Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress https://t.co/MZPeXGZ7JR
Can you imagine the terror and horror Israel inflicts on Palestinian children, women, and men in detention centers when the cameras are away?
This is Israeli terrorism.
HOLY SHIT BRO 🚨
Israeli minister Ben-Gvir parades kidnapped flotilla activists like captured animals in his sick propaganda circus.
No regard for international law.
INGAT NAMA MEREKA:
Andi Angga Prasadewa (Angga)
Rumah Zakat @rumahzakat — Kapal Josef
Bambang Noroyono (Abenk)
Republika @republikaonline — Kapal Bora Alize
Thoudy Badai Rifan Billah (Thoudy)
Republika — Kapal Ozgurluk
Andre Prasetyo Nugroho (Andre)
Tempo @tempodotco — Kapal Ozgurluk
Rahendro Herubowo (Heru)
inews @officialinews_ — Kapal Ozgurluk
SOS!
Sumber: Instagram @globalpeaceconvoy
@etvousmevoyez@mhuseinali@fajarnugros relasi sama koneksi ke pemerintahan iya sepakat, tapi kalo ilmu pemerintahan lebih mendalam daripada jurusan ulmu pemerintahan di universitas kayanya engga sih, lebih mendalam di administrasi pemerintahan iya. senioritas di IPDN itu real dan menentukan jenjang karir mereka
Artikel ini memang ditulis untuk mengganggu ketenangan ilusi teman teman semua.
PPPK Paruh Waktu dan Lahirnya Prekariat baru di Birokrasi
https://t.co/6kOMzR8nCA
Pakar Komunikasi Ungkap Kenapa Pernyataan KDM Bikin Bobotoh Kesal
Kepala Pusat Studi Komunikasi, Media, dan Budaya Fikom Unpad, Kunto Adi Wibowo, menilai polemik yang melibatkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dengan komunitas pendukung Persib, bobotoh, disebabkan timing atau waktu yang kurang pas dalam memberikan pernyataan. Polemik ini bermula ketika KDM membuat unggahan video di media sosial pribadinya yang isinya mengucapkan terima kasih kepada Menteri Perumahan dan Permukiman Maruarar Sirait yang mengguyur bonus senilai Rp1 miliar kepada Persib.
Video KDM itu banyak dianggap bobotoh untuk "cari panggung" dengan cara menunggangi Persib. Alih-alih mendapatkan simpati bobotoh, yang didapat KDM justru antipati. Bahkan, banner bertulisan, "Shut Up KDM" dibentangkan bobotoh di tribun utara Stadion GBLA saat laga Persib vs Arema, 24 April 2026.
Kunto menilai, pemicu utama kemarahan bobotoh bermula dari rencana penutupan Jalan Diponegoro di depan Gedung Sate yang akan mengganggu selebrasi jika Persib juara. Kebijakan ini dinilai problematik karena menggunakan nama Persib sebagai alibi untuk tindakan yang berdampak pada kepentingan publik secara luas, sehingga memicu antipati dari masyarakat, khususnya warga Bandung.
Teks dan wawancara: Rio/PRMN
Video ilustrasi: Yudianto/PRMN
#bobotoh #persib #dedimulyadi #jabar
Ini alarm untuk dua pihak, Nemesis harus perbaiki metodologi atau hadapi konsekuensi legal serius, tapi pemerintah harus cepet bangun sistem internal yang lebih baik atau dikepung tools eksternal tanpa standar yang harus diklarifikasi entah akurat atau tidak.
Terlepas dari niatnya baiknya, NEMESIS (AI) ini bermasalah secara metodologi yang masih bisa diperbaiki:
1. Bergantung 100% pada generative AI untuk mengklasifikasi anomali pengadaan itu berbahaya, apalagi dengan prompt yang tidak di-define dengan detail bagaimana pengadaan dinilai anomali atau tidak.
2. Tidak ada validasi yang jelas terkait keakuratan penggunaan AI. Walau ada warning bahwa "Hasil klasifikasi ini dihasilkan oleh AI dan dapat keliru" tapi seberapa keliru? Ini yang perlu dijelaskan lebih lanjut.
3. Tidak ada taxonomy label dengan definisi yang jelas. Kalo "absurd", kenapa "absurd"? kalo "low", kok bisa "low"? Bagaimana kalau sesuatu yang dianggap AI "low" ternyata seharusnya "absurd"?
4. Amplifikasi dampak dari perhitungan error tidak ada. Dengan asumsi bahwa ada 1 juta data yang diproses dengan nilai error sebesar 2% persen, artinya ada 20 ribu pengadaan yang kemungkinan salah prediksi. Ini angka yang besar, bayangkan ada 20 ribu potential false accusation. Apakah itu bisa ditoleransi? Itu kenapa poin 2 penting, agar kita bisa mengukur dampak dari solusi yang dibuat.
5. Parameter AI yang digunakan tidak disebutkan jelas: berapa level reasoning-nya? apakah ada penggunaan tools? pake API chat completions atau Response API yang terbaru? berapa settingan temperature nya? apakah dengan setinggan temperature tersebut hasilnya konsisten atau tetap acak? Sistemnya agentic (menggunakan tools) atau murni generative?
Sebenarnya untuk public procurement itu udah ada petunjuk yang bisa diikuti atau dipelajari terkait bagaimana menilai procurement itu anomali atau nggak menggunakan rule-based seperti yang dilakukan Open-Contracting ini: https://t.co/KO6ii57SOM
Selain itu ketimbang menggunakan AI yang non-deterministic untuk menghasilkan output score, mending AI nya digunakan untuk memperbaiki data, sebagai triage system, atau ya minta AI nya bikin model yang lebih deterministik, contoh menggunakan multi-criterion decision analysis macam TOPSIS-AHP, modelnya deterministik dan bisa dipertanggungjawabkan karena rules nya jelas.
Jangan lagi ada tech talent terkena masalah karena kelalaian yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.