Mereka kan gak butuh bukti, biarpun buktinya segunung juga sama saja gak akan diterima.
Cuma perlu percaya, karena gak perlu mikir sulit.
Toh orang2 terus percaya juga yang disukai sama mereka2 yang cuan dari jualan agama.
Umat gak pernah ngaca
Atheist gitu adalah REAKSI dr kalian yg sukanya bawa2 ranah kepercayaan kalian ke publik, maksain orang2 harus tunduk sama standar kalian sendiri seolah 🌏 berpusat di kepercayaan kalian
Trus masih suka ngeles hanya untuk kaum kalian, kenyataannya tdk begitu
Gue liat2 kemaren pas ada berita teroris bunuh orang di pride parade, yg hore2in jg kaum muslimin juga tuh. Siapa nyerang siapa again? Mau online mau offline yg hobi persekusi tuh kalian
Kalau lu yg ngasih ide ke bocah2 dianggap baik dan kebenaran
Sementara semua ide berbeda dari luar kau villain kan
Padahal gak berani beberkan semua isi ajaran sendiri tanpa terkecuali
Takut karena jualan lu sendiri isinya cuma ngatur2 tanpa boleh berpikir kritis?
PR kaum lu sendiri banyak tp kerjanya cuci tgn mulu, gak seneng lihat umat kristen ibadah, anti kritik, gak seneng lihat wanita bebas, gak seneng lihat orang enjoy life yg tdk sesuai standar lu, dst
Jaman dulu lebih embrace kebebasan menulis biarpun itu kinky dan ada gei nya
Gak kayak sekarang, ditodong harus ngikutin standar ajaran holier-than-thou
PRAY FOR KALIMANTAN 🥲🥀
UPDATE KEBAKARAN HUTAN KALIMANTAN
🔥 33.837 hektare hutan dan lahan terbakar.
Kalteng: 2.063 titik panas, >3.000 ha terbakar
Kalbar: 1.982 titik panas, >28.000 ha terbakar
Kalsel: 512 titik panas, >380 ha terdampak
Kaltim: 507 titik panas, >1.200 ha terdampak
Ribuan titik panas masih terdeteksi hingga Rabu (19/8).
kebakaran di kalimantan makin meluas, bahkan udah sampai ke beberapa pemukiman warga. salah satunya di sungai duri, kalbar. stay safe guyss 🥹
#SaveKalimantan#PrayForKalimantan
KALIMANTAN TENGAH MENYALA LAGI MALAM INI‼️‼️
🔥 Kebakaran lahan kembali terjadi hari ini.
📍 Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah
🗓️ 20 Agustus 2026 | 18.23 WIB
Kebakaran di Kujan hari ini dilaporkan meluas hingga sekitar 20 hektare dan merambat ke kebun masyarakat. Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman. (https://t.co/sUJvXvo2Qp)
Ya masa bukti sesuatu benar itu dari buku yang isinya main klaim sendiri, apa bedanya sama fiksi
Cuma Theist kagak pernah bisa nyadar itu, nalarnya mentok, can't get past that thinking
Dan memang dikondisikan demikian sama para sales agama
Ateisme bukan jenjang pendidikan, bukan sabuk hitam epistemologi, dan bukan status yang baru diperoleh setelah menguasai seperangkat "senjata" filsafat.
Ateis bukan gelar akademik yang harus diperoleh setelah lulus mata kuliah epistemologi, metafisika, logika, dan filsafat agama.
Lu bisa seorang ateis yang tidak pernah membaca filsafat agama sama sekali. Dan lu bisa seorang filsuf yang menguasai filsafat agama secara mendalam tetapi tetap teis.
Yang berbeda adalah posisi epistemik dan kapasitas argumentatif.
Tidak percaya pada klaim "Tuhan ada" tidak mensyaratkan seseorang mampu membantah seluruh argumen yang pernah dibuat untuk membuktikan Tuhan.
Sama seperti gue tidak perlu menjadi ahli astrologi untuk tidak menerima ramalan zodiak, dan tidak perlu menguasai seluruh sejarah astrologi untuk mengatakan, "Gue belum melihat alasan yang cukup untuk mempercayainya."
Yang memang membutuhkan bekal lebih banyak adalah kalau lu ingin berdebat secara serius tentang mengapa klaim teistik tertentu gagal. Di situ baru epistemologi, logika, metafisika, filsafat moral, filsafat agama, sejarah, dan sebagainya menjadi alat kerja.
Ateisme bukan semacam game RPG dengan level "Ateis Sejati" sebagai final boss.
Tidak ada level 1 ateis, level 50 ateis, lalu setelah mengalahkan Aquinas, Plantinga, Anselm, dan seluruh apologetika lu mendapatkan achievement:
"CONGRATULATIONS: TRUE ATHEIST UNLOCKED."
Yang ada adalah orang yang menerima, menolak, atau menangguhkan penerimaan terhadap klaim tertentu berdasarkan alasan yang menurutnya memadai.
Ateisme tidak membutuhkan sertifikat kecerdasan. Tetapi kalau mau mengklaim bahwa suatu argumen teologis salah, ya tentu saja argumennya harus dibedah dengan kompeten.
Itu bukan syarat menjadi ateis. ITU SYARAT MENJADI PENGKRITIK yang SERIUS.
@Suki_Eclair Wanita yg dah pernah sex tanpa nikah, gak bikin mereka less human
Siapa yg naruh kehormatan wanita di memek, tiba2 semua orng mabok berlomba lomba ngikut sentimen jelek itu,
degrading women to object malah disanjung sanjung
Kalau berkontol, gak dipakai standar yg sama
bull💩
Alasan kenapa saya tdk pernah menghujat orang2 yg cohabit sama pasangannya sebelum nikah
Menurutku itu bagus untuk tahu kayak apa kelakuan pasangan kalau serumah, spt trial dulu
Sayangnya di sini cuma bisa benci mampus karena pada maniak perawan tanpa mau melihat sisi positifnya
gue baru 30 hari nikah, tapi rasanya pengen balik ke kosan lama dan pura-pura nggak pernah kenal dia 😭 ternyata musuh terbesar dalam pernikahan itu bukan mertua atau cicilan, tapi suami yang kalau disuruh nyuci piring aja pura-pura bego biar gue yang beresin.
semalem puncaknya waktu gue lembur ngejar deadline kantor, dia malah minta dibikinin kopi sambil rebahan main ps. pas gue bilang, “ambil sendiri ya, mas, tangan gue lagi ngetik,” dia cuma hela napas panjang seolah-olah gue istri paling tega sedunia 😭
padahal seharian gue juga kerja di scbd, ikut meeting sampai kepala pusing, ngejar target. tapi pas sampai rumah status gue otomatis berubah jadi asisten rumah tangga tak bergaji. giliran piring kotor dibiarin numpuk sampai besok dengan dalih “nanti juga dicuci.”
pas piring itu akhirnya gue diemin sehari penuh karena gue capek banget, dia malah ngomel-ngomel bilang rumah kita udah kayak kapal pecah. dia lupa atau pura-pura amnesia kalau yang numpukin piring dari kemarin malam ya dia sendiri 😭
gue natap dia lama banget semalem, ngerasa asing sama cowok yang dulu pas pacaran kelihatan mandiri dan bisa diandelin. ternyata itu semua cuma topeng, karena begitu sah, dia pengen punya “ibu” baru yang bisa ngurusin baju, makan, sampai beresin kotorannya.
pernikahan ini baru sebulan, tapi pundak gue udah remuk rasanya. bukan karena kurang cinta, tapi karena sadar kalau gue lagi merelakan kewarasan demi maklumin ketidakdewasaan orang lain.