Mulai hari ini, tertarik buat ngumpulin berita kebobrokan yg ada di negeri tercinta kita ini. Akan kumulai dari thread ini dan bakal berlanjut terus menerus.
Males banget sebenarnya respon yang gini-gini.
Tapi kali ini "SAYA AKAN LAWAN", ngerusak komen aja cok.
Dibilang ngarang lah, sumber ketek Cucurella lah, fans Messi suka bikin cerita mimpi basahlah.
Tonton ya Videonya, Lu ulang-ulang sampe ngerti, kalau ga ngerti bahasa Inggris, Translate sendiri sampe ngerti. 😠
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Sy sudah nonton bola -+ 30 tahun
Yess, emang ini akun yang tua tua asyik
Ada banyak match gilaaa yg pernah kutonton
Mulai dr MU menang 2-1 vs Bayern, Istanbul Night, dll
Tp sy ga mungkin ga merekomendasikan match ini
Football, bloody hell 🤩
Gofar bercerita, ia pun pernah membuat kumpulan video rekaman hubungan seksual dengan banyak perempuan. Hal ini terinspirasi dari obsesinya pada pornografi.
Baca selengkapnya di https://t.co/tRFvlaLOvY
#trendingviral#SatuViral#infoberita#Viral#bokepindo#sextape
Pada 2000, Soeharto ditetapkan bersalah mencuri uang cash hampir Rp 6 triliun dari bank-bank negara.
Ini sangat keterlaluan karena kalau dipikir, yang Soeharto hilangkan bukan uang milik bank, melainkan langsung uang di rekening tabungan milik rakyat yang dititipkan ke bank.
Oleh regulasi yang dibuat sendiri oleh Soeharto, bank-bank dipaksa menyimpan uang cash sejumlah triliunan di dalam yayasan-yayasan yang Soeharto kelola secara pribadi.
Setelah dititipkan, uang cash tersebut hilang secara misterius.
Jaksa Agung Marzuki Darusman dan timnya menemukan bahwa ternyata, Soeharto telah mencuri uang cash tersebut.
Yang dihilangkan Soeharto bukan hanya nyawa manusia, melainkan juga uang cash milik rakyat langsung dalam jumlah triliunan.
Setelah dicuri, ternyata uang cash tersebut dibagi-bagikan seperti kue ultah untuk diam-diam disembunyikan dan disimpan berbagai entitas milik keluarga Cendana pribadi.
Meskipun Soeharto ditetapkan bersalah, ia tak pernah dihukum.
Hakim menghentikan persidangan penjatuhan hukuman dengan begitu saja, setelah teror Bom Bursa Efek September 2000.
Apakah majelis hakim takut dibom? Entahlah. Barangkali mereka benar.
Pasalnya, setahun kemudian, Hakim Syafiuddin Kartasasmita yang berani menjatuhkan vonis pidana penjara terhadap anak Soeharto, Tommy Soeharto, dibunuh dengan brutal menggunakan senapan mesin. Ia tewas dengan tubuh berlubang-lubang.
Saat itu Syafiuddin mengusut kasus korupsi yang lebih remeh, yaitu pencurian nilai aset properti Bulog yang dilakukan Tommy Soeharto.
Kalau orang yang mengusut Tommy saja dibunuh dengan brutal, bagaimana dengan orang yang berani mengusut Soeharto langsung? Apakah mereka akan dibunuh? Jangan-jangan anak mereka juga akan dibunuh?
Apalagi, kalau Soeharto sampai berhasil dijatuhi hukuman penjara, akan tercipta suatu preseden politik mengerikan bagi para koruptor: tidak ada yang berada di atas hukum, termasuk mantan presiden. Semua orang setara.
Untuk mencegah preseden ini, Syafiuddin dibunuh.
Jaksa Agung Marzuki Darusman sendiri juga hampir dibunuh dengan bom, tetapi orang yang ditunjuk Tommy untuk melakukannya berhasil ditangkap polisi dan bomnya disita.
Dalam hal ini, gerombolan keluarga Cendana sebagai the Lord of Crime penguasa Orde Baru dan jaringan mafia premannya berhasil menggagalkan cita-cita besar Reformasi untuk mengubah Indonesia dari Negara Preman (machtstaat) menjadi Negara Hukum (rechtsstaat).
Mereka menunjukkan bahwa di Indonesia, sistem Orde Baru masih kokoh: premanisme, teror, dan bom lebih kuat dan lebih dapat diandalkan daripada hukum.
Buktinya, mereka bukan hanya berhasil lolos dari penjara, melainkan juga berhasil menyimpan uang cash yang mereka rampok.
Segala keburukan ekstrem Soeharto punya 1 akar:
Soeharto berkuasa lebih dari 2 periode.
Kalau saja Soeharto turun tahun 1978, masih tetap buruk, tetapi minimal akan sama saja dengan presiden-presiden berikutnya.
Keburukan Soekarno juga sama. Bayangkan Soekarno turun 1955.
Soeharto tak pernah diseret ke ruang sidang.
Pada 3 Agustus 2000, Kejagung menetapkan Soeharto pribadi sebagai *terdakwa* korupsi Kasus 7 Yayasan.
7 yayasan itu harusnya mengelola uang yang dititipkan bank-bank milik negara. Eh, hampir Rp 6 triliun hilang dicuri Soeharto.
Dalam dakwaan itu, yang mencuri bukan Tommy, bukan anak atau antek Soeharto, melainkan Soeharto pribadi sebagai ketua yayasan-yayasan itu.
Oleh Jaksa Agung Marzuki Darusman dan timnya, Soeharto terbukti dan tertangkap basah dengan tangannya sendiri berbuat kriminal mencuri uang cash dari negara sebesar ~Rp 6 triliun. Fatal.
Persidangan disiapkan dalam keadaan mencekam.
Pasalnya, gedung Kejaksaan Agung baru saja dibom sejam setelah Tommy Soeharto diperiksa di atas kasus korupsi lain (tak ada hubungannya dengan Kasus 7 Yayasan).
Pada 31 Agustus 2000, Soeharto tidak hadir dari persidangan dakwaannya karena "sakit".
Yang hadir adalah bom.
Bom besar itu ditaruh di sebuah bus di samping tempat persidangan tempat Soeharto seharusnya berada. Bom tersebut meledak.
Pada 14 September 2000, Soeharto kembali bolos dari persidangan karena "sakit".
Sehari sebelumnya, Bursa Efek di SCBD baru saja meledak oleh serangan bom teroris. 15 orang tewas tercabik menjadi potongan tubuh manusia yang gosong.
Bergerak atas informasi yang dimilikinya, Presiden Gus Dur memerintahkan kepolisian untuk segera memeriksa Tommy Soeharto dan gerombolan preman FPI yang Tommy pelihara sebagai tersangka utama pengeboman Bom Bursa Efek.
Keadaan negara sangat mencekam. Orang takut keluar rumah karena takut bom. Pegawai kejaksaan dan kehakiman lebih cemas lagi, mengingat mereka *sudah* dibom. Bagaimana kalau bom selanjutnya meledak di wajah mereka, atau wajah anak mereka?
Seminggu kemudian pada 23 September 2000, tim dokter mengumumkan bahwa sebenarnya Soeharto yang mengaku-ngaku sakit sampai bolos sebenarnya sehat-sehat saja secara fisik.
Hanya saja, ia berkelakuan "mengalami sakit mental" dan "syarafnya terganggu" selama diperiksa, sehingga tak layak disidang.
Seminggu kemudian pada 28 September 2000, majelis hakim menyetop dakwaan terhadap Soeharto dan menghentikan persidangan.
Soeharto berhasil lolos.
8 tahun kemudian, Soeharto mati.
2 tahun kemudian pada 2010, kehebohan melanda kasus penggugatan kerugian Yayasan Supersemar.
Soeharto boleh saja mati, tetapi negara yang bank-bank BUMN nya dirampok Soeharto masih ada. Selama bertahun-tahun, negara menuntut uangnya kembali, misal sebanyak Rp 4.4 triliun dari Yayasan Supersemar.
Ketika vonis hampir dijatuhkan, terjadi suatu trik sulap.
Kertas dokumen putusan kasasi ternyata tidak sengaja mengalami salah ketik, sehingga salah satu paket ganti rugi yang harus dibayarkan Yayasan Supersemar bukan Rp 185 miliar, melainkan Rp 185 juta saja.
Karena salah ketik. Ups.
Akhirnya kesalahan ketik kecil ini berhasil diperbaiki 5 tahun kemudian. Selama 5 tahun itu, segala cara aksi legal dilancarkan untuk menunda putusan finalnya.
Ternyata, yang harus membayar uangnya bukan keluarga Cendana sebagai ahli waris Soeharto yang saat masih presiden menguasai langsung yayasan-yayasan itu via jabatan formal, melainkan badan yayasan itu sendiri sebagai suatu entitas terpisah.
Gerombolan keluarga Cendana membayar ganti rugi ke negara sebanyak nol rupiah. Pengacara keluarga Cendana, O.C. Kaligis, besorak menyombong: "Kami menang mutlak".
Soeharto dan keluarganya bukan hanya lolos dari penjara, melainkan juga lolos dari harus mengembalikan Rp 4.4 triliun uang cash yang telah mereka curi lewat Yayasan Supersemar. Yang harus membayarnya malah orang lain.
Sampai hari ini, uang cash 4.4 triliun rupiah yang dirampok Soeharto dari bank-bank milik negara masih disimpan dalam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset pribadi keluarga Cendana.
Dalam ceramah di Masjid al Musyawaroh, Kelapa Gading pada September 2000, Presiden Gus Dur mengungkap:
1. FPI adalah preman peliharaan keluarga Cendana seperti Tommy Soeharto.
2. Preman-preman FPI melaksanakan terorisme bom untuk menghalangi pengusutan korupsi keluarga Cendana.
Pada 1988, Kepala Staf Umum ABRI yang baru menjabat, Soedibjo Rahardjo, diminta menghadap Tutut Soeharto.
Di pertemuan itu, Tutut menuntut permintaan mengejutkan.
Tutut meminta seluruh bisnis senjata ABRI.
Semuanya.
Apabila ABRI membeli tank dari luar negeri, yang memegang pembeliannya harus perusahaan pengimporan milik Tutut. Tidak boleh ada kandidat lain di tender.
Demikian untuk senapan mesin, bom, peluru, truk, logistik, dll. Seluruh industri ini harus diserahkan kepada Tutut. Semuanya, segalanya, seluruhnya sampai setiap baut dan sekrup. Hanya Tutut seorang yang boleh memproduksi atau mengimpornya.
Apabila ABRI punya pemasok lain termasuk pabrikan milik sendiri, pemasok itu harus segera dicampakkan dan diganti Tutut.
Kesanggupan dan kompetensi Tutut untuk memasok seluruh senjata yang dibutuhkan seluruh ABRI akan dipikirkan nanti.
Apakah Tutut tahu bagaimana cara memasukkan tank ke dalam kapal dan mengirimnya ke Indonesia, itu urusan nanti. Apakah Tutut punya kapal untuk melakukannya, itu nanti. Printilan kecil.
Yang penting, Tutut seorang harus mendapat jaminan monopoli penuh terhadap seluruh industri alusista di seluruh ABRI.
Tutur mencatut bahwa ini adalah arahan dari ayahnya, Soeharto.
Skandal ini tercatat dalam buku otobiografi Laksamana Soedibjo yang berjudul "The Admiral". Soedibjo sendiri adalah orang Angkatan Laut pertama yang berhasil berprestasi menduduki jabatan setinggi itu di Mabes ABRI.
Menurut Soedibjo, ia terkejut dengan keserakahan Tutut.
Pasalnya, saat itu ada 350 perusahaan dan pabrik alusista berbeda yang menyuplai senjata ke ABRI. Ada yang besar, ada yang kecil rumahan.
Perusahaan-perusahaan ini memperkerjakan banyak sekali purnawirawan ABRI.
Apabila 350 perusahaan itu dicampakkan begitu saja oleh ABRI dan bangkrut, para purnawirawan itu akan kehilangan pekerjaan mereka.
Tutut tidak peduli dan menuntut supaya nantinya, kontrak seluruh 350 perusahaan perusahaan itu tidak udah diperpanjang, tetapi diganti oleh bisnis-bisnis milik Tutut.
Kelakuan Tutut yang secara terbuka serakah gila duit dan tanpa malu ini membuat Soedibjo panas.
Soedibjo menghardik: "Anda masih kurang duit?"
Tutut sepertinya terkejut bahwa seorang tentara dan Kepala Staf Umum ABRI menolak dijadikan anjing peliharaan patuh yang berjongkok apabila disuruh berjongkok.
"Lho, jangan gitu dong," kata Tutut gugup dalam bahasa Jawa kepada Soedibjo.
Soedibjo murka. "Kamu kaya harta tapi miskin akhlak," bentaknya dalam bahasa Inggris.
Usaha Tutut untuk menguasai seluruh industri senjata ABRI pun kandas, untuk saat itu.
Pada tahun 1992, Soedibjo dipindahkan ke luar negeri untuk menjadi duta besar.
---
Pada tahun 1994, Indonesia mengimpor sebanyak 104 tank Scorpion dari Inggris.
Jumlahnya sangat besar. Kejanggalannya membludak. Perampokannya fantastis.
Tutut diseret ke depan Komisi I DPR pada tahun 2005 untuk diperiksa atas megakorupsi militer ini. Akan tetapi, pada akhirnya Tutut tak pernah ditangkap.
Hari ini Tutut dan keluarga hidup santai bersama pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi keluarga Cendana yang ditumpuk dari berbagai sumber, seperti:
- Berbagai kejanggalan """bisnis""" alusista tentara seperti 104 tank Scorpion,
- Monopoli total terhadap seluruh dan semua proyek konstruksi jalan tol pada masa Orde Baru,
- Proyek pembangunan pipa migas Pertamina se-Jawa yang harganya mahal tidak masuk akal secara misterius (Note: perampokan ini dilakukan di tengah-tengah krisis ekonomi tahun 1998 yaitu pada bulan Februari, ketika rakyat sedang miskin dan menganggur),
- Uang cash dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) 1997 yang hilang dan tak pernah dikembalikan (Note: dana BLBI disuntikkan untuk menstabilkan ekonomi negara, tetapi malah dirampok sehingga krismon menjadi sangat ekstrem),
- Uang cash titipan bank-bank milik negara sebanyak Rp 6 triliun yang hilang misterius ketika masuk 7 yayasan milik Soeharto (ternyata dicuri langsung oleh Soeharto pribadi dan dibagi-bagikan seperti angpao ke anak-anaknya),
- dll.
Menurut analisis Prof. Salim Haji Said, calon tunggal penerus Soeharto adalah Tutut Soeharto.
Kalau Orde Baru gagal tumbang, Tutut akan menjadi Presiden ke-3 Indonesia pada tahun 2003.
Konspirasi ini dimulai Soeharto sejak 1993. Pada 1997, Tutut sudah jadi Waketum Golkar dan Ketua Fraksi Golkar di MPR.
Pada saat itu Salim Said mendengar rencana bahwa Tutut akan menjadi Menteri Sosial, lalu Ketua Umum Golkar, lalu Presiden pada tahun 2003.
Konspirasi yang didalangi Soeharto tersebut hanya berjalan sampai Tutut diberi jabatan menteri karena rezim Soeharto keburu tumbang.
Bahwa Soeharto dan gerombolan keluarganya yang sangat serakah dan rampok ternyata masih bebal meneruskan rencana jahat, gila, egois, dan nepotistik ekstrem ini di tengah-tengah Maret 1998 adalah sangat keterlaluan. Pasar tak bisa menerima. IMF tak bisa menerima. Golkar tak bisa menerima. ABRI tak bisa menerima.
Tidak ada yang percaya bahwa rezim Soeharto-Tutut yang jelas-jelas gagal dan inkompeten akan mampu mencegah Indonesia roboh, apalagi memimpin proses Reformasi yang dibutuhkan untuk keluar dari krisis dan mencegahnya agar tak kembali terulang. Apalagi Soeharto sendiri hampir mati kena stroke pada November 1997.
Oposisi tak percaya. Ulama dan tokoh masyarakat seperti Cak Nur yang dimintai Soeharto untuk masuk "Dewan Reformasi" tak percaya. Elite penguasa tak percaya. Bandit dan koruptor pun tak percaya.
Tidak ada yang percaya pada gerombolan rampok yang telah washed out kehilangan pamor ini. Indonesia gagal pulih dari Krisis 1997 seperti negara-negara tetangganya dan malah roboh sendiri.
Anyways, selain tugas informal dari Soeharto sebagai Ahli Negara yang bertugas mengendalikan kabinet jika Soeharto yang luar biasa sangat tua dan sakit-sakitan tidak hadir, secara resmi Tutut memang "hanya" diberi jabatan Menteri Sosial oleh Soeharto pada Kabinet Pembangunan VII.
Menteri Sosial berkuasa terhadap distribusi seluruh bansos di Indonesia.
Jabatan ini sangat cocok bagi Tutut yang hendak cari popularitas populis sebagai Tokoh Bansos Nasional dengan kekaisaran perusahaan media yang dimilikinya. Ia luar biasa sangat rajin membagikan bansos dengan direkam TV.
Sebelum Krisis 1997 menghantam, Gus Dur sepertinya setuju dengan analisis bahwa Tutut dipastikan menjadi presiden berikutnya, dan menjadi dekat dengan Tutut demi menjamin ruang hidup bagi NU di dekade-dekade selanjutnya. Tutut diajak kunjungan ke berbagai pesantren NU.
Coba kita bayangkan apa yang terjadi apabila pada 1998 Orde Baru berhasil diselamatkan, gerakan Reformasi berhasil ditumpas seperti Tiananmen di China, Gus Dur dan Megawati dan Amien Rais berhasil dibasmi, dan Tutut dipilih MPR menjadi Presiden pada tahun 2003 untuk menggantikan Soeharto.
Kita abaikan dahulu bagaimana "Tiananmen" (sebagaimana dianjurkan oleh Pangkostrad saat itu) boleh jadi akan memicu perang saudara, pemberontakan daerah, konflik etno-sektarian, keruntuhan ekonomi, kemiskinan ekstrem, pengangguran massal, serta anarki total yang memberi ruang bebas bagi gerombolan bandit, teroris, kartel narkoba, judi online, dan bajak laut seperti di Myanmar dan Somalia hari ini. Untuk sekarang kita tinjau saja sisi ekonominya.
Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa masa kekuasaan hipotetis Tutut ini ternyata akan berbarengan dengan Commodity Boom yang akan berlangsung sampai 2014.
Pada masa itu, harga harga jual ekspor sawit, migas, batu bara, bijih nikel, bijih bauksit, pasir galian, dll sangat melambung tinggi di seluruh dunia.
Dalam skenario ini, gerombolan keluarga Cendana yang sangat gila serakah akan uang dan berkuasa penuh terhadap sistem otoriter Orde Baru pun akan menduduki posisi strategis untuk memonopoli utuh seluruh ekonomi Commodity Boom tahun 2000-2014 seperti VOC pada tahun 1600an. Semua sawit, semua batu bara, semua bauksit, semua galian pasir akan dapat diambil alih.
Semuanya akan masuk ke dalam pundi-pundi kekayaan raksasa pribadi keluarga Cendana, yang akan membalon berkali kali lipat.
Tentakel aliran bisnis keluarga Cendana akan menjalar ke setiap RT RW di Indonesia: perumahan cluster, pertokoan, mall, logistik, maskapai, yayasan, sekolah, bank, peminjaman kredit, jaringan telepon, jaringan internet, ormas, ormas keagamaan, gerombolan preman tukang pukul.
Model-model ekonomi yang diterapkan pada monopoli ekspor impor pasokan bensin nasional Petral, monopoli cengkeh BPPC, pengadaan tank Scorpion, dll akan diterapkan untuk mengelola seluruh dan semua ekonomi Commodity Boom dan semua turunannya, serta seluruh aspek pemerintahan lainnya.
Tanpa rem dari reformasi hukum dan tata kelola serta tanpa penciptaan kelas profesional pasca-Reformasi terutama di sektor keuangan, aliran dana Commodity Boom ini boleh jadi akan mengikuti tren dunia yang sangat umum saat itu, yaitu tersedot seluruhnya untuk ditanamkan dalam aset spekulatif real estate yang meletus pada tahun 2008.
Supaya negara tidak kembali roboh seperti 10 tahun lalu, suatu BLBI Jilid II kemungkinan akan dialirkan untuk mem-bailout bank dan perusahaan aset keluarga Cendana yang meletus kolaps pada tahun 2008 dalam skenario ini. Sebagaimana 1997, pajak rakyat dirampok habis-habisan untuk menyelamatkan kekayaan pribadi keluarga.
Daftar Presiden Indonesia
1945-1967: Soekarno 🔴
1967-2003: Soeharto 🟡
2003-: Tutut Soeharto 🟡
Kabinet Pembangunan VIII (2003-2008)
1. Presiden: Tutut Soeharto 🟡
2. Wakil Presiden: R. Hartono 🟤
3. Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI/Panglima Kopkamtib: P****** S******* 🟤
4. Menteri Dalam Negeri: Feisal Tanjung 🟤
5. Menteri Luar Negeri: H***** D************** 🟡
6. Menko Ekonomi: Fuad Bawazier 🟡
7. Menteri Keuangan: Soedrajad Djiwandono 🟡
8. Menteri Perindustrian: Sudono Salim ⚪
9. Menteri Perdagangan: Bob Hasan ⚪
10. Menteri Pertanian dan Kehutanan: Bambang Soeharto 🟡
11. Menteri Pertambangan dan Energi: Tommy Soeharto 🟡
12. Menteri Pemuda dan Olahraga: Sigit Soeharto 🟡
13. Menteri Sosial: Titiek Soeharto 🟡
14. Menteri Negara Peranan Wanita: Mamiek Soeharto 🟡