Bule ini kasih tau kalau kemampuan warga di sebuah negara untuk bisa jalan2 keluar negeri adalah hasil dari keputusan politik.
Dia orang Belanda. Kasih contoh kalau dia mau ke Indonesia, dia tinggal terbang aja. Sementara orang Indo mau ke Belanda mesti buat visa dan bisa sebulan nunggu.
Contoh lain, meski bukan jalan2. Ada seorang supir taxi di Bali, tiap ditanya ttg resto apa yang enak, si supir sarankan ke resto bebek tertentu. Tapi, selama hidupnya, dia gak pernah makan disitu. Pertama kali dia makan, itu diajak sama turis yang naik taksinya.
Jadi kalau ada yang gak peduli sama politik, ya lu liat tuh. Lu bisa pergi keluar negeri dengan mudah/sulit bukan faktor duit doang, tapi faktor pemerintah lu jago atau katrok.
@cursedkidd daily vlog bikin PR nya joy, kumpulan RT, ketemu pak lurah buat ganti ktp buluk, belanja cabe bawg minyak ke pasar dg logat ngapakmu itu, dan pikirin sendiri sisanya yah
Saya percaya, keadaan Indonesia akan berubah ketika kita ikut berubah.
Saya kurang tertarik pada politik. Namun politik selalu tertarik pada hidup saya. Ia menentukan harga semua, mutu sekolah, kualitas rumah sakit, bahkan udara yang kita hirup.
Politik adalah kebijakan. Pengambil kebijakannya adalah Politisi. Kebijakan lahir dari adu kepentingan Politisi.
Dan hampir semua politisi punya kepentingan yang sama: ingin dipilih kembali oleh kita.
Karena itu, wajah politik adalah cermin masyarakatnya.
Korupsi tumbuh dari budaya aji mumpung.
Mumpung punya jabatan, ambil bagian.
Mumpung ada kesempatan, cari keuntungan.
Mumpung kelompok sendiri berkuasa, kesalahan pun dibela.
Kita marah pada koruptor besar, tetapi sering memaklumi kecurangan kecil. Menyerobot antrean, menitip absen, menyuap agar urusan cepat, mengambil yang bukan hak, lalu menyebutnya “rezeki”.
Perubahan negeri ini mungkin bermula dari satu hal yang mulai hilang: rasa malu.
Malu berbuat curang.
Malu menyalahgunakan kuasa.
Malu menjual suara.
Malu membela kesalahan karena satu golongan.
Negeri ini akan berubah saat kita berhenti menunggu orang baik, lalu memilih menjadi salah satunya.
Sebab politik mengikuti budaya.
Dan budaya berubah ketika kita berubah.
Aku ketemu teman lama.
Terus dia bilang,
“Gi, lihat berita-berita sekarang kenapa orang jahat lebih banyak menang dalam kehidupan dibanding orang baik?”
Aku senyum, lalu jawab,
“Yaa Mungkin karena orang baik memang enggak hidup buat menang.”
Karena kalau kita pakai Menang dengan standar duniawi, menang itu sering berarti harus ambil lebih banyak, ambil lebih dulu, ambil semuanya.
Gak peduli cara, gak peduli konsekuensi.
Tapi orang yang hatinya baik biasanya jalan dengan cara yang berbeda.
Mereka datang dengan tulus.
Mereka sayang tanpa banyak hitung-hitungan.
Mereka tetap jujur walau kadang rugi.
Mereka enggak suka main belakang.
Mereka enggak sibuk menghitung siapa yang lebih banyak memberi.
Dan mereka enggak butuh melihat orang lain jatuh untuk merasa dirinya hebat.
Jadi ya, mungkin orang baik memang terlihat seperti kalah.
Sering kecewa.
Sering terlalu percaya.
Sering kasih kesempatan ke orang yang sebenarnya enggak layak.
Tapi mereka pulang dengan sesuatu yang enggak semua orang punya.
Hati yang tetap bersih.
Perasaan yang tetap hangat.
Dan kemampuan untuk menyayangi lagi tanpa berubah menjadi pahit dan getir.
Orang baik mungkin jarang terlihat menang di depan orang banyak.
Tapi mereka bikin orang lain merasa aman.
Mereka bikin hidup terasa lebih ringan.
Mereka bikin dunia jadi sedikit lebih manusiawi.
Jadi kalau begitu,
sebenarnya siapa yang sedang menang?😊
“Dok, kenapa sih selalu positive vibes?”
Aku cuma bisa tersenyum.
Lalu menjawab dalam hati,
Ya Karena aku paham, hidup ini seperti garis bilangan.
… -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3 …
Di tengah ada angka nol.
Di sebelah kanan, ada angka positif menuju plus tak terhingga.
Di sebelah kiri, ada angka negatif yang terus bergerak menuju minus tak terhingga.
Hidup kita juga begitu.
Ada masa kita berada jauh di sebelah kanan.
Hati bahagia.
Badan sehat.
Keluarga baik-baik saja.
Pekerjaan lancar.
Hari terasa ringan.
Namun setiap hari, dari pasien-pasienku dan dari hidupku sendiri, aku belajar satu hal:
Hidup SELALU punya cara untuk mengurangi.
Waktu mengurangi tenaga.
Kekecewaan mengurangi semangat.
Kegagalan mengurangi percaya diri.
Kehilangan mengurangi sebagian isi hati.
Masalah kadang datang satu per satu.
Kadang datang bertubi-tubi seperti sudah janjian.
Dulu aku mengenal peribahasa, 'Sudah jatuh, tertimpa tangga.'
Aku pikir itu sudah cukup buruk.
Ternyata masih ada kemungkinan tanahnya ikut ambles.
Saat seseorang berkata,
'Sepertinya ini sudah menjadi titik terburuk dalam hidupku.'
Kehidupan kadang masih menyeringai,
“Ooh tentu tidak, ini belum seberapa."
Karena itu, aku belajar untuk terus menambah.
Menambah ilmu.
Menambah iman.
Menambah kesehatan.
Menambah rasa syukur.
Menambah tabungan.
Menambah teman-teman baik.
Menambah keberanian.
Menambah ketenangan.
Sebab kita hampir selalu gagal mengendalikan apa yang akan hidup kurangi.
Namun kita masih bisa memilih apa yang kita tambahkan setiap hari.
Jadi, positive vibes aku itu bukan berarti hidupku selalu indah.
Aku juga pernah lelah.
Aku juga pernah kecewa.
Aku juga pernah merasa hampir habis.
Positive vibes adalah usaha menjaga diri agar tetap berada di sisi positif garis bilangan.
Agar saat hidup mengambil sepuluh, kita masih punya seratus.
Saat hidup mengambil seratus, kita masih tetep di atas 0 dan memiliki alasan untuk berdiri sekali lagi.
Serta tetap mampu memberikan harapan untuk banyak orang.
Erling Haaland paid $134,000 for a 430-year-old Viking kings manuscript, then gifted it to his hometown. He said: “I’ve never been a big reader, but I want people to read about those who came from my area.”
Erling Haaland and his father, Alf-Inge Haaland, quietly acquired one of Norway’s greatest literary treasures at auction: a 1594 edition of Snorri Sturluson’s Kongesagaer. Translated by Mattis Størssøn from Old Norse into Danish, it was the first printed history of Norway and helped preserve the stories of the nation’s medieval kings for generations.
Widely regarded as one of the most significant works in Norwegian literary history, the copy purchased by the Haalands was the only complete edition still in private ownership. It sold for 1.3 million Norwegian kroner (about $134,000), setting the record as the most expensive Norwegian book ever sold at auction.
Instead of keeping the rare volume in a private collection, the Haalands donated it to the library in Time Municipality, where Erling grew up. The book is now on public display, and the donation also funded a reading competition to inspire local children and young people to discover Norway’s history and literary heritage.
Viking Row terbesar di halaman Royal Palace di Oslo 🇳🇴 🚣🏼
Putra Mahkota Haakon dari Norwegia memimpin 90 ribu supporter Norwegia dan Mereka bersama melakukan Viking Row dengan para pemain.
meskipun gagal ke Semi final tapi supporter Norwegia tetap apresiasi Tim Nasional mereka 🇳🇴
Sebagai dokter yang pernah pendidikan + jaga dengan durasi 30+ jam nonstop pas koas dan PPDS, gue selalu curiga ada titik di mana kerja semakin lama itu TIDAK semakin produktif, bahkan bisa 'berbahaya'.
Ternyata ada studi ekonomi yang membuktikan ini, dan datanya justru dari 100 tahun lalu. Jadi ada peneliti bernama John Pencavel dari Stanford University menganalisis ulang data pekerja pabrik amunisi Inggris di Perang Dunia I dan hasilnya dipublikasi di The Economic Journal tahun 2015.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa durasi kerja di bawah sekitar 49 jam per minggu, hasil pekerjaan naik proporsional sebanding dengan jam kerja. Tapi di atas ambang itu, kurvanya berubah.
Setiap jam tambahan menghasilkan output pekerjaan yang makin kecil. Dan durasi kerja di atas 55 jam per minggu, efeknya nyaris hilang, bahkan pekerja yang kerja 70 jam seminggu, output totalnya praktis setara sama yang kerja 55 jam. Bisa dibilang 15 jam terakhir itu kontribusinya ke hasil kerja nyaris nol.
Satu hal yang perlu gue tegaskan adalah ini data dari pekerja pabrik 100+ tahun lalu, bentuknya juga kerjaan fisik dan repetitif, bukan knowledge work kayak nulis kode atau kaya kerja jaga IGD. Jadi angka persisnya nggak bisa langsung digeneralisir ke semua jenis pekerjaan.
Tapi konsep dan arah penelitiannya adalah fatigue bikin hasil yang diharapkan dari jam kerja yang panjang itu malah makin buruk. Hasil ini konsisten sama riset modern soal sleep deprivation dan performa kognitif.
Kita sering anggap jam kerja panjang itu bukti dedikasi. Tapi penelitian ini bilang bahwa di titik tertentu, itu cuma ilusi produktivitas. Udah badan capek, tapi hasilnya nggak nambah.
Kerja keras itu penting. Tapi kerja panjang GAK SELALU artinya kerja produktif.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Pencavel, J. (2015). The productivity of working hours. The Economic Journal.
@yappingfess klo videonya viral harusnya gak lama pt indomarco nya bertindak.mrka dulu sih galak ya klo ada pegawainya yg dikomplain, langsung mutasi tempat lain keknya. cm gatau deh sekarang gimana.
Tahukah kamu, bahwa kalau kamu nggak suka americano, itu nggak apa-apa?
Kalau kamu belum pernah nyoba donat dari kios masa kini, itu pun ngak apa-apa.
Kalau kamu ngerasa salt bread rasanya aneh, itu juga nggak apa-apa.
Kalau kamu belum pernah denger lagu dari artis edgy yg temen2 kamu omongin, juga ga apa-apa.
Di antara banyaknya hal penting dalam hidup, banyak juga hal di dunia ini yg enaknya dibawa selow ajalah. Nggak juga gapapa..
@MiskinTV_ Sebuah alasan, kenapa wajah Nabi muhammad Saw tidak boleh di lukis.
Al qur'an sudah lebih dulu buat road mapping Tentang masa depan bumi ini.