TRAGEDI BINTANG: "Sini Jemput Bintang, Mak..."😱
Pesan WhatsApp memilukan itu menjadi kalimat terakhir dari Bintang (14), seorang santri yang nyawanya dihabisi secara sadis oleh 4 seniornya sendiri di sebuah pesantren pada Februari 2024 lalu. Tragisnya, salah satu pelaku adalah sepupunya sendiri yang dititipkan untuk menjaganya.
🔥 Kronologi Singkat:
Motif Sepele: Korban dihajar hingga tewas hanya karena absen salat berjamaah akibat sakit (efek penganiayaan sebelumnya) dan karena mengadu ke ibunya.
Ditutupi Selimut Semalaman: Setelah dipastikan meninggal, jasad Bintang diletakkan di kasur pojok kamar pesantren dan dibiarkan semalaman bersama santri lain yang sedang tidur.
Kebohongan Terbongkar: Pihak pesantren awalnya berdalih korban "terpeleset di kamar mandi". Namun, keluarga histeris saat membuka kain kafan dan menemukan luka lebam, bekas sundutan api, hingga jeratan di leher.
⚖️ Akhir Kasus:
Polres Kediri Kota berhasil mengusut tuntas kasus ini. Dua pelaku dewasa divonis 15 tahun penjara, sementara dua pelaku di bawah umur divonis 6,5 tahun penjara.
Apakah hukuman ini sudah setimpal bagi para pelaku yang tega menghabisi nyawa adik kelasnya?
Un padre británico de origen sudanés sintió que la casa estaba más silenciosa que el zumbido; supo que su hijo había desaparecido y comenzó a buscar en todos los lugares con ansiedad, y al regresar abrió la puerta de la habitación para ver que su hijo estaba dormido después de haber untado todo su cuerpo con vaselina y se había acostado.
Pero en cuanto el padre despertó al chico, el niño se quedó congelado en su lugar.
@blethang@Makaryo0 Thats why tan malaka bikin buku buat mencerdaskan rakyat nusantara dari logika dangkal mistika yg banyak tersebar di masyarakat dan sudah mendarah daging
@man_boedi96578@B3doel___ enak banget lu kate "cuma mangga" mau yg dicuri cuma 10 rebu perak ge yg namanya maling ya dosa dekk,gausah bandingin ama maling yg skala nasional
PENCURI MANGGA TEW4S USAI TERJATUH DAN KEPALANYA TERBENTUR PARIT, KELUARGA PELAKU PENCURIAN TAK TERIMA HINGGA DATANGI DAN RUSAK RUMAH KORBAN
Polisi menggelar prarekonstruksi kasus meninggalnya Ri saat mencuri mangga di Jalan KS Tubun Gang Bersama 7 RT 32, Kelurahan Api-Api.
Prarekonstruksi dipimpin Kanit Pidum Polres Bontang Markus Sihotang dengan menghadirkan saksi berinisial M yang saat itu bersama Ri melancarkan aksinya, Sabtu (9/5/2026). “Agar jelas dan mengetahui seluruh kejadian,” kata Markus Sihotang di lokasi saat ditemui.
M mengungkapkan awalnya ia dan Ri bermain domino di kawasan Berbas Pantai. Setelah itu, Ri mengajaknya keluar dengan alasan membeli rokok menggunakan sepeda motor.
Namun saat tiba di Gang Bersama 7 sekitar pukul 03.00 Wita, Ri ternyata mengajak M melakukan pencurian mangga. “Ternyata saya dibawa almarhum untuk membantu mencuri mangga,” ujar M saat prarekonstruksi.
M menjelaskan, saat aksi berlangsung ia berada di bawah pohon sementara Ri memanjat pohon mangga. Tak lama kemudian, mereka kepergok pemilik rumah.
“Almarhum melompat lalu terjatuh, kepala terbentur pinggir parit. Dia sempat berdiri sedikit lalu jatuh lagi,” ungkapnya.
Menurut M, ia sempat ingin menolong Ri namun panik karena melihat pemilik rumah keluar ke teras. “Pemilik rumah masih berada di teras, dan saya kabur,” tambahnya.
Dalam prarekonstruksi tersebut, penghuni rumah diperankan salah satu personel kepolisian. Adegan kemudian berlanjut saat tetangga penghuni rumah keluar setelah mendengar teriakan maling.
Perhatian mereka saat itu tertuju kepada M yang melarikan diri. Mereka belum menyadari Ri sudah tergeletak di lokasi dalam kondisi terluka.
“Pas sadar dengar suara ngorok dicari pakai senter karena gelap, ternyata ada orang,” ujarnya.
Dia mengaku langsung pergi melapor ke petugas siskamling, lalu menghubungi Bhabinkamtibmas Kelurahan Api-Api, Brigpol Edo Olo V Limbong. Warga tidak berani mengangkat korban karena khawatir kondisi Ri semakin parah.
Beberapa menit kemudian, Bhabinkamtibmas datang ke lokasi dan mendapati korban masih tergeletak dengan masker menutupi wajah.
“Pas maskernya dibuka, mulutnya sudah mengeluarkan darah,” kata Edo, yang juga mengikuti reka prarekonstruksi.
Selanjutnya, warga bersama petugas membantu mengevakuasi Ri ke teras rumah sambil menunggu ambulans datang.