Menata hati harus ada koneksi dengan Allah.Tanpa melibatkan Allah sama saja seperti menyiram garam ke lautan. Allah Subhanahuwata'ala yang menguasai semua hati manusia. Ini tentang tauhid. Maka belajar hati sama dengan belajar tentang tauhid.
by_RumahHati11
maunya disayang dan dimanja. Walaupun wanita berani kemana-mana sendiri, tetap saja kebanyakan dari mereka maunya ditemani dan dilindungi. Terakhir, setegar apapun wanita dalam menyimpan masalahnya, tetap saja kebanyakan dari mereka butuh seseorang untuk bercerita dan bersandar.
Setinggi-tingginya wanita dalam ilmu agamanya, tetap saja kebanyakan dari mereka maunya dibimbing. Sepintar-pintarnya wanita dalam mencari uang, tetap saja kebanyakan dari mereka maunya dinafkahi. Semandiri dan sedewasa apapun seorang wanita, tetap saja kebanyakan dari mereka -
semakin dewasa suatu hubungan, semakin paham tentang apa itu menerima dan memahami. bukan lagi tentang berusaha untuk merubah, bukan lagi tentang menuntut apapun harus bilang "iya". tapi melengkapi bagian yg kurang, membenahi bagian yg salah dan menghargai satu sama lain.
@harrisvriza2 Batas kesabaran bukan berarti ketika diminta meluapkan emosi, amarah, dan hilang kontrol diri. Berusaha tetap tenang, nyaman dan menjaga kontrol diri saat menerima kenyataan pahit yang mendalam bukan berarti kalah ataupun lemah
@harrisvriza2 dari sepanjang twit abang, aq hny ingin menilai dari sisi "manusia punya batas kesabaran". Mohon maaf nih abang ais, kesabaran seseorang itu tidak ada batasnya, karena itu balasannya syurga dan derajat dihadapan Allah tinggi" belajarlah dari suri tauladan Rasulullah..
@harrisvriza2 Dia adalah mutiara indah. andaiku jadi kamu, inginku pertahankan ia, minimal berikan kepastian kpdnya namun rasanya bagimu sulit, tdk berani utk berjanji y,, ya sudahlah. semoga ia segera dpertemukan jodohnya yg terbaik & d halalkan bkn meninggalkan. & km silahkan cri yg lain.
@RiaRicis "Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak akan percaya itu". Ali Bin Abi Thalib