Negara yang gagal dalam memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya dengan multi disiplin ilmu yang terus berkembang.
Yang disalahkan malah ilmunya.
Keren emang.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Murid
1) Pemilih termuda Pemilu 2029 lahir tahun 2012
2) Tahun 2025, pemilih termuda itu baru masuk SMP
3) MBG mulai tahun 2025, mereka akan menerimanya selama 4 tahun berturut-turut setiap hari
4) Jangan lupa ada 6 angkatan sekolah di atas mereka, yang juga menikmati hal yang sama
→ "Kita tiap hari dikasih makan sama pemerintah"
→ Kantong suara pemilih perdana
Dapur
5) Dapur dikelola oleh SPPG mitra MBG
6) Banyak orang yang dapat pekerjaan di dapur SPPG ini: masak, cuci piring, sopir antar ke sekolah-sekolah, bersih-bersih, dan masih banyak lagi
7) SPPG ini bentuknya yayasan, yang bisa dimiliki oleh TNI, Polri, atau siapapun yang bisa bikin yayasan, koperasi, perusahaan, bahkan instansi pemerintahan
8) Koperasi Merah Putih juga bisa jadi mitra MBG
9) Mereka terima anggaran dengan orde triliun rupiah
→ Apakah mereka semua rela kalau semua pekerjaan itu hilang begitu saja kalau Prabowo tidak terpilih lagi? Unlikely.
→ Kantong suara pemilih dewasa
Badan Gizi Nasional
10) BGN adalah penerima anggaran terbesar APBN 2026
11) BGN menerima 32 ribu orang pegawai dengan status PPPK di tahun 2025-2026
12) Banyak orang, maka banyak kursi pejabat menengah untuk memanage orang-orang itu
→ Apakah mereka mau MBG berhenti? Tentu saja tidak.
→ Kantong suara pegawai negara
***
Jokowi bagi-bagi bansos deket-deket Pemilu doang.
Prabowo? Bikin institusi buat itu.
Next level emang.
Foto ini di ambil oleh mama saya di depan rumah saya di jambi pukul 19.30 19 April 2025.
Ketika foto diambil, jalanan depan rumah kosong tidak ada kendaraan lewat.
Ketika mama mengecek hasil foto diperlihatkan ada benda seperti kendaraan melayang, dikendari oleh sosok hitam.
Halo! Berikut 10 opsi pemain muda Amerika Selatan di bawah 21 tahun dengan potensi tinggi di Football Manager 2024, murah dan terjangkau:
1. Breno Bidon (Brasil, DM/AM C, £110k)
2. Luiz Turatto (Brasil, GK, £303k)
3. Nicolás Romero (Argentina, D C, £293k)
4. Luis Ángel Díaz (Kolombia, AM RL/ST, £1m)
5. Mateo Caicedo (Kolombia, AM RLC, £0)
6. Riquelme Fillipi (Brasil, AM RL/ST, £2m)
7. Ryan Francisco (Brasil, ST, £3m)
8. Rayan (Brasil, AM R/ST, £3m)
9. Luighi (Brasil, ST, £2m)
10. Figueiredo (Brasil, DM/AM C, £621k)
Semoga membantu timmu jadi juara! 😁 https://t.co/pqlzSn8SPf