Lihatlah kedua mata ku, dapatkah kamu rasakan serius ku saat ku ucap tentang mimpiku? Meski harus tercerai-berai isi kepalaku, aku akan tetap bermimpi!
Gentala Kawiswara, 2007; Si payah yang miliki mimpi setinggi langit, dituntut patuh pada tuan ‘tuk tetap mengais tanah! Pantaskah aku bahagia, nanti?
️️
️️
️️
Selamat datang! Ini pementasan kisah sedih milik aku si burung kecil tanpa sayap juga kaki untuk membebaskan diri. Aku Gentala, ingatlah namaku sampai akhir! Gentala Kawiswara, tanamkan itu di dalam benak kalian!
️️
️️
️️
️️
️️
️️
Tuhan, bolehkah Kamu berbaik hati membebaskan aku dari belenggu tuan ringan tangan pula gemar mencabik daging dan sari manisku? Bolehkah aku meminta untuk bahagia meski harus merusak diri? Tuhan, bolehkah beri aku kebaikanmu meski setitik?
️️
️️
️️
@shining_orchid Ya namanya juga selera Tala, pak. Kalau selera kita semua mah indomie. Iya tadi aku baru ngecek, kok kalian datang nya enggak sepaket. 😭
https://t.co/CJnugqvrnj
Berhubung aku sudah lama sekali absen dan kehilangan muse disini. Adakah yang mau aku angkut dan berkenalan dengan anak baru ku? Siapapun yang mau boleh merahkan hati ya!
Fokus Gentala tak lagi disini, fikirannya kacau sebab tau apapun yang ia ucapkan akan selalu berakhir sama. Pelecehan. Makian. Kekerasan. Gentala takut. Takut sekali kali ini hingga membuatnya memohon ampun berulang kali yang malah mengundang amarah memuncak tuan di hadapannya.
“Tatap mata ayah, jawab dengan benar. Kamu tau kan apa yang selalu ayah bilang sama kamu?” Ujar yang lebih tua dengan penekanan disetiap kata yang di lontar. Kedua maniknya mencerminkan amarah; tidak. Cemburu. Tatapan nya memancarkan kecemburuan.