Sejumlah guru di Merangin, Jambi mengaku diminta untuk menyetorkan uang sebagai syarat agar bisa diangkat atau bertahan menjadi Kepala Sekolah di wilayah yang diinginkan, bahkan nominalnya ada 20 juta rupiah. Namun usai pelantikan 241 kepsek pada 6 Juni 2026, sejumlah Guru tersebut justru ditempatkan di kecamatan yang jauh dari lokasi yang dijanjikan. Hal ini terungkapkan setelah puluhan Guru mengadu ke Wakil Ketua DPRD Merangin, Rabu (10/6) siang. 🎥Als
Guys, ada satu fakta tentang IKN yang menurut gue paling memalukan dan paling jarang dibahas secara jujur.
IKN proyek terbesar yang pernah ada dalam sejarah Indonesia modern sudah resmi ditunda sebagai ibu kota negara.
Dan penyebabnya bukan karena bencana alam.
Bukan karena perang.
Bukan karena force majeure apapun.
Penyebabnya adalah:
Keppres pemindahan ibu kota tidak pernah keluar.
Bayangkan skala masalah ini:
Ratusan triliun rupiah sudah dihabiskan.
Infrastruktur dibangun.
ASN dipaksa pindah.
Pejabat-pejabat tinggi sudah berkantor di sana.
Seluruh narasi tentang Indonesia Maju 2045
dibangun di atas proyek ini.
Tapi satu dokumen paling fundamental Keputusan Presiden yang secara resmi memindahkan ibu kota tidak pernah ditandatangani Jokowi sampai masa jabatannya berakhir.
Ray Rangkuti menyebutnya dengan sangat tepat: Jokowi terlalu bernafsu.
Bernafsu membangun.
Bernafsu mengeluarkan uang.
Bernafsu memotong pita.
Bernafsu tampil di depan kamera di tengah hutan Kalimantan dan bilang ini adalah masa depan Indonesia.
Tapi untuk menandatangani dokumen yang secara hukum memindahkan ibu kota yang merupakan satu-satunya hal yang paling penting dari seluruh proyek itu tidak pernah terjadi.
Dan ini yang paling mengerikan:
Tanpa Keppres pemindahan ibu kot secara hukum Jakarta masih ibu kota Indonesia.
Sampai hari ini.
Apapun yang sudah dibangun di Kalimantan secara konstitusional belum menjadi apa-apa kecuali proyek konstruksi yang sangat mahal.
Amien Rais sudah menyebutnya:
IKN sekarang mangkrak.
Dalam bahasa Jawa muspr terbengkal tidak terpakai.
Berapa puluh triliun yang sudah masuk ke lubang itu?
Dan ini sambungkan dengan kondisi sekarang:
Anggaran pendidikan dipotong 44% untuk MBG.
Guru honorer masih digaji di bawah UMP.
Rupiah di Rp17.600.
IHSG ambruk.
Investor asing kabur.
Defisit Q1 sudah Rp240 triliun.
Tapi ratusan triliun sudah terkubur di hutan Kalimantan untuk proyek yang dokumen hukum fundamentalnya tidak pernah ditandatangani oleh presiden yang memulainya.
Dan Prabowo sekarang mewarisi semua ini:
Prabowo tidak memulai IKN.
Tapi dia sekarang yang harus memutuskan:
lanjut dengan biaya yang terus membengkak atau akui bahwa ini adalah salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah pengelolaan anggaran negara Indonesia.
Tidak ada pilihan yang mudah.
Karena apapun yang dipilih rakyat yang sudah membayar ratusan triliun untuk proyek ini tidak akan mendapat uangnya kembali.
Dan yang paling menyakitkan:
Jokowi sudah pensiun.
Sudah turun gunung untuk PSI.
Sudah keliling kabupaten kota untuk 2029.
Tapi tagihan dari keputusan-keputusan yang dia buat IKN yang mangkrak, utang yang menumpuk, sistem yang makin rusak itu yang harus dibayar oleh rakyat yang tidak pernah ikut memutuskan apapun.
Terlalu bernafsu membangun.
Tidak cukup serius menyelesaikan.
Dan yang menanggung akibatnya bukan yang memulainya.
TERMUL DIE HARDER IJAZAH JOKOWI
TERIAK PALING KERAS, HIDUP JALAN DI TEMPAT
Setahun saya mengamati.
Perilaku, pernyataan, gerak-gerik para “termul”, mereka yang merasa berdiri paling depan membela ijazah, membela Joko Widodo seolah hidup dan mati mereka ditentukan di sana.
Mereka pikir:
loyalitas = imbalan
teriakan = kenaikan kelas
kedekatan = perubahan nasib
Tapi realitasnya?
Tidak ada yang berubah. Ekonomi tetap. Status sosial tetap.
Hidup? jalan di tempat.
Bahkan satu yang paling vokal, paling sering tampil, paling “die hard”yang kalau bicara sudah seperti Ahli segala bidang, satu ketika saya temui, mobilnya mobil tua. Bertahun-tahun jadi termul, tak ada yang berubah.
Maaf ya termul.
Mobil untuk kalian seharusnya bukan sekadar kendaraan.
Itu simbol.
Simbol bahwa yang kalian kejar, harta, jabatan, tidak pernah benar-benar kalian bisa dapatkan.
INI MASALAHNYA: KALIAN SALAH MEMAHAMI KEKUASAAN!
Kalian kira kekuasaan itu seperti air hujan, turun ke semua yang berdiri di bawahnya.
Padahal tidak.
Kekuasaan itu seperti cahaya senter:
hanya menyinari segelintir titik.
Sisanya? Gelap.
Yang naik itu:
elite.
inner circle.
pemilik modal.
pengendali sistem.
Bukan kalian yang hanya berteriak di luar pagar.
Muncul di media bukan berarti punya kuasa. Dekat dengan Jokowi, bolak-balik ke Solo bukan berarti dekat secara realitas.
Kalian punya satu hal:
suara.
Tapi tidak punya:
akses.
aset.
pengaruh nyata.
Dan tanpa itu, kalian bukan pemain.
Kalian hanya TOA alias pengeras suara.
INI YANG PALING MENYAKITKAN
Yang paling loyal, seringkali yang paling tidak diangkat.
Yang paling keras membela, justru yang paling mudah dilupakan.
Kalian habiskan waktu, energi, bahkan HARGA DIRI
untuk sesuatu yang tidak pernah dirancang untuk mengangkat kalian.
BANGUN!
Kalau kalian ingin hidup berubah, jalannya bukan:
menjadi pembela
bukan menjadi buzzer
bukan menjadi penjilat kekuasaan
bukan menghinakan diri menjadi Termul.
Tapi menjadi:
pemilik nilai
pemilik skill
pemilik aset
pemilik posisi tawar
Tanpa itu, sekeras apapun kalian berteriak,
hidup kalian tetap sunyi.
KESIMPULAN PALING TELAK
Ini bukan soal siapa penguasa.
Bukan soal Joko Widodo atau siapa pun.
Ini soal satu KEBODOHAN KOLEKTIF:
berharap hidup berubah hanya karena berdiri dekat dengan kekuasaan.
Padahal kenyataannya:
kalian tidak pernah benar-benar dekat.
DAN PADA AKHIRNYA…
Sejarah akan mencatat:
bukan siapa yang paling keras berteriak,
tapi siapa yang benar-benar membangun kekuatan.
Dan saat itu tiba,
banyak dari kalian akan sadar
kalian hanya jadi Uang recehan dalam kaleng yang kalau jatuh bunyinya KROMPYAANG.
Yang naik pesawat jet pribadi
Tetap Kaesang.
Presiden yang nyaris 30% hari-hari jabatannya dia habiskan di negeri orang.
Pulang tanpa hasil, lalu teriak; "hai antek-antek asing", padahal dia yg paling demen sama asing.
Menebar senyum dinegeri orang, menebar ancaman dan ketakutan di Negara sendiri.
Membanggakan mobil buatan sendiri dinegara orang tetapi mengimpor ratusan ribu mobil buatan negeri orang (India) ke negera yang di pimpinnya.
Mengaum saat jadi capres mengeong saat jadi Presiden.
Dia ingin menjadi Presiden untuk menyelesaikan berbagai masalah tapi ternyata dia adalah masalah terbesar bangsa ini...
pemimpin konaha...
Benturan Antar Rakyat dimainkan Jokowi untuk menutupi Ijazahnya.
Apa yang sedang terjadi hari ini, yang terlihat di berbagai media, bukan kebetulan.
Ini adalah skenario yang sangat rapi.
Joko Widodo tidak perlu menjawab substansi. Ia cukup menciptakan distraksi.
Melibatkan “Termul”, pengacara, dan berbagai aktor di lapangan, untuk satu tujuan:
membenturkan rakyat di level bawah.
Dan ketika rakyat sibuk saling serang, emosi melawan emosi, opini melawan opini,
Maka substansi utama, yaitu soal Ijazah Palsu Jokowi, perlahan menghilang dari perhatian publik.
Persis seperti yang telah diingatkan oleh Jusuf Kalla dan
Rocky Gerung:
Ketika kekuasaan terdesak, yang dilakukan adalah mengalihkan konflik ke rakyat.
Hari ini kita melihat itu secara nyata.
Polemik besar tentang ijazah tidak dijawab dengan transparansi.
Tidak dijawab dengan bukti.
Tidak dijawab dengan klarifikasi yang jernih.
Sebaliknya, rakyat diseret masuk ke dalam konflik horizontal.
Saya ingin mengingatkan satu hal penting kepada seluruh rakyat:
Jangan terjebak.
Jangan ikut terlibat dalam skenario benturan ini.
Kalau Anda benar mencintai kebenaran dan keadilan, maka fokuskan perhatian pada satu titik:
Mana Ijazahmu Jokowi?
Foto di dalam ijazah yang beredar itu bukan kamu!
Foto orang berkacamata dan berkumis itu 92,37% bukan Jokowi!
Mana ijazah dengan fotomu yang asli?
Saatnya kita semua membongkar KEBOHONGAN!
Dan sejarah selalu mencatat:
ketika kebenaran ditutup dengan keributan,
maka tugas rakyat adalah BICARA.
Saya ajak kalian semua BICARA.
Jangan DIAM.
Kita semua harus menggelorakan KEBENARAN!
https://t.co/VTc0uAcO2U
Hari ini, 21 April 2026. Hari Kartini.
Banyak orang bicara emansipasi.
Banyak yang unggah foto berkebaya.
Banyak yang kutip nama Raden Ajeng Kartini.
Tapi izinkan saya bertanya satu hal:
Kalau Kartini hidup hari ini, dia akan diam atau melawan terhadap kepalsuan ijazah?
Kursi di ruang pemeriksaan Direskrimum Polda Metro Jaya itu,
adalah batu uji sebuah keteguhan.
Di situlah dua orang termul, berinisial AA dan FA mendatangi saya di hari Kamis, 29 Januari 2026, tiga bulan lalu.
Merela datang bukan membawa kebenaran. Tapi membawa opsi untuk menghentikan kebenaran.
Satu kata mereka dorong kepada saya:
RJ. Restorative Justice.
RJ menjadi Bahasa halus dari satu kalimat:
“Sudahi saja. Jangan lanjut.”
Lalu mereka tambahkan tekanan:
“Salah satu dari RRT sudah tanda tangan, Dok. Inisial RHS. Masa Dokter tidak mau?"
Artinya?
Semua sudah diarahkan. Tinggal kamu ikut.
Di titik itu, di depan mereka, saya tidak sedang memilih sebagai individu.
Saya sedang memilih,
apakah saya layak menyebut nama Kartini hari ini atau tidak.
Karena Kartini tidak lahir untuk kompromi. Kartini tidak menulis untuk tunduk. Kartini tidak berdiri untuk ikut arus.
Kartini melawan ketika sistem menekan.
Dan hari itu, di kursi itu,
saya tahu satu hal:
Kalau saya tanda tangan RJ,
maka saya bukan Kartini.
Saya hanya bagian dari rantai yang menghentikan kebenaran.
Jadi hari ini, 21 April,
saya tidak memakai kebaya untuk menghormati Kartini. Celana cargo dan sepatu boots kesukaan karena saya orang lapangan. Lari sana sini dengan cepat dari satu tempat ke tempat.
Saya cukup melakukan satu hal yang mudah-mudahan lebih bernilai:
Saya menolak tunduk.
Dan hari ini saya memilih:
Tetap berdiri.
Tetap melawan.
Tanpa kompromi.
Simpulan dari hasil penelitian RRT - R adalah:
Berdasarkan ijazah yang beredar sejak tahun 2022 mulai dari kemunculan official oleh Dekan Fakultas Kehutanan UGM, kemudian klaim foto ijazah asli oleh Dian Sandi di bulan April 2025, dan artefak beberapa set ijazah dari KPU Solo sampai Pusat, maka RRT - R berkesimpulan menurut keyakinan secara scientific based;
ijazah Jokowi PALSU.
(Mbak Dokter Tifa kok nulisnya RRT-R? Iya R yang satu udah kabur jadi Termul!)
Sekarang Doktor Bonatua Silalahi dengan metodologi riset berbasis Administrasi Publik, dari artefak ijazah yang diperolehnya dari beberapa sumber termasuk dari KPU-KPU, simpulannya:
Ijazah Joko Widodo: TIDAK ADA.
Jadi bagaimana kasus ini bisa dilanjutkan menjadi pidana pencemaran nama baik, fitnah, hasutan, manipulasi data elektronik dengan ancaman hukuman hingga 12 tahun kepada saya dan Roy Suryo, ketika Kebenaran Ilmiah justru mengungkap ada Pidana yang lebih nyata dan faktual:
Yaitu seseorang menggunakan dokumen palsu untuk meraih jabatan selama 20 tahun?
Sebentar lagi, tunggu release hasil penelitian Doktor Leony Lydia dkk dari Bonjowi.
Jangan-jangan mereka akan berkesimpulan:
Ijazah ASLI Jokowi TIDAK ADA, kalaupun ada, itu PALSU.
wis tah remuk.
Btw, Pak Jokowi saya mau tanya: jadi pak Bonatua, mbak Leony Lydia, mas Lukas Suwarso mau diapain? Mau dilaporkan polisi juga apa tidak? Dianggap fitnah, menghina sehina-hinanya? Merendahkan serendah-rendahnya?
Yang adil dong, pak Jokowi!
Mosok cuma dr Tifa sama Roy Suryo yang jadi jagoan Polda?
Biar rame lagi POLDA Metro Jaya!
Biar rame lagi TV-TV!
BREAKING: JD Vance cut out of Iran negotiations as Trump hands control to Kushner & Witkoff in STUNNING shake-up.
It was already one of the cruelest things a president has said about his own vice-president on the record: "If it doesn't happen, I'm blaming JD Vance. If it does happen, I'm taking full credit." Trump was, of course, referring to the negotiations to end the war in Iran, which he had put his vice president in charge of.
Now, Trump has removed Vance from the negotiations entirely.
In a moment so chaotic it unfolded during a commercial break on MS Now — with a host literally calling the president on the phone between segments — Trump confirmed that JD Vance would not be leading the next round of Iran talks in Islamabad. Instead, real estate developer Steve Witkoff and son-in-law Jared Kushner would handle it. The official reason? Security logistics. The Secret Service didn't have enough time to set up.
Sure. Right.
The humiliation was compounded by the fact that nobody told U.N. Ambassador Mike Waltz, who went on ABC's This Week the same morning and told the world that Vance would absolutely be leading the Islamabad talks. Minutes later, Trump called a different host and said the opposite. The vice president of the United States was publicly benched, and his own administration didn't even get the memo in time to coordinate the story.
"JD is great," Trump later told ABC News’ Jonathan Karl. That’s apparently the presidential equivalent of "bless his heart."
Let's zoom out on what has actually happened here. Vance reportedly opposed this war from the beginning — telling people privately it was "massively expensive" and "a huge distraction of resources." He was right. The war has cost nearly $30 billion, killed at least 15 American troops, wounded hundreds more, sent gas prices over $4 a gallon, driven oil to $100 a barrel, and produced four consecutive broken deadlines without a single concrete concession from Iran.
Vance spent 21 hours negotiating in Pakistan last weekend and came home with nothing. Trump called him multiple times during those 21 hours to check up on him — and then asked other people to weigh in on the VP's performance. Like a micromanaging boss sending someone into a job interview and then polling the receptionist about how it went.
Now Jared Kushner — the man who received a $2 billion investment from Saudi Arabia after leaving his last government job — is back at the negotiating table. Along with Steve Witkoff, the real estate developer who has been deployed to solve Ukraine, Iran, and Gaza simultaneously, apparently because Trump's foreign policy is a real estate deal that just needs the right closer.
Vance flew to Pakistan. Failed to get a deal. Got blamed preemptively. Got replaced by his boss's son-in-law. And Trump went on Truth Social to threaten to knock out "every single Power Plant, and every single Bridge, in Iran" while adding "NO MORE MR. NICE GUY!"
This is the foreign policy of the most powerful nation on earth. A Truth Social threat. A commercial-break phone call. A vice president benched mid-war. And Jared.
Yeah, "JD is great."
Please like and share this post if you think blaming your vice president in advance and then replacing him with your son-in-law is not, in fact, great diplomacy.
🚨 Spokesman Khatam al-Anbiya Central Headquarters on capture of TOUSKA:
- Following the blatant aggression by American terrorist commandos against an Iranian commercial vessel in the waters of the Sea of Oman, the Armed Forces of the Islamic Republic of Iran were prepared to respond decisively against the invading American forces. However, due to the presence of some family members of the ship's crew, to preserve their lives and security, which were in danger at every moment, there were limitations.
- Given the current situation and after ensuring the safety of the families and crew members of the ship that was attacked by the United States, the powerful Armed Forces of Islamic Iran will take the necessary action against the terrorist army of the United States.
BREAKING: Trump claims the Navy blew a hole in an Iranian cargo ship and seized the vessel – which blows tomorrow’s negotiations completely apart too!
In a dramatic Truth Social post, Donald Trump boasted that a U.S. Navy destroyer intercepted a massive Iranian-flagged cargo ship named TOUSKA in the Gulf of Oman, gave the crew a warning to stop, and then “blew a hole in the engine room” when they refused.
He claims the ship is now in U.S. custody and under control of the Marines.
This would be a direct military strike on an Iranian vessel during an alleged ceasefire – an extremely serious and dangerous escalation.
Trump described the nearly 900-foot-long ship as trying to run the U.S. naval blockade.
He also noted the vessel was already under Treasury sanctions for prior illegal activity.
There has been no independent confirmation of Trump’s claims so far from the Pentagon, U.S. Central Command, or any other official source as yet.
This comes just days after Trump was threatening to bomb every power plant and bridge in Iran if they didn’t accept his “deal.” Now he’s showing what he really thinks of his deal by openly celebrating what sounds like an armed confrontation at sea and clear violation of “ceasefire” in any context.
More reckless action from our commander-in-chief just when it seemed like things were on the brink of calming down.
If true, and the United States breaks its word again, this might set back the end of the war significantly, and everyone but Trump’s billionaire buddies and the gang of grifters in the White House will be the worse for it.
Let’s hope Trump’s got his story wrong again. But if you are just tired of this all and have had just about enough of Donald Trump as commander of anything, please like and share.
Sejak awal kemunculannya dia membabi buta.
Semua diserang dengan caci maki brutal yang membuat dia mendadak jadi Hero from nowhere.
Dengan gelar yang kata para Termul gelar palsu, Dr.Eng dan M.Eng yang diakuinya diperoleh dari Yamaguchi.
Terus terang.
Pertama bertemu saya dan mas Roy terpikat dengan keberanian dan kegarangannya.
Yang aneh sebetulnya karena tiap tampil dimanapun, soal Ijazah palsu hanya sebentar dia bahas, bahasan berikutnya adalah caci maki sumpah serapah kepada Tiga Jendral Polisi.
Jendral TITO KARNAVIAN
Jendral MUHAMMAD NUH AL AZHAR
Jendral KHRISNA MURTI
Bayangkan dimanapun dia kami ajak, DPR, Ombudsman, Kompolnas, Komnas HAM
Bahkan di TV-TV
Sumpah serapah dan caci maki dia terhadap ketiga Jendral Polisi itu tak pernah lupa dia hamburkan dengan tudingan jari dan mata melotot.
Herannya setahun berlalu dia bebas-bebas saja. Mengumpat kesana kemari
HEI... TITO KARNAVIAN!
MUHAMMAD NUH AL AZHAR!
KHRISNA MURTI!
Baxxxxxxzzzzzttt!!!
Pokoknya begitulah.
Pernah, sewaktu saya berinisiatif mengajaknya ke Kompolnas, itu adalah Komite Pengawas Kinerja POLRI
Yang seharusnya kami bahas fokus Ijazah yang kata si Omon ini 11.000 triliun% palsu,
Lha di tengah-tengah presentasi dia tunjuk-tunjuk CCTV dan teriak-teriak:
HEI KAU TITO KARNAVIAN!
MUHAMMAD NUH AL AZHAR
KHRISNA MURTI!
Waduuuh.... Sontak saya sembunyikan muka!
Hushh hussh saya bilang..fokus dong ke Ijazah, kenapa sih selalu caci maki orang? Bisik saya.
Mati aku. Anak ini benar-benar ngga bisa diberi tahu.
Dia yang merasa punya masalah dengan Jendral Tito Karnavian, Muhammad Nuh Al Azhar, dan Khrisna Murti, saya bisa kena getahnya nih, pikir saya.
Makanya
Kalau benar dia, dengan kasus Ijazah, dia dapat SP3, saya pikir-pikir
Apakah Jendral Tito Karnavian, Jendral Khrisna Murti, dan Jendral Muhammad Nuh Al Azhar ini kalah sakti ya sama Si Omon dari Balige ya?
Bayangkan! Caci maki tersangka kali tetap saja dibiarkan si Omon ini melenggang keluar dari POLDA bebas dari Tersangka.
Wes Tah. Mbuh lah.
Buku yang dia jual ini dengan foto-foto Para Jendral yang dia caci maki, masih menghasilkan cuan lewat online bookstore.
Eits, di CV Pengarang masih menulis Dr Eng dan M.Eng dari Yamaguchi!
Enak ya Mon. Caci maki semua orang, lalu dapat SP3?
Pak Tito, Pak Khrisna, Pak Nuh, gimana tuh kalah sama Si Omon.