@xendless_s Sebenarnya rapi, tapi jadi pusing dibaca karena kelewat miring dan inkonsistensi penulisan sifat huruf. Huruf L dan K ditulis rendah seukuran dengan huruf2 tanpa "tangkai". Jadi membingungkan. Otak pembaca jadi lebih sulit untuk otomatis mengenali hurufnya.
@dii_md@parcok_parjo@nanamishani@valiisaa Dikata pilihan obat untuk segala macam penyakit yg ditangani di RS itu hanya ada 20 macam obat saja. 😭
Susahkah memahami bahkan untuk sakit dengan gejala sama saja obatnya bisa beda karena tubuh manusia & penyakit sangat variatif.
@legifridaywater@CuwanDm@tanyarlfes Untuk standar orang Asia seharusnya dg berat segitu kamu tidak terlihat seperti tandon air sih Kak. Atau apa kamu tipe yg massa otot rendah dan jarang olah raga?
@FoxycatJjunie@tzghnari@CuwanDm@tanyarlfes Nah ini benar. Bentuk dari tulang manusia ya semua sama, tapi tidak mungkin framenya semuanya juga sama. Lihatnya ya dari lingkar pergelangan tangan begini. Frame ini yg sering disederhanakan sebagai tulang/ rangka besar dalam penyebutan sehari-hari.
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••