TLDR deh, orang-orang Jabodetabek harusnya lebih peka sama privilege yang kalian punya. Especially if you're born di sana. I bet is nice to not know how suffocating living outside is, apalagi di luar Jawa. :)
Hhhhh. Iya, gak semua Jakartanian ngamuk pas dipanggil beberapa panggilan di atas kok, ada juga yang ngamuk karena macet demo, ngamuk karena orang-orang ‘kampung’ in their kamus punya gaya yang beda, atau juga ngamuk karena yang belum punya kerjaan itu nggak kerja hard enough.
OBSESSION seperti berusaha mengemis iba untuk laki-laki incel, dan juga mimpi basah laki-laki. Navarrette's exceptional performance couldn't even save this lame film. Film sama sekali gak menunjukkan keberpihakannya pada seseorang yang hak otonominya dirampas gitu aja sama orang yang super duper cupu dan gak berani bertanggungjawab itu. Pun, setelah banyak kejadian aneh—terutama satu kejadian yang menyedihkan itu—Bear ngga diberikan sedikitpun rasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Nikki, bahkan sampai akhir filmnya. Bear hanya merasa bersalah dan sengsara ketika kenyamanannya diusik, bukan karena ia sadar ia telah menyengsarakan orang lain.
Film juga ngga mempertanyakan kewarasan Bear di setiap kejadian anehnya, ia justru mempertanyakan Nikki—Barker menciptakan karakter teman-temannya yang melihat Nikki sebagai "si cegil" dan menempatkanya sebagai sumber masalah, hingga (sebagian) penonton pun dibuat berpikir demikian. Sampai akhir pun, Nikki tetaplah "the freaky Nikki" tanpa agensi atau victory apapun, very unfortunate karena she was a lovely person in the beginning. Yhaa tapi kalau kita hidup di tengah lingkungan yang apa-apa menyalahkan perempuan—termasuk penggunaan kata "cegil" yang ditujukan kepada perempuan yang "menggila" akibat tindakan laki-laki—susah juga...