat klub saya berani mencoba lagi, bahkan tahun ini tak terkalahkan selama 90 menit, membuat kekalahan ini terasa seperti reminder saja. Bahwa kalau kamu jatuh, pilihanmu adalah bangkit dan berusaha lagi.
Fans Arsenal yang baik. Dunia akan kejam kepadamu. Seharusnya, kita yang paling mampu menghadapi tekanan itu. Pengalaman, penerimaan, dan mentalitas untuk bangkit lagi, kita yang punya.
Malam ini, bersedih kita bersama. Melepaskan semua adrenalin dan kegelisahan. Esok pagi, ketika dunia semakin kejam, kita bisa bilang ke diri sendiri: "We go again. Over land and sea."
Be proud. COYG
Terima kasih sudah berjuang, @Arsenal. Tak terkalahkan sampai laga puncak dan meladeni monster PSG.
Adu penalti, susah untuk berkata-kata. Selamat untuk PSG. Sampai detik akhir, inilah hasilnya.
Sebagai fans Arsenal, kita yang paling akrab dengan mencoba lagi. Berjuang lagi. Angkat dagumu, fans Arsenal. Di mata saya, ini bukan kekalahan yang memalukan.
#COYG
fans Arsenal yang waras tidak akan menyerang Gabriel Magalhaes. kita sadar kok, tanpa Gabriel, Arsenal nggak akan juara Liga Inggris dan melangkah jauh sampai final. Bahkan dia main bagus sepanjang 120 menit.
Bagi kami, Gabriel sudah cukup berkorban dan memberi. We all love Big Gabi.