Let me introduce you to my 2nd book (1st novel)
Novel "Tugas Esai 10.000 Kata" ini merupakan luapan ide yang ada di pikiranku terkait pendidikan, agama, berkarya, persahabatan dan lain sebagainya. Juga, ini sebagai pembuktian diri atas komitmen pada mimpi besarku.
Membaca buku untuk demokrasi
Mungkin sebagian besar masyarakat memahami bahwa membaca buku hanya sebatas aktivitas untuk memperoleh informasi. Tidak salah memang. Harus diakui dengan membaca buku, seseorang bisa memiliki pengetahuan yang banyak dan mendalam.
Mungkin tidak semua, tapi yang aku amati pada orang-orang di sekitarku yang gemar membaca buku adalah bahwa mereka memiliki tendensi lebih melek terhadap isu-isu publik, lebih aktif di momen-momen diskusi, dan yang utama lebih rasional dalam menentukan pilihan politik.
Sayangnya, mereka semua acak serta seringkali berkamuflase. Agar tak tersesat atau bahkan disesatkan, moral menjadi kompas bagi individu untuk tetap berjalan kokoh pada koridor nilai yang luhur.
Kebodohan memaksa seseorang menjadi mudah terperdaya dan dimanipulasi. Itu semata-mata bukan sebuah keuntungan di masa sekarang.
Rentetan ilmu dan pengetahuan di dalam kepala mampu mengukir berbagai macam sudut pandang.
Berpendidikan dan terpelajar juga tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki kuasa untuk menggelitik hati agar peka terhadap moral yang ada di sekitar. Pada dasarnya, semua hal terikat oleh nilai atau prinsip baik dan buruk.
Itu semua lah yang memebentuk kesadaran konteks. Konteks inilah yang digunakan untuk memahami makna dan tujuan dari sebuah informasi yang sedang dikonsumsi. #membacabuku#bahasaasing#konteks
Dengan membaca buku berbahasa asing, seseorang tidak hanya belajar kosa kata baru, melainkan juga belajar konsep dari kosa kata tersebut, bahkan budaya yang tercermin di dalamnya.
Sebagian dari kita suka membaca bukan karena pengaruh orang tua di rumah atau guru di sekolah. Kita suka membaca karena tamparan realita agar bisa bertahan hidup di dunia