Mau share daily stories selama mungkin 8 hari ke depan hihi! Here we go! Berawal malem2 iseng scroll Ig nemu exchange ke Turkey, alhamdulillah got accepted (jujur gatau gimana milihnya). Apakah semulus itu? Jelas engga, karena izin ke ortu udah kyk sidang skripsi:(
Mbg terbukti membuat anak jadi pintar iniii ujinyaa gimanaa😭😭
dan untuk melihat efek menambah kecerdasan anak tuh gabisa diliat dalam waktu singkat🥲 kok bisa2nya kasih statement kayak gitu😞
pemerintah hadirkan 3 guru untuk sidang di MK bela MBG :
- akui hadir dengan tulus tanpa di bayar
- Gaji guru tidak dipotong
- semua tetap terima gaji & tunjangan penuh
- Jam belajar tidak terganggu
- distribusi MBG lewat guru piket, makan di jam makan siang
- Kehadiran siswa naik, MBG bikin anak rajin sekolah
- Penyelamat bagi yang tidak sarapan terutama siswa TK
- MBG terbukti buat anak siswa jadi pintar
- siswa minta MBG di lanjutkan terus
Bruhh🥲🥲 harusnyaaa yang diajukan tuh subsidi untuk makanan sehat biar bisa dijangkau sama masyarakat -> perbaikan gizi. Kok bisaaa kepikiran begini yaAllahhh
Kualitas anggota dewan kita.
Definisi negara kita memelihara kemiskinan dan kebodohan.
Di 🇮🇩 harga rokok kita udah menjadi salah satu yang termurah di dunia. Eh ini malah mau ditambah murah.
Nanti yang 75% perokok bisa berubah jadi 90%, endingnya BPJS kita terbebani penyakit penyakit akibat rokok!
Sungguh ironi!
Jujur agak ngerasaiin penurunan jumlah pasien di klinik sih._. Baru tersadarkan pas call sama Alda. Dolar ga naik aja kesegilut gajadi prioritas apalagi dolar naik🙂
Tenang, walau 1 dollar skrng udah 18.000
Itu artinya rupiah lagi dilemahin, biar ekspor josss, toh beli tempe goreng masih pake rupiah. Ga pake dolar.
Amanlah.
Itu buktinya ibox, resto mewah, event2 fashion tetep rame.
Ini ulah mata2 asing yg buat gaduh.
Jaya jaya jaya
Masih gapaham esensinya dari main di sawah dan lumpur untuk PK LPDP….
Dosen tuh gaakan nanya “bisa main lumpur atau engga” yang penting tuh belajar cara sitasi ya g bener biar gadituduh plagiasi tulisan orang🥲
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
@azkmemore Ngatasin culture shock di negara orang tuh bukan dengan baris berbaris tapi kasih training tentang plagiarisme 🥲. Pas kuliah kemarin, lupa parafrase aja nilai turun 10% damn🥲😭. Sampe dosennya minta maaf karena harus ngurangin nilai ku hikz. Untung masih lulus
Pembicaraan pasien bocil 5 tahun dan ibunya
👶: “Ibu liat deh hp dokternya shinchan” (maksudhnya case hp gue)
👩:”oh iya”
👶:”kata ibu aku gaboleh liat shinchan kan ya soalnya jorok?”
👩:”emmm”
Gue: *diam*
👶:”ih dokternya jorok”
Gue:*rasanya mau ngilang aja*
✨✨Mau share info loker di Cikarang✨✨
Mungkin teman-teman yang punya kenalan dan berminat di bidang kecantikan bisa dishare ya infonya hihi. Kalau mau tanya2 boleh dm aku juga🥹
Thank you🫶