Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
โEMANG GUE PIKIRINโ dan disambut tepuk tangan yang meriah
Kalian kalo selalu bilang demo bikin macet, nih liat yg bikn macet tu justru silop dan ijo.
Mahasiswa aja lewat jalur busway.
Pas ditanya alesannya masuk ke jalan:
1. "Mau nyeberang" (tapi kok ga jalan)
2. "Gatau, ikut perintah komandan"
Dari BEM UI:
Halo, UI dan Indonesia!
Ekonomi makin terpuruk. Rupiah ambruk, harga kebutuhan melambung, lapangan kerja hilang, utang negara membengkak, sementara rakyat makin menderita.
Pemerintah terlalu sibuk memperkuat kekuasaan dan melindungi oligarki hingga lupa, atau memang tidak peduli terhadap penderitaan rakyat kecil.
Sekarang saatnya bersuara!
* Saya tautkan link video-nya setelah post ini jika ingin menyebarkannya
Dulu... Anak bodoh ini dianggap mampu mempermalukan pak Mahfud Md...
Sekarang mayoritas masih menganggao anak bodoh ini pemimpin masa depan...
Ini Indonesia .. Negara besar dgn mayoritas pemilih tolol
๐๐๐
๐ฎ๐ฉ 1 Wakil Presiden
๐ฎ๐ฉ 49 Menteri
๐ฎ๐ฉ 59 Wakil Menteri
๐ฎ๐ฉ 580 Anggota DPR
๐ฎ๐ฉ 152 Anggota DPD
๐ฎ๐ฉ 2.120 Anggota DPRD Provinsi
๐ฎ๐ฉ 17.610 Anggota DPRD Kabupaten/Kota
TOTAL: 20.571 ORANG.
20.571 pejabat yang digaji pake uang rakyat.โฆ SERIUSAN ga ada SATUPUN yang merasa pidato Prabowo bermasalah?
Terus rakyat disuruh percaya negara ini diisi orang-orang kompeten?
cc:albertsutopo
Kalau kata "Bodoh" tak sopan, maka "๐ฆ๐๐๐ป๐๐ถ๐ป๐ด ๐ก๐ฎ๐น๐ฎ๐ฟ" lebih santun utk dialamatkan kepada ;
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.
.
.
Guys, Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling tidak takut konsekuensi dari semua kritik yang beredar soal pemerintahan Prabowo sekarang.
Dan dia mulai dengan satu angka yang langsung bikin gue terdiam.
108 wakil menteri.
Lebih gila dari zaman Soekarno:
Soekarno terkenal dengan kabinet
gemuknya 100 menteri.
Itu sudah dicatat sejarah sebagai salah satu pemborosan birokrasi terbesar Indonesia.
Prabowo melampauinya.
108 wakil menteri saja
belum termasuk menterinya.
Ferry bilang dengan sangat datar: "Birokrasi, Bos. Wakil menteri itu 108 loh.
You can imagine ini kabinet yang lebih gila
dari zaman Soekarno."
Dan ini bukan soal gaya atau
estetika pemerintahan.
Ini soal uang.
Setiap wakil menteri punya gaji, tunjangan, staf, kendaraan dinas, protokol, dan anggaran operasional.
Dikali 108 angkanya tidak kecil.
Dan semua itu dibayar dari pajak rakyat yang sama yang katanya sedang dihemat untuk efisiensi.
Soal Purbaya Ferry akui ada yang menarik,
tapi ada yang lebih penting:
Ferry tidak membabi buta mengkritik Purbaya.
Dia mengakui keberanian Purbaya berani head to head dengan Luhut, berani buka Pandora Box soal mafia-mafia yang selama ini nyaman, berani mengakui ada kebocoran di sistem restitusi pajak.
Tapi Ferry memisahkan dengan sangat tajam antara administrasi dan kebijakan.
Memindahkan Rp200 triliun dari BI ke Himbara?
Itu administrasi.
Bukan fiscal policy.
Dan hasilnya pun menunjukkan itu: undisbursed loan di perbankan sekarang sudah hampir Rp3.000 triliun.
Bank sudah punya likuiditas berlimpah tapi kredit growth tetap jatuh dari double digit ke 7%.
Debitur tidak mau ambil kredit bukan karena tidak ada uang di bank tapi karena economic
outlook-nya tidak meyakinkan.
Bisnis tidak ekspansi di tengah ketidakpastian.
Jadi pertanyaan Ferry sangat sederhana dan sangat keras: kebijakan apa yang Purbaya tawarkan untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun ini?
Solusi Ferry dan ini yang paling provokatif:
Ferry tidak hanya mengkritik. D
ia kasih resep yang sangat berlawanan dengan narasi pemerintah sekarang.
Turunkan pajak.
Semua pajak.
PPN dari 11% ke 10%,
idealnya ke 5%.
Corporate tax diturunkan.
PPh diturunkan.
Biarkan uang itu tetap di tangan rakyat dan swasta bukan masuk ke kas negara yang menurut Ferry makin besar penerimaannya makin ngawur spendingnya.
Logikanya:
semakin besar uang yang dikuasai pemerintah semakin besar ruang untuk misallocation of resources.
Hambalang. BLBI. IKN. IKTP.
Semua terjadi bukan karena kekurangan uang
tapi karena uang yang terlalu banyak di tangan yang salah.
"The more money the government get,
itu makin kacau ekonomi kita."
Dan kalau penerimaan pajak turun spending harus dikecilkan juga.
Tidak ada jalan lain.
Defisit harus dijaga.
Negosiasi dengan kreditur kalau perlu.
Tapi cara membangun negeri ini harus berubah secara radikal dari government-driven menjadi private sector-driven.
Karena yang menciptakan lapangan kerja adalah bisnis. Bukan pemerintah.
Dan kalau bisnis punya ruang lebih besar untuk bergerak mereka yang akan menggerakkan ekonomi, bukan program pemerintah yang penuh kebocoran.
MBG salah dari awal, salah dalam desain:
Ferry tidak malu-malu:
Terus terang saja saya tidak setuju dengan program-program ultra populis macam MBG dan Koperasi Merah Putih.
Ini sudah salah dari awal."
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena desainnya tidak masuk akal secara data.
Berdasarkan data statistik hanya 7,1% atau sekitar 20 juta orang yang benar-benar dalam kondisi urgen membutuhkan perbaikan gizi.
Dari 20 juta itu, mungkin 10 juta adalah anak-anak.
Tapi program MBG dirancang untuk menyuapi 83 juta orang dengan anggaran Rp328 triliun.
Pertanyaan Ferry: "
Kenapa yang harus disuapin 83 juta orang?
Kalau memang mau fokus gizi kenapa tidak targetkan 20 juta yang benar-benar butuh,
di daerah tertinggal, dengan sistem kupon yang jauh lebih efisien?
Paling mahal 5 triliun."
Dan kemudian muncul kabar ada 11 yayasan yang ikut di dalam ekosistem MBG.
Ferry langsung tanya:
Purbaya berani tidak mengcounter ini?
Kalau berani saya cium tangannya."
Kabinet 108 wakil menteri yang lebih gemuk dari Soekarno.
Program gizi yang menyuapi 83 juta orang padahal yang darurat hanya 20 juta. Anggaran Rp328 triliun untuk program yang tidak menyentuh akar masalah.
Dan tidak ada satu kebijakan fiskal yang benar-benar radikal untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun.
Ferry tidak bilang Purbaya jahat. Dia bilang Purbaya belum cukup.
Dan selama kebijakan yang diambil masih bersifat kosmetik terapi kejut administrasi tanpa perombakan struktural yang nyata angka 8% growth yang terus digembar-gemborkan akan tetap menjadi angka yang indah di slide presentasi, bukan kenyataan yang dirasakan di dompet rakyat.
Orang Solo pasti tau soal ini
5 tahun berlalu. CCTV ada. Tapi pelakuโฆ tetap tidak jelas.
(Catatan : Kapolresnya saat ini jadi Kapolda Jawa Tengah)
Video : dimensisenyap
Ini seperti pengakuan terselubung ;
"Kritik boleh, kalau tak sopan, kalian kami teror"
"Kritik boleh, asal jangan mengganggu kenyamanan kami, krn kalau kami tak nyaman keselamatanmu dipertaruhkan"
Pada titik koordinat ini, problemnya adalah:
- bukan pada kata sopan, tapi siapa yg mendefinisikan "tidak sopan" ;
- bukan pada etika bahasa, tp "intensitas daya ganggu" thd gendang telinga kekuasaan.
___________
Dlm etika publik :
KRITIK TIDAK HARUS KASAR, TAPI TIDAK WAJIB LEMBUT.
Sopan santun dlm kritik itu lebih dekat dengan kepura - puraan.
Selalu ada momen ketika bahasa yg terlalu santun & steril, justru sering mengkhianati urgensi.
Kekuasaan sering meminta bahasa dikendalikan, padahal ucapan Presiden @prabowo bukan saja sering tidak sopan, tapi kadang tak terkendali.
Itu sangat memalukan dalam kapasitasnya sbg Presiden Republik Indonesia.
Pun, Wapres Fufufafa - bocah kosong & ndlahom bisa duduk di kursi kekuasaan dgn melanggar etika.
MESTINYA NEGARA HARUS BANYAK BELAJAR MENGENDALIKAN DIRI, BUKAN MENGENDALIKAN DIKSI WARGANYA YG JUSTRU LEBIH TAHU DIRI.
Dan ada 2 hal ;
1. Negara yg lebih sibuk mengatur diksi warganya, daripada substansi kritik yg disampaikan warganya, itu tanda bhw negara lebih takut pada narasi daripada kebenaran.
2. Negara yg tdk mampu mengendalikan dirinya sendiri, akan cenderung mengendalikan bahasa rakyatnya sendiri.
.
.
Seorang ibu mengaku syok setelah mengecek MBG milik anaknya. Ia menilai kualitas MBG dari SPPG tersebut perlu di evaluasi agar tidak dimanfaatkan untuk korupsi. Melalui media sosial, sang ibu menandai Presiden agar menghentikan MBG demi mencegah potensi korupsi.
Terwakilkan
Tadi, saya lupa pakai kacamata "plus" saya, saya pikir bos Terra Drone โข Michael Wishnu Wardana. ๐
Ternyata ;
"KYAI HAJI" R. ABDUS SALAM MUJIB
"BOS" PONDOK PESANTREN AL KHOZINY - SIDOARJO.
____________
Reformasi Polri ?
Tampak rapi di atas kertas, tapi ketika di lapangan, utk menemukan kertasnya saja jadi kasus tersendiri.
Reformasi Polri itu lebih mirip Wi-Fi publik, jaringannya ada tapi ngga' pernah nyambung, bahkan reformasi Polri itu seperti hewan langka yg punah, sebelum ditemukan.
Sebenarnya yg direformasi hanya rakyat kecil, agar lebih sabar, tetap bodoh dan lebih mudah lupa.
Begitu aja terus, sampai ganti Kapolri, lalu ganti jargon lagi.
Mungkin setelah PRESISI, jadi PREKETEK.
.
.
.
๐
| @JimlyAs