Guys, ini bukan fiksi ilmiah lagi.
Juli kemarin, Taiwan kena serangan siber yang 100% dijalanin AI,tanpa manusia pencet tombol.
8 agen AI kerja bareng 4 hari nonstop, mutusin sendiri mau nyerang ke mana, nyoba metode baru kalau kena blokir.
Hasilnya: 21 sistem pemerintah dipetain, 85 akun jebol, 2.500 data personel raib.
Ini yang di security research disebut "agentic threat", ancaman yang nggak nunggu perintah, dia belajar sendiri di lapangan kayak makhluk hidup nyari celah. Deterrence lama (mendeteksi pola serangan manusia) jadi kurang mempan karena musuhnya beradaptasi real-time.
PR buat kita: institusi cyber security nasional wajib mulai stress-test sistem lawan AI otonom, bukan cuma hacker manusia.
Kalau nggak, kita bakal telat sadar pas datanya udah raib duluan.
@worksfess atau curhat aja sama HR, terkadang masalah seperti ini bisa di arahin ke sistem kerjanya, atau akan diberikan training khusus ke masalah individu tsb
@worksfess kalau masih 3 bulanan merasa ga perform, jangan resign dulu, terlebih kalau ini first job km, karena masih masa adaptasi, better catat aja kesalahan km, dicoba improve dengan ga mengulangi lagi, tanya ke senior / lead km, karena tidak semua hal diselesaikan dengan resign
Gaes, yang udah kerja 3-20 tahun, nemu intern atau anak freshgrad yang “tumbang” abis dikasih kritik/feedback ga?
Gw bingung ini trend apa gimana, karena tim gw ngasih, ke 4 orang (dan tentunya lebih lembut daripada gw meski tegas), lalu semuanya…..
Ilang….
Bahkan 1 bilang..
Biarkan tubuh masuk ke kondisi ambang batas antara tidur dan bangun. Langkah ini terbukti bisa menaikkan kadar dopamin di otak sampai 60% dan mengistirahatkan sistem saraf tanpa kamu harus beneran tidur siang. Sebaliknya, kalau kamu pelarian ke scrolling medsos pas lagi burnout, otak kamu malah makin diperas energinya dan makin hampa. Jadi, nge-charge energi mental itu bukan dengan nyari hiburan baru, tapi cara nyata dengan ngasih jeda total biar sikit dopamin di otak bisa self-repair.