Panggung Ego
Ilmu itu cahaya. Tapi tidak semua yang tampak bercahaya benar-benar menerangi. Kadang, yang kita kira ilmu hanyalah kilau dari ego yang dipoles rapi.
Dulu, para ulama belajar ilmu untuk memperbaiki jiwa. Mereka menangis karena takut tak mengamalkan apa yang mereka tahu. Hari ini, banyak yang belajar demi menang debat, tampil di forum, mengejar konten di medsos, atau sekadar tampak cerdas di panggung sandiwara kehidupan.
Padahal ilmu yang sejati seharusnya melunakkan, bukan mengeraskan. Membuatmu tunduk, bukan menundukkan. Tapi entah mengapa, semakin tinggi gelar, kok semakin sulit menerima nasihat. Semakin luas bacaan, justru semakin sempit dada terhadap perbedaan. Ada apa, ya?
Entah sejak kapan kita lebih sibuk membicarakan siapa yang salah di dunia, dan siapa yang selamat di akhirat, ketimbang siapa yang paling bermanfaat untuk sesama. Kita lebih senang menilai cara orang lain sujud, daripada mengukur seberapa khusyuk kita sendiri berdiri di hadapan-Nya.
Di panggung kehidupan ini, ilmu kerap jadi alat untuk mengukur orang lain—bukan menimbang diri sendiri. Padahal ilmu itu seperti air: ia hanya mengalir ke tempat yang rendah. Hati yang tinggi tak akan mampu menampungnya.
Jika yang kita cari dari ilmu adalah panggung, maka kita akan terus gelisah: merasa kurang dihargai, kurang dikenal, kurang disebut. Tapi jika yang kita cari adalah terang bagi hati, cukup satu ayat yang menyentuh, atau satu hikmah yang mengubah arah hidup kita.
Karena ilmu tanpa kebijaksanaan justru menjauhkan kita dari sesama—dan dari rahmat-Nya.
Dan kini, saya pun harus bertanya kepada diri ini:
Apakah yang dicari dari ilmu? Terang bagi hati, atau panggung bagi ego?
Kasih, ilmu tanpa mahabbah darimu hanyalah sirāj yang redup cahayanya, yang menutupi nūr wajahku dan mengaburkan basirah mataku…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
#sahabatfalakiyah Insya Alloh Jumat sore 29 Sya'ban 1446H ini LFNU akan gelar penentuan 1 Ramadhan 1446H.
Dari prakiraan kedudukan hilal di ufuk barat Indonesia, maka hanya di Aceh saja hilal ada di zona imkan al-rukyah.
@nu_online@nahdlatululama@YahyaCStaquf@na_dirs
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyambut baik dan siap melaksanakan keputusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan Pendidikan Agama di sekolah.
https://t.co/f1GR6YYlmB
BACA BUKU bukan cuma utk tahu.
Apa sih pentingnya membaca buku? Utk dpt informasi? Pengetahuan? Gak cuma itu. Klo cuma mau tau informasi, googling aja. Pasti nemu. Apa bedanya dapet 100 informasi dr googling satu2 dg baca buku berisi 100 informasi yg sama?
BUAT APA baca buku‽
Maaf saya telat. Dikehidupan nyata kan kita kadang isi galon, masang gas, buang sampah, ngasuh dan lainnya.
Sementara download sendiri dulu aja ya.
RISET BEBAN ADMINISTRASI TERHADAP KESEHATAN MENTAL GURU DI JAWA BARAT
https://t.co/8aE7ELR7vE
Komisi Pemilihan Umum mengucapkan Selamat atas dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Periode 2024-2029.
Semoga senantiasa amanah dalam menjaga serta memajukan bangsa dan negara.
#KPUMelayani
Saya merasa akhir2 ini ada keresahan di sebagian teman2 nahdliyyin yg bermain medsos. Sebabnya adalah serangan dan "negatif sentiment" terhadap PBNU dan Gus Yahya.
Cuitan kali ini hendak saya tujukan kepada teman2 NU untuk sedikit "ngedem2" dan melerai perasaan mereka.
1. Serangan "virtual" atas PBNU dan Gus Yahya akhir2 ini bisa saya pahami. Ada perkembangan2 krusial menyangkut NU yg bisa menjadi bahan "bakar" untuk serangan: konsesi tambang, keberangkatan lima anak NU ke Israel, bahkan Gus Yahya sendiri jg pernah pergi ke sana, dll.
3. Yang lebih krusial lagi adalah "posisi politik" PBNU yg saat ini dekat dg Pemerintah Jokowi pada saat presiden kita ini sudah tidak lg menjadi "hero" bagi kelas menengah seperti tahun2 lalu. Setiap kubu yg berpihak pada Jokowi saat ini sudah pasti rentan menjadi obyek kritik dan serangan. Ini hal yg biasa dlm setiap pertarungan politik.
4. NU adalah ormas besar. Setiap dinamik apapun yg terjadi di dalam dan pada organisasi ini, pasti akan memantik reaksi dan komentar dari publik. Kita harus memaklumi hal ini. Komentar2 itu, baik positif atau negatif, harus dimaknai sebagai pertanda bahwa "NU matters"; NU penting, karena itu menjadi pusat perhatian.
5. Dalam percakapan personal, Gus Yahya jg kadang membicarakan soal sentimen negatif terhadap NU hari2 ini. Salah satu komentar dia yg saya suka kira2 begini: "Saya ini bukan politisi yg peduli elektabilitas. Jadi, saya kurang begitu peduli pada reaksi publik. Saya hanya melakukan sesuatu yg saya anggap benar dan tepat. Reaksi publik seperti apa, monggo saja."
6. Jadi, teman2 NU tidak usah resah dengan sentimen negatif terhadap NU di medsos hari2 ini. Reaksi seperti ini kita maklumi saja. Jika ada sesuatu yg bisa dijelaskan, ya kita jelaskan, seperti soal kunjungan lima teman NU ke Israel itu. Kalau sudah dijelaskan kok masih dicerca terus, ya dibiarkan saja. Namanya juga netizen. Kalau tidak ada cercaan memang tidak seru.
7. Teman2 NU tidak usah terlalu risau dengan sentimen di medsos. Memang percakapan di medsos tidak bisa diabaikan. Tetapi jg jangan terlalu "terfiksasi" atau terpaku oleh isu di medsos. Isu di medsos cepat datang dan pergi. Dan apa yg terjadi di medsos tidaklah mencerminkan realitas sehari2.
8. Teman2 NU tetaplah aktif seperti biasa, memperkuat organisasi di segala tingkatan. Kritik2 dari luar harus kita anggap sebagai "pupuk" penyubur semangat.
9. Terakhir: belum pernah NU sebagai jam'iyyah solid dan kokoh dari pusat sampai ke bawah seperti di zaman Gus Yahya saat ini. Kaderisasi berjalan begitu intensif saat ini di seluruh Indonesia. Pembenahan lembaga dan banom sedang berlangsung dg serius saat ini.
Dengan segala kekurangannya, PBNU di bawah Gus Yahya berjalan kompak dan solid saat ini. Serangan2 kepada PBNU saat ini justru mengingatkan saya pada era Gus Dur dulu. Di zaman Gus Dur dulu, NU mengalami situasi serupa: menjadi sasaran kritik dari begitu banyak pihak, karena Gus Dur berani mengambil keputusan yg kadang kontroversial, dan berani berpikir "non-linier".
Alhamdulillah, "bakat" berani bertindak non-linier ini diwarisi anak2 NU sejak dulu hingga sekarang. Ini positif karena bisa menghidupkan diskusi, perdebatan, polemik, kontroversi. Suasana jadi hidup. Islam pun jadi dinamis.
Kalau ingin tidur nyaman dan tidak kontroversial, ya diam saja dan jadilah sosok yg menyenangkan semua pihak. Tetapi dengan begitu, anda tidak menjadi apa2.
Sekian.