POTRET SURAM PENDIDIKAN
Ketika jabatan guru diisi oleh figur² instan tanpa adanya ruh sbg pendidik di dlm jati dirinya, maka yg terjadi di ruang belajar hanyalah transfer ilmu belaka, maka pembentukan karakter sudah bukan lagi tujuan dari penyelenggaraan pendidikan.
Padahal Adab itu harus lebih tinggi daripada ilmu.
𝗚𝗔𝗚𝗔𝗟 𝗚𝗶𝗻𝗷𝗮𝗹 𝗗𝗲𝗺𝗼𝗸𝗿𝗮𝘀𝗶
Hari ini saya mendapatkan kiriman video ini. Ketika Deddy Sitorus memprotes hasil pemilu kita. Masalah usang sebenarnya. Klise. Beberapa kita sudah bosan membahasnya. Tetapi memang inilah akar masalah kita.
Saya sering katakan, DEMOkrasi (daulat rakyat) sudah dibajak DUITokrasi (daulat uang).
Ada dua modus strategi menang pemilu sekarang: Politik Uang dan Politik Curang. Mau menang, serang dengan siraman "uang".
Petahana menyalahgunakan wewenang. Serang dengan amplop, uang saksi, sembako, bansos, dll. Intinya, satu kata: UANG!
Padahal:
𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗼𝘁𝗼𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗺𝗽𝗶𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵.
𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗶𝗹𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗼𝘁𝗼𝗿 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿 𝗰𝗮𝗹𝗼𝗻 𝗸𝗼𝗿𝘂𝗽𝘁𝗼𝗿.
Seharusnya, dalam tubuh negara demokratis, pemilu berfungsi sebagai "Ginjal", yang mencuci darah kotor. Pemimpin yang tidak amanah, tidak kapabel, adalah darah kotor yang disingkirkan melalui saringan pemilu lima tahun sekali.
Tetapi ginjal pemilu kita sudah gagal. Yang tersaring dan kalah, malah politisi yang bersih. Yang mengandalkan kapasitas dan integritas tak terbeli, bukan isi tas.
Gagal ginjal pemilu menghadirkan pemenang pilpres dari putusan Paman Usman untuk Gibran; Anggota Legislatif nasional dan lokal yang merampok uang rakyat; Gubernur, Bupati, Walikota yang menghadirkan kebijakan koruptif.
Semua bermuara dari uang suap untuk memenangkan pemilu. Menjadi kandidat bayar mahar (𝘤𝘢𝘯𝘥𝘪𝘥𝘢𝘤𝘺 𝘣𝘶𝘺𝘪𝘯𝘨). Menjadi pemenang membayar penyelenggara pemilu, oknum aparat, pengadilan, mahkamah, hingga membeli suara rakyat (𝘷𝘰𝘵𝘦 𝘣𝘶𝘺𝘪𝘯𝘨).
Padahal, baik yang memberi suap ataupun yang menerima suap, masuk neraka, kata Rasulullah.
Jadi, kesimpulannya, suap adalah praktik yang menyebabkan "gagal ginjal pemilu" kita, dan dari waktu ke waktu semakin kita toleransi sebagai kenormalan. Kata Burhanuddin Muhtadi, politik uang adalah "new normal" dalam pemilu kita.
Tidak ada kabar baik dari pemilu yang kotor.
Tidak ada keadilan dari gagal ginjal pemilu.
Indonesia tidak akan pernah maju, melalui pemenang pemilu yang curang dan mengandalkan sokongan uang dari para oligarki koruptor.
Dirgahayu Indonesia!
Tapi, percayalah, dengan gagal ginjal pemilu, Indonesia tidak menuju negara maju, Indonesia menuju negara gagal!