@AnTheWitch Kali ini firasat buruk yang menyerang. Ia merasa merinding karena alasan yang tidak jelas.
Ia berhasil mengingat benda tajam di sekitarnya. Ia berhenti bergerak, lalu memandang si gadis kecil meski terdapat sedikit keraguan.
". . . Bisa lakukan sesuatu dengan benda tajam ini?"
@AnTheWitch "Mashima-sensei pasti terinspirasi darimu," ucapnya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, bergantian namun perlahan. Suaranya yang lemah dan pelan juga tak berubah meski ia merasa kagum pada si gadis kecil.
Ia bahkan melupakan sekumpulan benda tajam yang menggores wajahnya.
@AnTheWitch Sebodoh apapun, selambat apapun otaknya berjalan saat menghadapi hal yang tak menarik baginya, ia tentu tahu kalau ia sedang berada dalam bahaya.
Tapi . . bahaya hari ini lumayan keren dan menegangkan. Ia mulai merasa sedikit senang.
"Bagaimana caranya?"
@AnTheWitch "Terlalu banyak kata-kata sulit, aku tidak mengerti."
Ia lalu mengalihkan pandangannya, memilih untuk tidak menjawab. Lagipula, memberi jawaban pun pasti nanti akan diberi pertanyaan lainnya. Ia terlalu malas melayani si gadis kecil.
@AnTheWitch Butuh waktu lebih dari dua menit bagi otaknya untuk memproses apa maksud ucapan si gadis kecil. Benda aneh itu . . . tidak asing baginya.
Oh, benar juga. Itu ponsel miliknya.
Ia merenggangkan badannya dan menguap. Lalu menjawab, "Mungkin . . iya?"
@AnTheWitch Kerikil itu berhasil mengganggu waktu tidurnya yang berharga. Ia terbangun, dan dengan malas melihat ke arah lemparan berasal.
". . . ?"
Aneh. Ia merasa pernah melihat gadis itu sebelumnya, tapi entah di mana. Lagipula tempat aneh ini bukan kamar tidurnya. Mengapa ia di sini?
@AnTheWitch Baginya, tidak ada perbedaan antara pagi dan malam. Ia tidak merasakan suasana pagi yang indah seperti yang dirasakan si gadis kecil. Jiwa dan raganya terlalu lelah untuk memikirkan apa yang sedang ia alami.
Karena itulah ia terus tertidur nyenyak, seolah tak ada yang terjadi.
@AnTheWitch Kepalanya membentur sesuatu. Bahkan tangan dan kakinya juga merasa tidak leluasa. Setelah belasan tahun hidup di dunia, ini pertama kalinya ia tidak bisa bergerak bebas saat malam tiba.
". . . ."
Tak ada pilihan lain. Ia mengambil posisi duduk, menyandarkan kepala, dan tidur.
@AnTheWitch Sangat disayangkan karena perhatiaannya fokus pada ponsel yang entah ia simpan di mana. Saku celananya kosong, begitu juga dengan saku di jaketnya.
Saat ia mulai menyerah, barulah ia menyadari suasana gelap dan hujan yang berhenti tiba-tiba. "Sudah malam ?", ucapnya.
@AnTheWitch Ia juga tak banyak berbicara dan lebih memilih untuk menunggu jawaban atas pertanyaan pertamanya. Namun gadis kecil itu tetap diam, hingga ia memilih untuk berbalik badan dan berpetualang di sekitar rumah misterius itu.
Oh, ya. Ia baru ingat kalau ia sedang mencari ponselnya.
@AnTheWitch Ia balik bertanya, ". . Apa aku harus takut ?"
Orang asing di hadapannya hanya seorang anak kecil yang tinggal di rumah tersembunyi dan bisa melakukan pertunjukan sulap. Respon yang pantas, menurutnya, adalah belajar pada anak tersebut sampai ia merasa bosan.
@AnTheWitch "Bagaimana caranya membuat api seperti tadi ?"
Ini adalah salah satu momen yang sangat langka, karena seorang "Mafu" bersedia memulai pembicaraan pada orang asing, di tempat asing, di kondisi yang asing pula. Ia juga tampak tak mempedulikan cuaca saat itu.
@AnTheWitch Berkat api itu, kesenangannya tertunda sementara. Ia melihat ke arah api yang akan mengotori sepatunya, lalu ke anak kecil yang bermain dengan tongkat aneh.
". . . Ah-" Ia membuka mulutnya, diam beberapa detik, kemudian menutupnya kembali dan menghela napas.
@AnTheWitch Rumah misterius ini sangat mirip dengan ilustrasi salah satu penulis kesukaannya, meski ada beberapa detail yang terlewat.
". . harus memberitahu yang lain." Ia berucap lembut dan pelan. Tangannya mulai sibuk mencari sebuah benda yang mungkin disimpan di saku celananya.
@AnTheWitch Ia berjalan mendekati rumah misterius itu, dan berhenti saat ia bisa menyentuh dinding rumah dengan kedua tangannya.
Wajahnya yang datar tampak sedikit berseri, merasa senang entah karena alasan apa. Bahkan ia sempat mengelus dinding itu dengan pipinya, kemudian memberi pelukan.
@AnTheWitch -- atau komputer. Apa yang ia rasakan saat ini terlalu nyata. Satu-satunya yang terlintas di benaknya hanyalah seseorang yang memiliki niat jahat membawanya ke tempat aneh ini.
@AnTheWitch Tentu saja ia menggeleng. Untunglah seseorang yang dekat dengannya senang bermain game sehingga ia mengetahui istilah itu. Karena itulah, ia yakin dirinya tidak berada di dalam game.
Penjelasan singkatnya, ia merasa tidak mungkin seseorang bisa masuk ke dalam layar ponsel --
@AnTheWitch -- tertulis: Lingkaran bersinar tadi apa? Potion itu apa? Mantra sihir itu apa? Kucing besar ini apa? Sebenarnya ini di mana? Kamu siapa? Apa ada orang lain di sini?
@AnTheWitch Akhirnya ia bertemu dengan teman setianya, kertas dan pena. Ia meraihnya dengan sangat semangat. Bahkan hampir empat menit berlalu sejak ia sibuk menulis berbagai kata pada kertas tersebut.
Setelah ia selesai menulis, kertas pun diberikan kepada sang gadis. Pada kertas itu --