Saya sempat mendaftar BUDI LPDP waktu itu, namun waktu yang diberikan utk melengkapi syarat2 hanya 5 hari efektif. Di buka hari senin, hari jum'at terakhir hari kerja, setelah itu libur hari raya idul fitri. Bisa kebayang gimana kesulitan yg dihadapi #doktortiri
Pikir saya, ngapain ambil LPDP yg utk umum. Lagipula syaratnya cukup banyak dan tinggi standarnya, hanya diselesaikan dalam waktu kurang dari dua minggu (sejak pertama sy tahu). Salah satu syarat yg bikin sy mundur adl tes IELTS atau ITP. Alamak, tinggi sekali yg diminta....
Yang lbh menyedihkan, ketika ada dosen yg membahas ttg gaji di forum2 dosen dan ingin berjuang agar lbh sejahtera, yg menjadi musuh adalah sesama dosen sendiri. Dianggap tidak ikhlas, kenapa memilih jd dosen, kenapa tdk sambil bisnis π #dosentiri
Bagaimana bisa Indonesia maju jika gaji dosen saja ada yg di bawah UMR? Okelah SPP kalian setinggi langit, tapi dosen itu pengabdi, Anda nggak bisa kaya dari profesi sbg dosen. Kalau nggak ngontrak rumah, kredit rumah, ya numpang mertua. wkkkk
#doktortiri
2. Kepala keluarga juga ngenes karena membiayai anak-istri. Meski istri juga bekerja, tentu akan lain rasanya jika apa2 harus meminta ke istri. Mungkin istri nggak masalah, tapi tetap saja. Laki2 tanpa uang di sakunya itu jg bencana! Apalagi studi lanjut. Hadeeeeh... #doktortiri
1. Dosen dg tugas belajar itu yg paling ngenes. Meski tidak dibebani tugas mengajar, meneliti, dan mengabdi seperti dosen2 yg dapat izin belajar, serdosnya dihentikan. Ini sih bencana. Saya masih beruntung karena masih dapat tunjangan meski harus kepontal2. Demi jadi #doktortiri
Menempuh studi S3 dg biaya sendiri memberikan tekanan psikologis bagi sy, sehingga kurang bs fokus pd substansi studi saya. Bagamana sy bs fokus jika setiap saat memikirkan bagaimana kelanjutan studi dan hidup sy ke depan #doktortiri
Forum kami masih ada sampai sekarang, tapi melebur ke AMDI sebagai induk. Dari situ kami baru tahu bhw cita-cita kami sama: ingin lulus tanpa dikendalai masalah biaya. Lha wong dosen yg tidak ada masalah biaya saja banyak yg lulus molor bahkan tidak sedikitpun tidak lulus.
Dari obrolan dg teman2 sekelas (kebanyakan memang dosen di kampus itu aja), ternyata ada bbrp yg bernasib serupa. Mulailah bikin forum, mencari informasi ke sana-sini, minta keringanan fakultas sampai univ, hingga menemukan kumpulan dosen yg bernasib sama yg dinamakan AMDI.
Rasanya dunia runtuh, saya merasa putus harapan. Dari mana sy bs meneruskan studi jk pemerintah tdk memberikan beasiswa. Bagaimana sekolah anak2 sy, bagaimana kami bs bertahan di Bandung, sementara serdos dan remunerasi sy sdh distop sejak lama. #doktortiri
Akhirnya Januari 2019 itu muncul satu surat dari Dikti yg mengejutkan. Isinya tidak akan membuka skema on going. Shock. Jelas ini mengguncang saya dan keluarga saya. Nasib, nasib.
#doktortiri
Saya dan suami statusnya tugas belajar, otomatis semua tunjangan tidak lagi kami terima. Bahkan saya harus mengembalikan tunjangan serdos yg terlanjur dibayarkan oleh kampus ke saya sebanyak lbh dr 50 jt ππ #doktortiri
Mana saya masih aktif mengajar, ya meskipun nggak maksimal. Saya mengajar di Semarang, kuliah di Jogja. Habis di ongkos. Satu-satunya hal yg membahagiakan adl istri sy lulus studi S-3nya. Dia merasakan mudahnya mendapatkan on going di tahun ketiganya kuliah. Sy? Calon #doktortiri
Hanya dengan pertolongan Allah saya dan suami bs bertahan studi S3 nya hingga saat ini. Walaupun sy harus mengambil keputusan sulit, yaitu cuti di semester 5. Tapi saya tetap berdo'a, semoga kami segera mendapat beasiswa sehingga bs bayar UKT di smt 6 π’π’ #doktortiri
Sampai berbulan-bulan studi lanjut tanpa ada pengumuman dari Dikti, mulai gelisahlah saya. Mana ini, sejak 1976 kok ya nggak segera diumumkan. Bensin sudah menipis. Januari mulai masuk semester dua. Nggak cuma gelisah, tapi saya mulai stres.
#doktortiri
Sy yang kebetulan melanjutkan studi bersamaan dg suami, memboyong semua anak2 pindah ke Bandung. Waktu itu lumayan biaya yg dibutuhkan, SPP utk berdua, biaya pindahan, kontrak rmh, pindahkan anak2 sekolah (di Bandung luar biasa mahal menurut sy). #doktortiri
Saya ke bank yg payroll gaji di sana, bawa ijazah S-2, dan dg terpaksa kreditlah... Nggak banyak sih, tp jangka waktunya lima tahun! Cuma utk bayar UKT, sebagian bayar kontrakan. Habis. Pikir saya, pastilah Dikti membuka BPPDN. Tapi mungkin skemanya on going.
#doktortiri
Sy juga yakin memutuskan utk melanjutkan studi pada tahun 2018 karena yakin akan dapat BPPDN. Teman sejawat sy yang sdh melanjutkan sebelumnya bahkan bercerita bahwa di angkatannya BPPDN (dulu BPPS) di buka hingga 3 batch setahun. #doktortiri
Informasi pertama yg paling jelas adalah angkatan S-3 tahun 2017 berdemonstrasi meminta jatah penyaluran beasiswa. Dan dikabulkan. Saya sangat optimistis karena sejak tahun 1976 Pemerintah rutin mengeluarkan beasiswa utk para dosen yg menempuh studi lanjut.
Saya menunggu giliran hingga 10 tahun. Sedihnya diantara semua dosen di prodi saya yg sdh mengambil S3 hanya saya yg tdk dapat beasiawa, angkatan sebelum dan setelah saya semua dapat beasiswa BPPDN atau BUDI DN #doktortiri
Waktu saya mendaftar S-3 pada 2018 jelas saya bahagia karena izin studi dari pimpinan sudah keluar. Sudah lima tahun saya menanti. Banyak dosen lain yg menunggu jauh lebih lama, bahkan sampai usia 50 tahunan belum juga dapat izin. Lalu mulailah cari info sana-sini.
#doktortiri
Sy mencoba meminta bantuan ke kampus sy agar studi sy ttp bs berlanjut, dan sy sangat sedih ketika salah seorang pimpinan mengatakan tdk bersedia memberi karena status sy tubel. Waktu dijelaskan sy blm dpt beasiswa katanya siapa suruh tdk mengurus. Pak please π’ #doktortiri
Yg kedua tersulit adalah pendanaan. Tentang kampus tujuan biasanya relatif lebih mudah dan siap belajarnya bisa saat kuliah. Tapi siapa yg mendanai studi lanjut? Fyi, sangat sedikit kampus yg mampu membiayai kebutuhan studi lanjut dosen-dosennya.
#doktortiri
Saya harus tugas belajar, tdk punya pilihan, mengingat saya dari Pekanbaru dan kampus tempat studi saya di Bandung. Konsekuensinya sdh jelas, segala tunjangan dicabut, dan ironisnya hingga saat ini blm dapat beasiawa. #doktortiri
Atasan (kaprodi, dekan, rektor) tidak dg mudah itu mengeluarkan izin belajar, dan hampir tidak mungkin tugas belajar (jika jauh sekali/beda pulau dg tempat bekerja). Banyak yg dipertimbangkan, mulai dari siapa yg menggantikan si dosen mengajar, siapa yg memimpin, dsb.
#doktortiri
Terkait izin atasan, sy bahkan sdh diwanti2 sm atasan saat interview seleksi CPNS dulu. Atasan mengatakan bahwa saya harus bersabar menunggu giliran utk bs lanjut studi. Yaa saya bersabar hingga 10 tahun, bahkan ada yg lebih lama.. #doktortiri
Syarat studi lanjut itu ada empat yg krusial menurut saya:
(1) izin atasan,
(2) kampus tujuan mau menerima,
(3) kondisi siap belajar mandiri, dan
(4) pendanaan.
Yg paling sulit ada dua, yakni nomor satu dan nomor empat.
#doktortiri
Saya bahkan menunggu giliran untuk bs melanjutkan S3 hingga 10 tahun. Saat giliran sy tiba dengan semangat saya menyiapkan semuanya. Tapi terkait dana saya tidak memikirkan sama sekali, karena saya yakin ada BPPDN #doktortiri
Saat pertama diterima jadi dosen, saya berpikir ingin langsung studi lanjut. Yg kami tahu sblm jadi dosen, studi lanjut S-3 itu dibiayai negara. Pemerintah jg saya dengar2 menggenjot jumlah dosen lulusan S-3.
Tapi studi lanjut tidak semudah itu, Ferguso.....
π€£π€£π€£
#doktortiri
Dosen sekaligus mahasiswa pada waktu yang bersamaan. Percayalah sungguh tidak mudah perjuangannya, mengingat hingga semester 5 belum juga ada kepastian beasiswa #doktortiri
Sudah semingguan topik dosen selalu ramai dibahas, utamanya oleh para mahasiswa. Malam ini saya mau bikin UTAS (thread) tentang nasib para dosen yg juga berstatus sbg mahasiswa alias studi lanjut. Banyak yg jd stres, putus asa, bahkan hampir gila. Mahasiswa boleh juga menyimak.
Semoga Allah menggerakkan hati para pemimpin kita sehingga mahasiswa doktor angkatan 2018 diberikan juga beasiswa on going, seperti angkatan lainnya #doktortiri
Padahal, saya adalah satu dari sekian calon #doktortiri. Ceritanya panjang. Sudah berlangsung dua tahun ini. Jadi, UTAS ini saya susun sampai jam 9. Intinya, nanti kalau kalian jadi pejabat, janganlah membuat kebijakan seenaknya.