Jadi teringat pengalaman waktu COVID beberapa tahun lalu.
Singkat cerita, ibuku didiagnosis kanker payudara. Saat itu bibit kankernya masih di bawah 1 cm, tapi ibuku bersikeras operasi untuk mengangkatnya. Meski sudah dioperasi, dokter tetap menyarankan pemeriksaan mendalam di RS Kariadi Semarang. Benar saja, ternyata masih ada sisa bibit kanker. Alhasil ibuku dirawat inap kurang lebih seminggu.
Setelah itu, beliau wajib kontrol dan pengobatan rutin minimal sekali sebulan ke RS Kariadi selama 5 tahun penuh. Alhamdulillah, awal tahun ini ibuku sudah dinyatakan bebas kanker payudara.
Kalau dihitung-hitung, total biaya dari operasi sampai pengobatan bisa mencapai miliaran rupiah. Tapi berkat BPJS, semuanya dibayar Rp 0,-.
Sekali lagi, tweet ini bukan dari buzzer pemerintah. Ini cerita nyata keluarga kami yang sangat bersyukur. BPJS memang benar-benar menyelamatkan. Biar nggk di cap halu, berikut saya lampirkan foto di RS kala itu. Terima kasih! ๐
Mau speak up dari sisi buyer buku Hidden Flow of Money (HFM) milik pak @adisucippto . Dibawah adalah bukti saya beli, takutnya kayak mas Maruf yang diejek karna gak beli tapi speak up. Jujur, saya kecewa sama pak Adi, lebih kecewa sama tim nya, terkhusus ke Mian. Saya gak tau Mian bagian dari tim, atau member biasa yang membela pak Adi.
Pertama, soal pembelian. Kita harus tahu kalau di buku HFM itu paket nya: Buku cetak dan 2 bonus yaitu webinar dan tanda tangan penulis. BUKAN: Grup Buruh IHSG, atau Stockpick. Kalau kita beli buku, dapatnya harus buku. Saya jujur cuma ikut 1x webinar, itupun ngaret 1 jam karna pak Adi gaptek cara setting microphone Zoom. Ini penting dijelaskan. Karena tim pak Adi yaitu Mian di grup WA selalu menegaskan kalau member yang minta refund gak tau diri. Sudah dapat webinar, dapat stockpick, malah refund. Plus, ada kalimat "Cutloss 200 ribu kayak 200 juta". Ini namanya membolak balik logika. Grup Buruh dan Stockpik gak pernah jadi bagian pembelian buku, melainkan sukarela nya pak Adi aja kan. Jadi gak nyambung sama sekali lah kalau dibilang gak tau diri. Ini seperti politis yang dituntut untuk bereskan banjir, namun dia belikan perahu ke warga. Begitu warga menuntut banjir beres, politis bilang "Gak tau diri kalian, kan udah dapet perahu.". FYI, saya tidak bisa share chat Mian di grup, karna Mian tidak bersedia.
Tapi, saya tanya ke pembaca: Kalau beli buku, harusnya dapat nya apa?
Kedua, komunikasi. Buruk banget. Saya baru tahu tentang pak Adi kena tipu percetakan kemarin. Itupun lewat X nya siapa gitu. Bukan lewat email, atau chat, atau broadcast grup. Oh, salah 1 member bilang, diumumkan lewat live IG atau webinar gitu kayaknya. Kebetulan, saya keduanya gak nonton, dan saya gak sendirian. Tiap bulan, sejak Februari-Juni pasti ada yang nanya soal buku. Jawaban pak Adi: Maaf, blablabla. Gak ada timeline jelas sama sekali terkait buku akan beres kapan.
Ketiga, kontrol. Saya gak tau ini strategi pak Adi atau dia gak bisa kontrol tim nya. Kalau strategi, saya akui pak Adi politisi sejati. Dia pakai strategi bansos berupa stockpick ke para buyer, agar mereka terlena dan lupa sama buku. Sehingga bisa terpikir "Gue udah cuan jutaan dari stockpick, buku gak masalah".
Tapi kalau gak bisa kontrol, maaf pak Adi, pemilik bisnis yang gak bisa kontrol pegawai, akan runtuh.
Jujur saya kagum sama banyak orang Indo yang bisa2 nya di grup WA masih "Semangat pak Adi". Seakan mereka lupa kalau HAK nya ketunda 6 bulan, dan belum jelas kapan dilunasi.
Saya rasa, mungkin aja pak Adi orang baik yang memulai bisnis monetisasi followers. Diluar dugaan, ada ribuan order, dan kewalahan karna baru pertama kali. Saran saya, kalau baru pertama, gak ada pengalaman dan pengetahuan, buat batch aja. 100 buyer tiap batch misalnya.
Saran: Grup dibuat berbayar saja. Khusus buat yang masih percaya, dan kagum sama pak Adi saja.
Terakhir, post ini mungkin menimbulkan pro dan kontra. Buat suporter pak Adi, saya respect. Saya gak ada masalah dengan kalian, cuma ke pak Adi dan tim nya yang tidak bisa dia kontrol. Saya juga gak pakai stockpick apapun dari tim pak Adi, God know this.
โค๏ธโค๏ธ
CC ke orang2 yang bersuara kemarin: @Saham_fess@kr39__@stockmapping@nocturnalcutie@MYasfika
Hi kak, misii. as part of both komunitas yang mendapatkan manfaat serta ilmu dari keduanya, sekaligus customer yang ikut PO bukunya mas adi izinkan saya menyampaikan POV.
sebelum melompat ke kenapa soal buku ini bisa ramai dibahas sampai ke timeline, ada baiknya kita throwback ke awal PO di 6 Desember 2025.
dari awal PO dijanjikan "bonus" 2 webinar, webinar pertama di 1 februari. 12 feb diumumkan bahwa bukunya telat karena 1 dan lain hal.
maret 2026 grup whatsapp pindah ke tele, mulai ada cust sekaligus member yang tanya soal buku dijawab "ditunggu ya" tanpa ada penjelasan apapun (27 maret)
(30 maret) muncul lg pertanyaan soal buku. admin grup menjawab buku dikirim april sekaligus webinar ke-2.
april 2026, webinar jalan tapi buku belum juga terproses. mei 2026, muncul lg pertanyaan soal buku lalu dijawab buku udah diproses dr jan-feb tapi ada kendala tiba-tiba di luar kendali yg mengakibatkan harus diproses dari 0 lagi.
sepanjang feb-mei jawabannya mirip dan tanpa ada kejelasan serta tanggal pasti kapan buku akan rilis/proses pengiriman, sampai minggu kemarin di awal juni 2026 juga ada kegaduhan di grup whatsapp sampai bilang mas adi scam.
saya cek email, dari awal PO sampai hari ini tidak ada pemberitahuan soal buku, pun di akun twitternya mas adi di mana mas adi mempromosikan buku juga tidak ada update apapun. baru kemarin ada statement setelah mas al up soal buku ini dan jadi ramai di timeline.
jadi, ramai-ramai yang ada di twitter 2 hari ini bukan semata soal percaya atau tidak percaya kepada mas adi (seperti update mas adi kemarin di timelinenya). yg menjadi persoalan adalah komunikasi dan pemenuhan komitmen dalam sebuah transaksi bisnis jual beli. ketika customer sudah membayar sejak Desember 2025 namun selama berbulan-bulan tidak mendapatkan kepastian, update yang memadai, maupun timeline yang jelas, wajar apabila akhirnya muncul pertanyaan, kekecewaan, dan diskusi yang meluas ke publik.
jadi, kalaupun ada pihak yang harus menjelaskan dan bertanggung jawab atas situasi ini adalah pihak yang menerima pembayaran dan membuat komitmen sejak awal, bukan customer yang berulang kali harus meminta kepastian ataupun netizen dari timeline dan berbagai grup saham.
ketika permasalahan sudah muncul ke publik, respon & reaksi tentu beragam dan tidak bisa dikendalikan oleh siapapun, tapi ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi dan direspon dengan bijak oleh mas adi.
Ciao๐๐ป
@stockmapping@MYasfika Update: group WAnya dihapusin. IMHO agak janggal sih, kenapa sampai skrng pun ga ad kejelasan timeline, ya entah kondisi di percetakan baru, kapan bukunya akan ready, kapan bisa dikirim, baik di group ataupun di X (yg notabene mayoritas konsumen pesen dari sana).
Setelah dihitung2 dan dipikir2...
Real bottom or ****. No in between.
Leaning toward the latter. Same setup, same situation. Nothing has really changed. BI rate? Was the issue ever about rates in the first place? No?
Setelah Rupiah tembus 18.000 per USD, DPR memanggil Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk menanyakan strategi terkait stabilisasi Rupiah
Dan menurut gua ini kalian harus paham betul apa strategi mereka setelah ini
(A Thread)