Dan pada akhirnya semua terbiasa
Jiwa mulai mengikat diri pada Hal yang dialami Dan dihadapi terhadapnya
Bukan lagi tentang puing puing pikiran liar seperti angin dimusim panas ini
Aku pernah bersumpah, akan mencintai seseorang yang sunyinya teduh-yang langkahnya terukur, yang diamnya tak membuat resah.
Lalu semesta memperkenalkanku padanya.
Ia riuh,
Aku pernah berkata,
aku ingin yang searah,
yang seleranya sejalan,
yang mimpinya bisa disusun dalam peta yang sama.
Namun ketika ia datang,
kami seperti dua musim yang tak pernah sepakat soal cuaca.
Ia menyukai terang, aku bersahabat dengan redup.
Mungkin akan lebih baik jika kamu mendengarkan langsung Dari mulutku... Daripada terkaanmu...
Sesuaikan keinginanmu saja, karena tujuan ku hanya berlabuh Dan menetap. Bukan untuk singgah kemudian pergi...
Hey laut, buatlah badai itu jika itu inginmu, buatlah sebesar mungkin jika kamu mau.... Kehendakmu adalah kehendakmu. Bukan kendaliku, Maka untuk kapalku, biarlah aku Dan awak kapalku yg Tau. Kamu tetaplah pada dirimu, aku tetap pada kapalku.