Guru SMA Kualitas Mentri
Syarat minimal jadi guru SMA di Indonesia hanya D IV - S1 tapi Aisyah prastowo datang melamar jadi guru di Sleman dengan ijazah gelar doktor (S3) dari universitas Oxford kampus ternama di dunia
Awalnya ingin jadi peneliti tapi keadaan membuatnya melamar jadi guru SMA
2024 di Sleman ia dapat tawaran merintis sekolah alternatif praxis high school ia jadi guru sekaligus kepala sekolahnya
Sekolahnya cuma punya 8 murid Tapi salah satunya sudah jadi co-author jurnal ilmiah internasional, dan timnya menang kompetisi robotika di Vietnam
@nazaqistsha Diawal dia sebutkan "terdidik dan terlatih", diakhir dia bilang tidak memikirkan resiko. 🤣🤣🤣 mana ada org terdidik dqn terlatih tdk mempertimbangkon resiko???
Setelah rame minggu kemarin bahas lunula, kita lanjut lagi yuk.
Tapi disclaimer dulu:
Postingan ini bukan untuk mendiagnosis kondisi tubuh anda, tapi hanya sekedar informasi agar anda waspada dengan kesehatan anda.
Setiap perubahan di kuku itu mengindikasikan kondisi kesehatan tubuh. Bukan apa yang terjadi pada kuku mengakibatkan kesehatan kita terganggu tapi sebaliknya apa yang terjadi pada tubuh kita mengakibatkan kuku kita berubah/terganggu.
Ada yang kukunya bergaris-garis vertikal seperti ini?
Kondisi ini menandakan penuaan alami, tidak berbahaya. Kondisi kuku yang demikian juga menandakan bahwa tubuh kekurangan nutrisi (zat besi, folat, zinc dan vitamin B12) infeksi jamur atau kondisi medis tertentu seperti psoriasis, penyakit addison dan masalah sirkulasi.
Referensi: halodoc
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Tanpa Tanda Jasa
Benar benar miris nasib pendidik bangsa ini, yg berjuang tanpa lelah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
Janji penguas waktu belum terpilih untuk merubah nasib lebih baik hanya sebatas rayuan politik semata
Sementara para koruptor berpesta pora dengan berbagai macam cara, yg pada akhirnya menjadikan bangsa ini semakin bodoh dan miskin
Guys, Mahfud MD baru ngomong sesuatu yang bikin gua tidak bisa langsung lanjut scrolling begitu saja.
Di podcast terbarunya dia bahas anggaran MBG
yang sudah lama jadi bahan omongan tapi baru benar-benar diekspos dengan data yang konkret.
Dan yang bikin gua berhenti adalah satu detail kecil yang justru paling menggambarkan betapa bermasalahnya tata kelola program ini.
Kaos kaki.
Rp100.000 per pasang.
Untuk 17.000 pasang.
Total 6,9 miliar rupiah.
Mahfud sampai angkat kaos kakinya sendiri
di depan kamera dan
bilang kaos kaki yang dia pakai itu
Rp100.000 dapat tiga pasang dibeli online.
Dan untuk anggaran MBG satu pasang
kaos kaki dihargai Rp100.000.
Untuk program makan siang anak-anak.
Kaos kaki.
Tapi ini bukan hanya soal kaos kaki yang overpriced. Ini adalah simptom dari sistem
yang jauh lebih bermasalah.
Mahfud ceritakan data dari survei Policy Research Center yang melibatkan 1.168 responden semuanya penerima langsung MBG. Hasilnya sangat mengejutkan.
88 persen mengatakan program ini lebih banyak dinikmati oleh politisi dan pengelola dapur daripada anak-anak penerimanya.
87 persen mengatakan MBG rawan korupsi.
79 persen mengatakan kualitas makanan sengaja diturunkan untuk mengambil keuntungan.
Dan yang paling menohok dari semua pihak yang diuntungkan, anak-anak dan keluarga yang seharusnya jadi penerima manfaat utama hanya dapat 6,5 persen.
Sementara elit dan pejabat publik dapat 44,5 persen
dan pengelola dapur SPPG dapat 44 persen.
Program yang katanya untuk anak-anak hanya 6,5 persen manfaatnya yang benar-benar sampai ke anak-anak.
Mahfud juga cerita pengalamannya sendiri keliling daerah.
Di NTB dia ketemu orang yang sudah punya dapur MBG dan penghasilannya per bulan sudah ratusan juta.
Sudah jadi bahan candaan di kalangan tertentu
eh kamu udah punya dapur belum?
Dan yang punya dapur itu bukan orang sembarangan. Itu aktivis,
orang-orang yang punya koneksi politik,
yang punya akses ke jaringan yang tepat.
Tapi yang menurut gua paling penting dari semua yang Mahfud katakan adalah satu pertanyaan yang dia lempar dengan sangat jelas.
Prabowo sudah keras-keras ancam koruptor. Programnya bagus.
Niatnya bagus.
Tapi yang di bawah tidak menjalankan dengan benar,
laporannya tidak akurat,
dan tidak ada satupun aparat hukum
yang memeriksa kebocoran ini secara serius.
KPK diam.
Kejaksaan diam.
Kepolisian diam.
Padahal kasusnya ada di mana-mana.
Mahfud bilang sesuatu yang sangat tepat
kalau pemerintahan berganti suatu saat nanti
besar kemungkinan semua masalah hukum dari program ini akan terbongkar sekaligus.
Karena sejarahnya selalu begitu.
Yang sekarang aman-aman saja
rezim berganti
semuanya dibuka.
Lebih baik dari sekarang ditata dengan benar.
Lebih baik dari sekarang ada yang berani periksa. Karena semakin lama dibiarkan semakin dalam masalahnya.
MBG itu programnya benar dan rakyat yang benar-benar kekurangan memang senang mendapatkannya. Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi antara niat baik di atas dan eksekusi di lapangan ada jurang yang sangat lebar yang diisi oleh kepentingan politik,
jaringan rente,
dan kebocoran yang sistematis.
Dan selama tidak ada yang mau memeriksa dengan serius uang pajak kita terus mengalir ke kaos kaki seharga Rp100.000 per pasang dan dapur-dapur yang pemiliknya sudah bisa mentraktir orang makan malam mewah setiap bulannya.
Kisah seorang anak yang mencapai impiannya diterima difakultas teknik UI. Karena ia tinggal jauh dari jakarta dan mengalami keterbatasan finansial, ia setiap malam dari jam 00-8 pagi bekerja menjadi kuli. Akhirnya, perjuangan mengetuk hati seseorang dan memberinya beasiswa.
Dimutasi saat sedang usut kasus korupsi, seorang polisi memilih mundur secara terhormat dari Kepolisian.
Sosok Vicky Katiandagho adalah seorang Polisi yang sebelumnya dikenal karena keberaniannya dalam menangani kasus-kasus yang disegani berbagai pihak. kini Vicky Katiandagho resmi mengakhiri pengabdiannya di institusi kepolisian setelah sebelumnya sempat dimutasi oleh atasannya.
Guys, Ahok baru blak-blakan soal kasus korupsi Pertamina yang dulu rame dan yang dia bilang bikin gue merinding.
Bukan lebay.
Tapi karena ini orang yang empat tahun duduk di dalam lihat langsung, catat semua, dan sekarang siap buka semuanya.
Ada tangan berkuasa yang ikut main.
Itu kalimat Ahok yang paling nancep dari semua yang dia bilang.
Bukan cuma soal Rifa Siahan atau Petral Niaga.
Bukan cuma soal pengoplosan BBM.
Ini lebih dalam dan lebih luas dari itu.
Ahok bukan Dirut.
Tapi dia lakukan lebih dari yang banyak Dirut lakukan.
Ini yang perlu dipahami dulu.
Sebagai Komisaris Utama, Ahok nggak bisa mecat direksi langsung.
Tapi dia bisa mengawasi, menegur, mencatat, dan mengancam lapor.
Dan itu persis yang dia lakukan setiap hari, selama empat tahun.
Semua rapat direkam.
Semua notulen disimpan. Setiap kali direksi ngeyel, Ahok maki langsung di rapat.
Termasuk ke Rifa Dirut Petral Niaga yang sekarang jadi tersangka.
Kalau jaksa mau panggil saya, saya senang banget. Semua rekaman, semua notulen, saya kasih semuanya.
Apa yang sebenernya terjadi di Pertamina?
Ahok kasih gambaran yang cukup detail.
Satu ada pengadaan aditif BBM yang mencurigakan. Tender dipisah antara transport dan aditif dengan cara yang nggak masuk akal.
Ada satu Dirut Petral Niaga sebelumnya yang dipecat diduga karena nggak mau tanda tangani pengadaan aditif ini.
Dan ada isu oknum BPK yang ikut terlibat sebagai backing.
Dua ada pengkondisian supaya impor minyak terus tinggi.
Caranya?
Klaim bahwa minyak produksi kilang dalam negeri nggak efisien, nggak ekonomis, nggak sesuai spek. Sehingga harus impor.
Terus.
Tiap tahun.
Tiga ada yang tarik cash dalam jumlah miliaran tanpa alasan yang jelas.
Kalau kamu pengusaha normal, ngapain tarik cash puluhan miliar?
Pasti buat bagi-bagi.
Dan ini yang paling bikin gue syok.
Ahok bilang dari sekitar 800.000 barel minyak mentah yang diimpor ada isu komisi 2 sampai 4 dolar per barel yang dibagi-bagi ke pihak-pihak tertentu.
Kalau hitungannya 2 dolar per barel saja dikali 800.000 barel itu 1,6 juta dolar per hari.
Tiap hari.
Setiap pengiriman.
Dan ini diduga sudah berjalan bertahun-tahun.
Kenapa Ahok nggak bisa berbuat lebih?
Ini yang jadi frustrasi terbesarnya.
Sebagai Komut, dia nggak punya wewenang untuk pecat direksi. Yang bisa pecat adalah Dirut Holding yang di atasnya lagi ada Menteri BUMN.
Jadi Ahok bisa maki, bisa ancam, bisa catat — tapi kalau direksi udah merasa Ahok nggak akan bisa pecat mereka, mereka ngeyel.
Dan itu persis yang terjadi begitu akses Ahok ke presiden mulai terputus.
Begitu 7-8 bulan presiden tidak terima saya, direksi mulai berani melawan.
Mereka tahu saya nggak bisa gantikan mereka.
Solusi yang Ahok dorong dari dulu dan masih belum dijalankan:
E-Katalog LKPP untuk pengadaan BBM dan minyak mentah.
Simpelnya semua pengadaan minyak masuk ke sistem katalog elektronik pemerintah yang transparan.
Harga ICP sudah ada, ditetapkan Menteri ESDM tiap bulan.
Siapa yang bisa suplai dengan harga nggak melebihi itu silakan masuk.
Nggak ada lagi tender yang bisa dimanipulasi.
Nggak ada lagi aditif dengan spek aneh.
Nggak ada lagi alasan impor karena minyak dalam negeri "nggak memenuhi spek.
Kalau pemerintah sekarang nggak mau terapkan e-katalog di LKPP untuk pengadaan migas saya berani jamin ini cuma ganti pemain.
Pemain baru makan uang yang sama.
Dan kalimat terakhir yang bikin gue diem:
Kalau rezim betul-betul mau bereskan negeri ini dari korupsi di Migas dan Pertamina saya berani jamin, dengan data yang saya punya, saya akan penjarakan kalian semua.
Njir semua berarti isi pertamina busuk semua ?
Dia bilang itu ke direksi-direksi yang dulu ngeyel.
Di dalam rapat.
Dan sekarang dia ulang di depan publik.
Ahok bukan orang yang nggak punya data. Dia punya rekaman.
Punya notulen.
Punya catatan empat tahun yang rapi.
Pertanyaannya tinggal satu apakah ada yang cukup berani untuk beneran buka semuanya sampai ke akarnya?
Atau ini cuma ganti pemain dengan naga baru yang main dengan cara yang sama?
Kisah Bagus Budi Laksono ini benar-benar jadi tamparan halus.
Bagus, mahasiswa dari UIN Gus Dur Pekalongan, membuktikan bahwa lulus kuliah bukan soal punya laptop mahal… tapi soal seberapa kuat tekad kita. 💪
Bayangkan, dia menulis 127 halaman skripsi hanya dari smartphone.
Harus bolak-balik zoom layar, aplikasi sering lemot, dan ngetik di keyboard kecil yang jelas nggak nyaman.
Sebagai anak buruh proyek, Bagus paham betul kondisi keluarganya.
Dia bahkan pernah ikut kerja di proyek drainase, supaya tahu beratnya mencari uang… dan nggak ingin membebani orang tuanya. 🥺
Jarak rumah ke kampus? Sekitar 55 km.
Uang bensin Rp15.000 mungkin terlihat kecil, tapi buat dia itu sangat berarti—sampai-sampai jarang bisa ke perpustakaan.
Untuk hemat kuota, dia rela numpang WiFi di balai desa dekat rumah.
Semua itu dia lakukan demi menyelesaikan skripsi tentang Etika Bermedia Sosial.
Selama 9 bulan, dia berjuang dengan keterbatasan dan berbagai kendala teknis.
Dan akhirnya… semua terbayar saat dia berdiri bangga dengan gelar sarjana. 🎓
Dari kisah ini kita belajar:
Bukan fasilitas yang menentukan kita sampai di mana… tapi kemauan untuk terus jalan meski sulit.
Dari Gangguan Penglihatan ke Rekor Dunia
Masih ingat bocah 9 tahun yang bikin pesepak bola profesional melongo? Tahun 2014, Mara tampil di acara TV Jerman "Klein gegen Groß", menantang Sebastian Boenisch dalam game 'spot-the-difference' dan hasilnya benar-benar di luar nalar.