ㅤ
ㅤIa berdiri, menyampirkan tas ke bahu, lalu melangkah keluar bersama arus murid yang memenuhi koridor. Udara kastel terasa lebih sejuk dibandingkan ruang kelas sebelumnya. Cahaya obor yang berjajar di dinding batu memantulkan bayangan panjang di lantai.
ㅤ
ㅤ
ㅤBegitu kelas berakhir, Théodore menutup catatannya dan memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan rapi. Suara kursi yang bergeser dan percakapan para murid lain perlahan memenuhi ruangan, menandakan berakhirnya pelajaran malam itu.
ㅤ
ㅤ
ㅤSaat pembahasan beralih pada The Calamity, Théodore memperhatikan dengan lebih saksama. Sulit membayangkan para penyihir harus menghadapi Troll hanya untuk mengurus sekumpulan siput. Gambaran itu terdengar begitu tidak seimbang hingga nyaris menggelikan.
ㅤ
ㅤ
ㅤIa mengembuskan napas ketika mendengar satu-satunya penangkal yang efektif hanya ada di Knockturn Alley. “Of course it would be sold there.” Komentarnya lirih. Tempat-tempat yang menjual barang berguna memang hampir selalu berada di lokasi yang paling tidak mengundang.
ㅤ
“Lalu bagaimana cara mengusirnya?” Ia mengangkat alisnya, sengaja menampilkan raut penuh tanya. “Satu-satunya cara adalah memakai Flesh-Eating Slug Repellent yang sayangnya hanya dijual bebas di Knockturn Alley. Bukan tempat yang ramah untuk tamasya malam-malam.”
“Sebagai siswa yang mengambil kelas Herbology, mata kalian harus jeli. Daun yang melepuh dengan tepian hangus, serta jejak lendir yang berdesis membakar tanah adalah alarm alam. Jangan menunda penanganan, atau kalian hanya akan menemukan sisa batang mati di keesokan paginya.”
“Pemandangan kala itu cukup ironis. Para penyihir bersusah payah merapalkan Knockback Jinx guna merobohkan monster sebesar Troll, hanya demi membebaskan dan mengembalikan makhluk mungil berlendir ini ke ladang sayur Hogwarts.”
“Kalian tahu The Calamity di akhir 2010-an?” Christian bersedekap, mengedarkan pandangan jenaka ke penjuru kelas. “Siput ini sempat bermunculan sebagai Foundables. Lucunya, mereka justru dijaga ketat oleh rombongan Troll Confoundables. Benar-benar pengawal yang aneh.”
“Lalu bagaimana cara mengusirnya?” Ia mengangkat alisnya, sengaja menampilkan raut penuh tanya. “Satu-satunya cara adalah memakai Flesh-Eating Slug Repellent yang sayangnya hanya dijual bebas di Knockturn Alley. Bukan tempat yang ramah untuk tamasya malam-malam.”
“Di tahun 1992, Hagrid nyaris putus asa karena seluruh ladang kubis Hogwarts hancur lebur tak bersisa.” Christian tersenyum miring. “And it didn’t stop there... Pada Halloween 2010, kawanan rakus ini kembali menginvasi dan merusak ladang labu tepat sebelum perayaan.”
“Flesh-Eating Slug bahkan meninggalkan trauma,” gumam Christian. “Pasalnya, pernah ada penyihir seumuran kalian yang saking takutnya, Boggart miliknya berubah menjadi hama ini. It shows how a tiny creature can leave such a massive, terrifying impact on someone.”
“Nah, sebelum saya lanjutkan...” Christian melipat tangan, menatap teduh siswa-siswinya. “Jika kalian melihat hama ini di kebun asrama, tanpa alat pelindung, apa insting pertama kalian? Lari, lapor, atau mencoba menyingkirkannya?”
“Jangan tertipu dengan ukurannya. Mereka merupakan omnivora yang rakus akan daging,” kekehnya pelan. “Sekresi ludah mereka sangat korosif. Setetes saja jatuh, daun segar akan hangus berdesis, dan kulit kalian melepuh parah. So, keep your hands safe.”
“Secara fisik, mereka nyaris tak bisa dibedakan dari siput biasa.” Christian mengetuk pelan dinding toples kaca di mejanya. “Kulit hijau pucat, mata hitam pekat. Makhluk ini berasal dari Britania Raya dan masih berstatus extant atau masih eksis sampai sekarang.”
ㅤ
ㅤAda sesuatu yang menarik dari makhluk-makhluk yang terlihat tidak berbahaya tetapi ternyata mampu menimbulkan masalah besar. Pandangannya kembali tertuju pada toples di meja, memperhatikan siput itu bergerak lambat di balik kaca.
ㅤ