#viralvideo Kopi Dingin Suamiku
Malam pertama belum kurasakan, meski hampir setahun pernikahan. Suatu pagi kupergoki kopi suamiku jadi tidak biasa. Lalu, ibu mertuaku datang dan terungkaplah kalau suamiku ternyata ....
Lanjut baca di sini ➡️ https://t.co/moLvwUZhyP
Ya, aku begitu berani pada ibu mertuaku karena aku merasa sudah didzolimi. Namun, jawaban ibu mertuaku sungguh tak terduga. Dia bilang ....
Lanjut baca di sini yuk 👇 Klik linknya. Dijamin bikin GAMON
https://t.co/moLvwUYJJh
"Kopi Dingin Suamiku". Hanya 23 bab di apk KBM
"Kalau memang Rangga tidak cinta, ya sudah, kenapa harus dipaksakan? Buat apa pula aku harus marah-marah pada putraku sendiri? Putra satu-satunya lagi. Kamu, sih, belum pernah mempunyai anak. Makanya tidak tahu bagaimana rasanya.”
“Bagaimana aku bisa memiliki buah hati bila Mas Rangga enggan memberiku nafkah batin, Bu? Bukankah ibu sudah tahu fakta itu? Kenapa ibu masih saja menyalahkan aku? Sebenci itukah ibu padaku?”
Bola mataku beralih pandang. Kini, aku menatap ibu mertuaku dengan tatapan t4jam. Silakan saja bila dibilang kurang ajar! Aku sudah tidak peduli.
“Dari sekian banyak pengakuan yang diungkap hari ini, ibu tetap tidak berpihak kepadaku. Apa ibu tidak ingin menegur suamiku?”
Suamiku tega banget, Gaes 😭😭 Kopi buatanku dibiarkan dingin sampai 11x tanpa diseruput sedikit pun. Kalau niat mau ngopi di luar, jangan minta istri buat bikinin kopi, dong. Tapi, ada sebuah rahasia di balik kopi suamiku. Pagi ini ibu mertuaku datang. Ternyata suamiku ....
"Bukan kurang kerjaan, tapi aku benar-benar curiga dengan perbedaan sikap yang Mas Rangga tunjukkan. Apa di luar sana ada si pembuat kopi lain yang lebih dari sekadar enak dibandingkan aku?”
“Kenapa diam? Jawab, Mas!”
“Kemala! Pelankan suaramu! Tetangga bisa saja datang!”
“Oke. Tiga kali.”
“Lebih dari itu.”
“Lima?”
“Sebelas kali!” sahutku membetulkan hitungan banyaknya kopi yang telah Mas Rangga lewatkan.
“Sepertinya kau kurang kerjaan sampai tahu hitungannya.”
"Apa? Kopi dingin kau pertanyakan?”
“Jawab saja seperti tadi, Mas!”
“Ayolah, Kemala! Itu hanya kopi. Kau juga sudah biasa membuatnya setiap hari. Tidak akan jadi masalah jika aku tidak menyentuhnya satu atau dua kali.”
“Lebih dari dua kali, Mas.”
"Sekali lagi aku minta maaf.”
Permintaan maaf yang keluar dari mulut Mas Rangga tidak hanya sepintas lalu terdengar telinga, melainkan juga meresap sampai membuat gejolak di dalam dada.
“Pertanyaan berikutnya, kenapa Mas Rangga sering membiarkan kopi buatanku sampai dingin?”
"Baiklah. Sekarang, tolong jawab pertanyaanku ini dengan sejujurnya. Apa benar dari awal Mas Rangga tidak mencintaiku?”
“Iya, benar. Maafkan aku, Kemala.”
“Oke, tak apa bila cintaku bertepuk sebelah tangan. Kalau seperti ini, aku jadi tahu alasanmu tidak memberiku nafkah.”
"Kemala, yang kau dengar itu ….”
“Maaf, Bu. Tolong biarkan aku membahasnya! Aku butuh penjelasan lebih dari Mas Rangga, lebih dari apa yang tadi aku dengar tanpa sengaja,” pintaku.
“Tidak ada lagi yang perlu aku jelaskan, Kemala. Kau sudah mendengar faktanya,” terang suamiku.
"Apa yang kau dengar?” tanya suamiku usai aku kepergok menguping.
“Tentang aku yang Mas Rangga kira memiliki sawah padahal hanya pembuat kopi biasa. Satu lagi, Mas. Aku pun mendengar sebuah pengakuan tentang tidak adanya cinta dalam pernikahan kita.”
8.
"Asal kau tau, Mas. Aku bukan pembuat kopi biasa. Aku pemilik kedai kopi ini.”
“Mimpi kau! Pasti u4ng-u4ng itu dari selingkuhanmu! Di mana dia sekarang?”
.
.
.
Lanjut baca di sini yuk ⬇️ https://t.co/moLvwUZhyP
#Lovestory#kbmapp#kopidinginsuamiku#bintangaeri
6.
“Kau sebut aku mur*han? Lalu apa sebutan yang pantas untukmu? Baj*ngan?”
Brak!
Gebrakan yang barusan berasal dariku. Lantaran terlalu emosi, meja yang ditempati Dewangga menjadi pelampiasan. Menurutku itu lebih baik daripada harus bermain fisik.
7.
“Di mana selingkuhanmu? Sekaya apa dia sampai bisa menebus rumah itu?” tanya Mas Rangga menjengkelkan.
“Aku tidak pernah selingkuh, Mas. Aku yang sudah men3bus rumah itu dengan u4ngku.”
“Pembohong kau! Mana mungkin pembuat kopi sepertimu bisa memiliki u4ng sebanyak itu!”
5.
"Lebih tepatnya lagi mantan suami!” tegasku.
“Pasti kau punya selingkuhan kay4 raya sampai bisa men3bus rumah itu,” ujar Mas Rangga menuduhku dengan tiba-tiba.
“Mendadak jadi diam kau sekarang. Takut perselingkuhanmu terbongkar? Dasar wanita mur*han!”
Minggu Pagiii Nyuci Nyetrika? No! Aku justru kedatangan mantan suamiku. Usai menggebrak meja kedai kopi, aku dijuluki wanita mur*han, dan dituduh ....
- a thread -
#LoveStory#pov#kopidinginsuamiku#ceritakbm
4.
Sebaiknya kau tinggalkan kedai kopi ini, Mas! Pulanglah!” usirku terang-terangan.
“Kau bilang pulang? Pulang ke mana, ha? Kau telah lancang menjual rumah itu, Kemala!”
“Lancang bagaimana? Itu rumahku! Aku berhak menju4lnya!”
“Rumahmu adalah rumahku! Aku ini suamimu!”
3.
Mas Rangga, tolong jaga sikapmu!” tegurku.
“Aku tidak peduli! Kalau perlu akan aku acak-acak kedai kopi ini.”
“Lakukan saja bila kau ingin mendapat penghakiman dari mereka!”
Aku menunjuk beberapa karyawanku yang rupanya telah siap dengan sapu, penggorengan, dan nampan.
2.
Untuk apa kau datang ke sini, Mas?” tanyaku.
Brak!
Pertanyaanku dijawab dengan gebrakan meja. Dan, yang digebrak adalah meja Dewangga, pria pemilik toko roti yang saat ini dekat denganku. Anehnya, pria pemilik toko roti itu hanya diam saja.
1.
"Di situ kau rupanya! Dasar kur*ng ajar!” umpat Mas Rangga, mantan suamiku.
Kepanikanku bertambah usai mendapati para pengunjung kedai kopi melihat ke arahku. Terlihat olehku pula kedua tangan Mas Rangga mengepal, diikuti gurat wajah yang semakin menampilkan kemarahan.