Lulusan S3 Australia.
Belasan tahun jadi dosen. Bersaksi di MK.
Gaji pokok: Rp 2,6 juta/bulan.
Kampusnya buru-buru klarifikasi:
"tapi kalau ditambah honor ngajar, insentif penelitian, honor KKN, honor penguji... total Rp 9–16 juta!"
Nah itu dia masalahnya.
Dosen pendidik bangsa ini hidupnya bergantung pada honor yang tidak tetap, bukan gaji pokok yang layak.
Sakit satu bulan, nggak bisa ngajar ,honornya hangus.
Kita bicara orang yang mendidik dokter, hakim, insinyur masa depan bangsa.
Kelayakan hidup mereka harusnya dijamin negara , bukan diserahkan ke mekanisme honor yang fluktuatif.
🙄
Tanya dong,
Bedanya Bendera Argentina dan Palestina apa sih?
Palestina ga ikut Piala Dunia 2026 gitu?
Lha itu ada bendera Indonesia yang gagal ke Piala Dunia 2026 gara-gara Tim Kepelatihan Terbaik ga ditarik juga?
Gua mau berpendapat soal ini.
https://t.co/1eqRJVUY2X
Ketika dilantik as RT, gua dikasih tau bahwa ada beberapa warga yang selama ini memang kurang responsif. Kumpul2 warga gak datang, gotong royong tidak hadir, iuran sampah pun tidak.
Hal pertama yang gua lakukan adalah klarifikasi. Datang ke rumah warga yang tidak responsif, dan ngobrol2. Karena gua pikir, perlu tau duduk perkaranya.
Ternyata, masalah utama bukan mereka tidak mau berkontribusi. Kondisinya macam2, seperti Kepala Keluarga yang kerjanya di luar pulau, habis kena PHK, dan lain-lainnya gua gak bisa cerita disini.
Jadi, hidup dalam bermasyarakat, empati itu penting. Kondisi setiap keluarga itu berbeda2 dan tidak bisa dipukul rata. Kalo ada tetangga kalian yang kurang aktif, peran RT adalah kunjungi rumahnya. Cari tau alasannya.
Pasang spanduk kayak gitu, menurut gua tidak elok. Karena terkesan RT/RW disitu tidak mau memahami kondisi warganya.
Ini adalah lambang Keraton Sumenep, Madura. Sumenep sering disebut 'Yogya-nya Madura' krn menjadi pusat keraton seluruh Madura. Setiap gambar di lambang ini ada maknanya. Berdasarkan penjelasan yang diberikan Bupati Sumenep sekitar 1939, makna-maknanya adalah sebagai berikut: