Habis commute jam pulang kerja pake KRL atau TJ di cuaca begini tuh.. jujur cape bgt di muka sama badan. Berasa kusam & lengket kena polusi+keringet karena “war” di stasiun😞
Ini isi tas aku akhir2 ini cuma 2 benda ini biar tetep manusiawi pas nyampe tujuan.
@LambeSahamjja Percayalah bang capeknya bukan main dgn usaha, lihat penghasilan kotor memang menggiurkan tapi high risk usaha ini tuh, peluru nya dari segala arah wkwk
Semangat bagi pelaku usaha parkiran motor di dekat stasiun
Ini bener banget, dulu usaha parkiran orang tua saya didatengin sama dishub, dengan arogannya minta 500 rb perbulan sebagai pajak usaha padahal ga ada hubungan sama dishub harusnya, pas saya tunjukin nomor pembayaran pajak usaha parkiran ortu saya yg dipajang langsung pada kabur
Abdul Kodir (42), pemilik parkir sepeda motor di dekat Stasiun Cakung, Jakarta Timur, mengaku bahwa dirinya harus membayar ke Dinas Perhubungan (Dishub) untuk meminta izin.
_
"Kami izin ke Dishub aja. Per bulannya ada yang minta Rp 600.000. Itu kena bulanan. Itu biaya izin aja, sebenarnya," ujar Kodir saat ditemui di kediamannya, Senin (29/1/2024).
_
Kodir tak menampik bahwa dirinya heran dengan adanya biaya untuk izin parkir.
_
Sebab, parkiran motor yang ia kelola berada di halaman rumahnya sendiri.
_
"Padahal ini kan (parkiran motor) fasilitas pribadi. Kita kan enggak pakai akses jalan pemerintah, ini tanah pribadi," jelasnya.
_
Adapun Kodir membuka jasa parkir motor untuk para pengguna kereta api yang naik dari Stasiun Cakung. Setiap harinya, warga asli Betawi itu mendapat penghasilan tidak kurang dari Rp 1 juta dari 150 motor yang terparkir di rumahnya.
_
"Per motor kami beri tarif Rp 5.000. Dari pukull 05.00 WIB, sampai pukul 00.00 WIB. Semuanya, kami jaga. Sampai kereta terakhir jam 12.15 WIB. Kalau menginap, itu Rp 15.000," kata Kodir.
_
"150 motor sehari. Jadi total kotornya itu bisa Rp 1 juta, tidak kurang," lanjutnya. (Kompascom)