PRABOWO & KDM KALAH SAMA UAS
PIDATO INSPEKTUR UPACARA TERBAIK TAHUN INI JATUH KEPADA USTADZ ABDUL SOMAD.
PESANNYA
- JELAS
- LUGAS
- TEGAS
TIDAK PANDAI BER-TELE-TELE LANGSUNG KEINTINYA
KALO ANAK BUTUH MAKAN MAKA ***
Ketika XD ini pulangkan Rank 1 dan 2 dunia, di rumahnya sendiri...
😎
Sekiranya, kalau mereka main..
Sedikit tenang dan yakin bisa juara.
Kalau di MD seperti Minions, Daddies dan Fajar Rian.
😌
Maaf, XD kami sekarang lagi...
Terlalu cepat berakhir XD Indonesia setelah PraMel.
Kiandra Ramadhipa, 16 thn, asal Sleman membuat Indonesia Raya berkumandang di Sachsenring, Jerman.
Ini adl kemenangan kedua Rama di Red Bull MotoGP Rookies Cup '26, menegaskan statusnya sbg salah seorang prospek terbaik Indonesia di balap motor dunia.
⚠️⚠️MENOLAK LUPA⚠️⚠️
Kontroversi Lolosnya Qatar dan Saudi di Piala Dunia 2026:
✅Pembatalan status tempat netral secara sepihak. Pada awal proses kualifikasi, AFC memberi tahu negara2 peserta bahwa putaran 4 akan dimainkan di tempat netral
✅Secara tiba-tiba, AFC mengumumkan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah untuk seluruh pertandingan di grup mereka masing2 tanpa adanya transparansi atau kriteria pemilihan tuan rumah yg benar2 jelas.
✅Hal ini membuat Qatar dan Arab Saudi diuntungkan karena bisa bermain di kandang sendiri. Sementara negara lain (Irak, UEA, Indonesia, dan Oman) harus main tandang.
✅Jadwal pertandingan yang tak adil dan adanya diskriminasi waktu istirahat. Arab Saudi dan Qatar ditempatkan sebagai unggulan teratas. Jadwal diatur sedemikian rupa sehingga kedua negara ini mendapatkan waktu istirahat selama 6 hari di antara pertandingan mereka.
✅Sebaliknya, tim lawan yakni Irak, UEA, Indonesia, dan Oman dipaksa bermain dgn jeda hanya 3 hari (72 jam). Para pelatih memprotes keras karena durasi ini sangat tidak cukup untuk pemulihan fisik pemain.
✅Polemik status top seeds. Terdapat ketidakselarasan alasan antara AFC dan FIFA mengenai mengapa Qatar dan Arab Saudi jadi unggulan teratas. AFC berdalih karena peringkat FIFA mereka yang tinggi. Sementara FIFA menyebut di situsnya karena mereka adalah negara host untuk menjaga agar tidak berada di satu grup.
✅Terjadi pemangkasan kuota tiket untuk suporter UEA saat melawan Qatar di Doha hanya menjadi 8%. Padahal di pertandingan sebelumnya di stadion yang sama mereka dpt jatah 33%. Hal ini memicu kerusuhan di tribun penonton setelah pertandingan.
✅Ada dominasi gurita politik negara teluk di AFC dan monopoli jabatan. Struktur kepemimpinan AFC didominasi oleh figur dari negara teluk (Presiden dari Bahrain, Wakil Presiden dan Ketua Komite Keuangan dari Arab Saudi, dan Ketua Komite Kompetisi dari Qatar).
✅Sebagian besar sokongan dana terbesar AFC disuplai oleh perusahaan raksasa asal Teluk (Aramco, NEOM, beIN, Qatar Airways, QatarEnergy).
Qatar dan Saudi, dua negara yang merusak fairplay dalam kualifikasi memang lolos. Tapi mereka akhirnya dibantai dgn skor2 telak di Piala Dunia 2026.
Hanya satu kata: mampus!
Di dunia era post truth ini kadang kita susah membedakan mana BADUT & TOKOH..
Dulu ada pribadi yg memukau, sampai dielu²kan bak dewa ternyata seorang badut, kita ga peka terhadap kepalsuan.
Emosi mengalahkan semua fakta, akhirnya kita memakluminya dengan "manusia percaya atas apa yg dia suka".
Masih inget The Lord Rangga si penggagas Sunda Empire?
Mungkin mirip dengan Dharma Pangrekeun ya..
Coba deh simak videonya, silahkan nilai sendiri apakah bliyow seorang badut ato tokoh...
Teruntuk Coach John Herdman
Coach, baru-baru ini saya mendengar Anda berulang kali mengatakan bahwa bermain untuk Timnas Indonesia berarti mewakili 280 juta jiwa di negeri ini. saya mengangguk dalam hati. benar coach, Ini bukan sekadar hadir, bagi sebagian orang ini adalah napas sebuah bangsa.
Beberapa waktu terakhir ini juga, saya melihat berita, coach memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada 26 hingga 30 Mei untuk persiapan awal jelang ASEAN Championship 2026
Saya membaca daftar itu dengan penuh harap, penuh talenta muda, pemain-pemain yang lapar akan prestasi, dan wajah-wajah baru yang membawa angin segar. langkah yang baik, Coach.
Namun sambil melihat nama-nama itu, saya memutar kenangan ke belakang, entah kenapa saya terbawa kembali ke suatu momen, betapa pilunya malam-malam final AFF dulu.
Jalanan yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi sepi senyap, orang-orang meninggalkan rumah, berkumpul di balai warga, warung kopi, atau nobar bersama keluarga.
Semua menahan napas, berdoa, berteriak, dan akhirnya menangis dalam diam ketika mimpi itu kembali pupus di garis akhir. seringkali kali kita hampir menyentuh langit, tapi selalu jatuh di ambang pintu juara.
Di tengah pergantian era yang penuh harapan ini, di mana Indonesia mulai diperhitungkan lagi di Asia Tenggara bahkan cita-cita kita ke piala dunia, ada satu nama yang tak pernah pudar di hati saya, atau mungkin banyak orang, pemain tersebut bernama Boaz Solossa.
Legenda hidup yang pernah dua kali merasakan tulang kakinya patah saat membela Timnas Indonesia, tapi tetap bangkit dan terus bermain hingga usianya tak lagi muda.
Maka izinkan kami, orang-orang yang merasakan patah hati dan menangis di Final AFF berkali-kali itu menyampaikan satu permintaan yang tulus, atau mungkin terasa cukup berbeda, Panggillah Boaz ke dalam skuad Timnas untuk ASEAN Championship ini.
Bukan untuk menjadi pemain inti yang terus bermain 90 menit, bukan untuk memikul beban berat, melainkan sebagai simbol indah dari transisi era yang kita jalani, saya percaya lebih banyak efek positifnya dibandingkan efek negatif jika Legenda hidup itu dipanggil ke Timnas Indonesia
Biarkan ia hadir di antara transisi pemain-pemain diaspora yang datang dari Eropa dan talenta-talenta muda dari Sabang sampai Merauke, bagaimana simbol mimpi yang pernah kira rajut pelan-pelan bisa saja terwujud, saya percaya itu.
Jauh sebelum nama-nama hebat kami teriakan di Tribun seperti Jay, Marselino, Ole, Kevin Diks atau pemain lainnya yang menghiasi era transisi ini, ada satu nama yang selalu melekat di hati kami yaitu Boaz Sallosa, gocekannya, lincahnya kakak boci, dan luar biasanya talenta itu, terekam jelas di memori kami.
Kami ingin melihat legenda ini seyogyanya mengenakan jersey Merah Putih sekali lagi, kami ingin menyaksikan ia ikut merayakan, mengangkat piala, dan menutup lembaran air mata masa lalu.
Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kita semua untuk membuktikan bahwa semua kegagalan di final-final AFF dulu bukan akhir cerita, melainkan awal dari kejayaan yang sedang kita bangun.
Panggilan untuk Boaz adalah jembatan,
Jembatan antara generasi dengan generasi yang akan menjadi juara, era di mana Indonesia mulai ditakuti lagi, saya percaya kualitasmu sebagai seorang pelatih Coach, karena dirimu membuat Kanada menjadi poros baru di benua Amerika.
biarkanlah sang legenda ikut menuliskan akhir yang manis.
Karena sepak bola adalah tentang mimpi, dan mimpi yang paling indah adalah yang akhirnya terwujud, meski harus patah dan tumbuh berkali-kali.
Terima kasih, Coach.
Jika permintaan ini diijinkan, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak pendukung Timnas yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Terbang tinggi Garuda
Teruntuk Coach John Herdman
Coach, baru-baru ini saya mendengar Anda berulang kali mengatakan bahwa bermain untuk Timnas Indonesia berarti mewakili 280 juta jiwa di negeri ini. saya mengangguk dalam hati. benar coach, Ini bukan sekadar hadir, bagi sebagian orang ini adalah napas sebuah bangsa.
Beberapa waktu terakhir ini juga, saya melihat berita, coach memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada 26 hingga 30 Mei untuk persiapan awal jelang ASEAN Championship 2026
Saya membaca daftar itu dengan penuh harap, penuh talenta muda, pemain-pemain yang lapar akan prestasi, dan wajah-wajah baru yang membawa angin segar. langkah yang baik, Coach.
Namun sambil melihat nama-nama itu, saya memutar kenangan ke belakang, entah kenapa saya terbawa kembali ke suatu momen, betapa pilunya malam-malam final AFF dulu.
Jalanan yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi sepi senyap, orang-orang meninggalkan rumah, berkumpul di balai warga, warung kopi, atau nobar bersama keluarga.
Semua menahan napas, berdoa, berteriak, dan akhirnya menangis dalam diam ketika mimpi itu kembali pupus di garis akhir. seringkali kali kita hampir menyentuh langit, tapi selalu jatuh di ambang pintu juara.
Di tengah pergantian era yang penuh harapan ini, di mana Indonesia mulai diperhitungkan lagi di Asia Tenggara bahkan cita-cita kita ke piala dunia, ada satu nama yang tak pernah pudar di hati saya, atau mungkin banyak orang, pemain tersebut bernama Boaz Solossa.
Legenda hidup yang pernah dua kali merasakan tulang kakinya patah saat membela Timnas Indonesia, tapi tetap bangkit dan terus bermain hingga usianya tak lagi muda.
Maka izinkan kami, orang-orang yang merasakan patah hati dan menangis di Final AFF berkali-kali itu menyampaikan satu permintaan yang tulus, atau mungkin terasa cukup berbeda, Panggillah Boaz ke dalam skuad Timnas untuk ASEAN Championship ini.
Bukan untuk menjadi pemain inti yang terus bermain 90 menit, bukan untuk memikul beban berat, melainkan sebagai simbol indah dari transisi era yang kita jalani, saya percaya lebih banyak efek positifnya dibandingkan efek negatif jika Legenda hidup itu dipanggil ke Timnas Indonesia
Biarkan ia hadir di antara transisi pemain-pemain diaspora yang datang dari Eropa dan talenta-talenta muda dari Sabang sampai Merauke, bagaimana simbol mimpi yang pernah kira rajut pelan-pelan bisa saja terwujud, saya percaya itu.
Jauh sebelum nama-nama hebat kami teriakan di Tribun seperti Jay, Marselino, Ole, Kevin Diks atau pemain lainnya yang menghiasi era transisi ini, ada satu nama yang selalu melekat di hati kami yaitu Boaz Sallosa, gocekannya, lincahnya kakak boci, dan luar biasanya talenta itu, terekam jelas di memori kami.
Kami ingin melihat legenda ini seyogyanya mengenakan jersey Merah Putih sekali lagi, kami ingin menyaksikan ia ikut merayakan, mengangkat piala, dan menutup lembaran air mata masa lalu.
Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kita semua untuk membuktikan bahwa semua kegagalan di final-final AFF dulu bukan akhir cerita, melainkan awal dari kejayaan yang sedang kita bangun.
Panggilan untuk Boaz adalah jembatan,
Jembatan antara generasi dengan generasi yang akan menjadi juara, era di mana Indonesia mulai ditakuti lagi, saya percaya kualitasmu sebagai seorang pelatih Coach, karena dirimu membuat Kanada menjadi poros baru di benua Amerika.
biarkanlah sang legenda ikut menuliskan akhir yang manis.
Karena sepak bola adalah tentang mimpi, dan mimpi yang paling indah adalah yang akhirnya terwujud, meski harus patah dan tumbuh berkali-kali.
Terima kasih, Coach.
Jika permintaan ini diijinkan, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak pendukung Timnas yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Terbang tinggi Garuda
🇮🇩🦅 𝙂𝘼𝙍𝙐𝘿𝘼 𝘾𝘼𝙇𝙇𝙄𝙉𝙂
John Herdman names a 44-man provisional squad for June FIFA window.
First senior call-ups for Alfharezzi Buffon, Brian Fatari, Eksel Runtukahu, Fajar Fathurrahman, Rizky Eka and Tim Geypens ✅
Dean James left out ❌
Sebelum negara ini merdekapun pengkhianat itu sudah banyak berkeliaran demi keuntungan pribadi dan kelompoknya.
Jadi jika saat ini makin banyak pengkhianat yg tak ingin negara ini maju pastilah mereka itu anak keturunan yg memfitnah dan menyingkirkan Tan Malaka
Sebelum negara ini merdekapun pengkhianat itu sudah banyak berkeliaran demi keuntungan pribadi dan kelompoknya.
Jadi jika saat ini makin banyak pengkhianat yg tak ingin negara ini maju pastilah mereka itu anak keturunan yg memfitnah dan menyingkirkan Tan Malaka
Guys, ada satu kalimat dari Dr. Bagus Muljadi — dosen di University of Nottingham, PhD dari National Taiwan University, peneliti di Imperial College London yang menurut gue adalah salah satu kalimat paling jujur tentang kondisi Indonesia yang pernah gue dengar.
"Inkompetensi itu membunuh lebih banyak daripada kejahatan."
Dan dia bukan bicara tentang kebodohan.
Dia spesifik banget membedakannya.
Kebodohan bisa datang dari lahir, dari keterbatasan akses, dari kondisi yang tidak dipilih.
Tapi inkompetensi adalah kemalasan yang dijadikan kultur secara sengaja dan kebodohan yang dari lahir yang tidak dicerdaskan, padahal bisa.
Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan Indonesia sedang hidup dengan yang kedua.
Tentang pendidikan dan ini yang paling bikin gue panas dingin:
Ada data dari Kemdikbud sendiri yang menyebut bahwa kemampuan matematika guru SD di daerah-daerah bahkan bisa di bawah kemampuan siswa SMP di Jakarta.
Bukan guru antar guru dibandingkan.
Tapi guru dibandingkan dengan muridnya sendiri yang lebih muda.
Soal pecahan konsep yang harusnya dikuasai 100% oleh seorang guru SD masih ada yang salah.
Dan orang-orang inilah yang kita harapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk jadi raksasa semikonduktor, untuk menguasai hilirisasi, untuk bersaing di dunia.
Bagus bilang dengan sangat lugas:
kalau guru SD-nya tidak punya kapasitas itu, dan kita fokus pada hal lain selain kualitas gurunya no hope.
Soal anggaran dan ini yang paling sering salah dipahami publik:
Banyak orang berpikir masalah pendidikan Indonesia selesai kalau anggarannya dinaikkan.
Naikkan gaji guru, bangun gedung baru, kasih smartboard, kasih Chromebook beres.
Bagus punya perhitungan sederhana yang membantah logika itu.
Kalau Indonesia punya 3 juta guru dan mau menggaji rata-rata Rp10 juta per bulan itu 30 triliun per bulan, atau 360 triliun per tahun.
Sementara anggaran pendidikan dari 20% APBN sekitar 400 triliun.
Hampir semua tersedot hanya untuk gaji, belum infrastruktur, belum pelatihan, belum yang lain-lain.
Artinya: anggarannya memang tidak cukup kalau hanya dilihat dari sisi angka.
Tapi yang lebih penting bahkan kalau anggarannya cukup pun, masalahnya tidak selesai.
Karena guru yang berkualitas rendah dikasih gaji tinggi tidak otomatis menjadi guru yang berkualitas tinggi.
Institusi yang mendidik guru juga harus dibenahi. Sistem rekrutmen guru harus berubah.
Kultur mengajarnya harus revolusi.
"You cannot buy yourself out of a problem."
Tentang cara mengajar yang salah dan kisah paling indah dari Taiwan:
Bagus punya pandangan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang tentang apa itu pendidikan.
Mayoritas orang termasuk kebanyakan dosen berpikir tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dari mulut guru ke kepala murid.
Dicekokin.
Dihafalkan.
Dirumuskan.
Dikerjakan.
Tapi Bagus bilang pendidikan yang benar adalah memfasilitasi formasi pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di kepala murid.
Tugas guru bukan memberi tahu tugas guru adalah melatih cara mengeluarkan pemahaman itu sendiri.
Dan dia punya cerita yang menurut gue paling memorable dari seluruh podcast ini.
Di Taiwan, ada seorang profesor yang mengajar persamaan Navier-Stokes salah satu persamaan paling kompleks dalam fisika fluida.
Di tengah menulis di papan tulis tanpa slide, tanpa PowerPoint, cuma spidol dia lupa. Dia diam. Tiga sampai lima menit diam di depan kelas.
Dan seluruh kelas ikut diam bersama dia. Ikut mikir. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menertawakan.
"That was the most beautiful moment.
The whole class stood silent with him."
Itulah pendidikan yang benar. Ketika guru dan murid sama-sama sedang dalam proses menemukan sesuatu. Bukan murid menunggu guru mentransfer jawaban yang sudah jadi.
Kalau dosen cuma baca slide yang sama setiap tahun apa bedanya dengan AI? Kenapa harus ke kelas?
Tentang masalah yang lebih dalam identitas dan postkolonial mindset:
Ini yang paling jarang dibahas tapi menurut Bagus paling fundamental.
Orang Inggris kalau ditanya leluhurnya siapa, akan menyebut Isaac Newton, John Stuart Mill, Adam Smith orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.
Ada rasa malu kalau tidak menghargai pendidikan.
Orang Taiwan dan Cina membawa beban bahwa mereka adalah custodian kehormatan keluarga. Mereka harus berprestasi di dunia pendidikan.
Kalau orang Sunda atau orang Bugis ditanya leluhurnya siapa apakah ada jawaban yang sama kuatnya?
Bukan karena tidak ada.
Tapi karena narasinya tidak pernah dibangun.
Bagus sudah membuktikan bahwa tradisi jurisprudensi masyarakat Sunda kuno ada dan kompleks tujuh lapisan pemecahan masalah hukum yang jauh lebih kaya dari sekadar hukum tertulis yang kita adopsi buta-buta dari Napoleon via Belanda.
Bukti longsor tanah di Bogor 2019 ternyata pola sebarannya persis seperti yang sudah diprediksi dalam manuskrip Sunda kuno warugan lemah.
Dan ilmu bumi yang Bagus nikmati di Imperial College London batu gamping yang ada di lorong gedung itu berasal dari Sumatera. Objeknya dari Nusantara, tapi pengetahuannya dihasilkan oleh Barat.
Lagaligo kitab sastra Bugis yang panjangnya 1,5 kali lipat Mahabharata baru diterjemahkan empat dari dua belas jilid.
Seorang profesor di Unhas yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan sisanya minta dana hanya 400-500 juta untuk tiga bulan kerja tiga orang di Leiden. Tidak dapat.
Karena dianggap bukan STEM, tidak ada hilirisasinya.
Itu adalah ironi yang sangat menyakitkan.
Kita sedang membangun hilirisasi nikel sambil membiarkan hilirisasi pengetahuan leluhur kita membusuk di arsip Belanda.
Tentang berpikir cross-disipliner dan kenapa Indonesia tidak bisa:
Bagus punya cara pandang yang unik.
Dia menggunakan konsep Reynolds Number dari mekanika fluida untuk memahami perdebatan nasionalisme vs liberalisme.
Dia melihat pertarungan antara kolektivisme dan individualisme seperti pertarungan antara inertial forces dan viscous forces dalam aliran fluida.
Terlalu banyak nasionalisme kaku tanpa ruang individu turbulen, kacau.
Terlalu banyak liberalisme tanpa kohesi sosial juga tidak stabil.
Seorang engineer tidak bertanya mana yang benar. Dia bertanya mana yang optimal.
Tapi di Indonesia, orang yang berpikir lintas disiplin seperti itu justru dianggap aneh atau tidak kompeten karena keluar dari "domain"-nya.
Padahal di luar negeri, justru itulah yang membuat seseorang bisa jadi permanent academic karena dia bisa menjawab masalah dari berbagai arah.
Kalimat terakhir yang paling gue ingat:
"Berpikir itu kodratnya the Dutch colonizers, bukan kita. Kita makannya kerja."
Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu adalah warisan mental tiga ratus tahun yang masih mengalir dalam cara kita mendidik anak, cara kita merekrut guru, cara kita menghargai intelektualitas.
Sampai kita berani bilang ke dunia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan monopoli Barat bahwa Nusantara adalah sumber,
bukan hanya objek penelitian kita tidak akan keluar dari feodalisme yang mengungkung kemampuan berpikir kritis itu.
Selamat malam, kawan-kawan, sanak-kadang dan handai taulan. Ingin mengabari saja, bahwasanya saya dan Kalis dalam keadaan aman dan sehat sentosa. Terlalu sehat, malah.
Suwun buat kawan-kawan yang senantiasa peduli dan menjaga kami.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Kejadian itu sehari setelah Kalis mewakili masyarakat sipil, saya mewakili guru, YLBHI, dua warga, dari kompas dan LBH Jakarta mengadakan webinar tentang MBG dalam rangka memperingati Hardiknas.
Setelah webinar, tempo menurunkan berita tentang cerita kalis bahwa dia mengalami serangan-serangan akibat speak up soal MBG.
Besoknya website pribadi kalis ada yang hack dll. Pokoknya, paska webinar malah diserang lagi. Menurut saya ada kekuatan besar yang sangat sensitif jika bicara soal MBG. Orang dan sekelompok orang ini punya pemikiran bahwa cara mensukseskan MBG adalah dengan cara menutup sebanyak mungkin suara kritis dan protes terhadap MBG.
Agaknya, yang melakukan intimidasi-intimidasi ini berfikir bahwa setiap hal bisa dikendalikan dalam satu komando. Mungkin mereka berfikir, bakteri yang menyebabkan keracunan bisa baris-berbaris dan diperintahkan kemana saja sesuai instruksi.
Cara pandang ini, akan membuat program MBG terus bermasalah dan tidak akan pernah menemui jalan keluar.
*tanggal dalam poster salah ketik.
Setelah kurikulum merdeka, pelajaran sejarah SMA/Sederajat menyusut dari 17 jp (Kurtilas) menyusut menjadi 6 jp (Kurikulum merdeka)
Berikut lembar sejarah berdarah yang hilang:
-Tread-
#Bagongiyah
TERNYATA OH TERNYATA
Ust Rifky ini ponakannya alm. Munir Said Thalib.
Pantes ceramahnya kayak gini... Mewarisi kalimat paman beliau,
"Orang kalau sudah berani sholat, harus berani Amar ma'ruf nahi munkar"