Minggu ini pemerintah Indonesia punya dua kabar bersamaan.
Kabar 1: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin minta anggaran pertahanan 2027 sebesar Rp667 triliun.
Ditolak.
Dikasih Rp139 triliun.
Lalu minta tambahan Rp195 triliun lagi ke DPR , biar total jadi Rp334 triliun.
Kabar 2: Di saat yang sama, mahasiswa turun ke jalan karena harga BBM nonsubsidi naik 32%, harga bahan pokok melonjak, dan anggaran dipangkas atas nama "efisiensi."
Sekarang hitung bareng gue:
Rp667 triliun yang diminta Menhan = 2,5 kali anggaran MBG yang katanya program prioritas untuk anak-anak kurang gizi.
Rp334 triliun yang diminta total = hampir dua kali lipat seluruh anggaran Kemenkes + Kemensos.
Dan ini bukan sekadar soal angka.
Ini soal logika prioritas negara.
Rakyat diminta ikat pinggang.
BBM naik.
Subsidi dipangkas.
Anggaran pertahanan justru diminta naik lebih dari dua kali lipat dari pagu yang ada, sementara 500 personel TNI ditugaskan mengawal aksi mahasiswa yang memprotes daya beli.
Pertanyaannya sederhana: negara ini dibangun untuk melindungi siapa?
liatin tl ini miris bgt, rakyat mau ditindas sampe kayak gimana lagi? dikasih pendapat secara baik diabaikan gitu aja, giliran turun aksi malah dibatasi? terus harus gimana lagi kita berekspresi kalau disuruh diam disemua sisi???
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.
padahal simple, turun, dengerin, dan kasih solusi apa yang jadi keresahan warga.
bukan malah dihadang, dipukul, bahkan ditangkep! demokrasi sudah mati. 🏳️
Indonesian President Prabowo’s $15B FREE school meals program is causing budget strain.
If that's not bad enough, it's been the source of food poisoning and corruption.
PRABOWO IS LOSING FISCAL CONTROL. THAT IS CREATING A CONFIDENCE PROBLEM AND A SINKING RUPIAH.
Sejujurnya, aku pengen nangis banget. Brengsek banget kita sampe harus seberdarah darah begini karena pemerintahnya sama sekali gaberpihak pada rakyat, gaada oposisi, aparatnya kaparat. Beneran stress.
Mahasiswa yang turun cuma 1500 tapi aparat yang diturunin 6000. Ini mahasiswa cuma modal bendera. Aparat modal gas air mata, riot shield, senjata lengkap. Udah kayak mau perang. Pengecut. ACAB!