PRAMONO-RANO UNGGUL SIGNIFIKAN: POTENSI SATU PUTARAN?
Pramono Anung - Rano Karno 46 persen, Ridwan Kamil - Suswono 39,1 persen, Dharma Pongrekun - Kun Wardana 5,1 persen. Yang belum menentukan pilihan 9,8 persen. Demikian posisi elektabilitas pemilihan gubernur Jakarta sekitar tiga minggu menjelang hari pencoblosan, berdasarkan temuan survei opini publik yang dilakukan SMRC, 31 Oktober - 9 November 2024.
Jumlah responden yang dipilih secara acak dari populasi pemilih Jakarta dalam survei ini adalah 1210 orang. Margin of error 2,9 persen. Perlu ada selisih suara minimal dua kali margin of error atau 5,8 persen untuk menunjukkan beda signifikan suara antar-pasangan calon.
Survei ini menunjukkan selisih suara pasangan Pramono-Rano dan Ridwan-Suswono adalah 6,9 persen. Selisih ini lebih besar dari dua kali margin of error survei 5,8 persen. Artinya, secara statistik, dukungan pada Pramono-Rano signifikan lebih besar dibanding dukungan pada Ridwan-Suswono, apalagi dengan pasangan Dharma-Kun. Untuk sementara atau tiga minggu sebelum hari pencoblosan, pasangan Pramono-Rano unggul secara meyakinkan atas semua lawan tandingnya di Pilgub Jakarta.
Memang masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa Pilkada akan berlangsung satu putaran. Yang bisa dikatakan adalah bahwa potensi satu putaran itu terbuka. Dan berdasarkan data saat ini, kalau terjadi satu putaran, pasangan Pramono-Rano lebih potensial untuk menang satu putaran dibanding pasangan lain.
Selain posisi elektabilitas Pramono-Rano yang paling mendekati angka 50 persen lebih, pasangan ini juga mengalami peningkatan suara secara konsisten dalam dua bulan terakhir, dari 28,4 persen pada minggu kedua September 2024 (LSI) menjadi 46 persen pada awal November 2024 (SMRC), naik sekitar 17,2 persen dalam periode singkat tersebut. Sebaliknya, pasangan Ridwan - Suswono, kompetitor utama mereka, terus mengalami kemerosotan suara, dari 51,8 persen menjadi 39,1 persen atau turun sekitar 12,7 persen pada periode tersebut. Sementara pasangan independen tidak terlalu banyak perubahan suara, hanya bergerak dari 3,2 persen menjadi 5,1 persen. Kalau pola pergerakan ini terus terjadi, maka bukan mustahil suara Pramono-Rano akan mendekati bahkan melewati 50 persen, sementara kompetitor utamanya akan semakin menjauhi angka 50 persen.
Selain itu, Pramono-Rano masih memiliki lebih banyak peluang untuk menambah dukungan. Hal ini terjadi karena secara keseluruhan, penerimaan publik pada pasangan ini sangat tinggi. Dari semua yang mengenal Pramono Anung, 77 persen di antaranya mengaku suka. Tingkat penerimaan publik bahkan lebih tinggi pada Rano Karno yang mencapi 92 persen. Penerimaan publik pada Pramono dan Rano melampaui tingkat kedisukaan pada semua calon lain: Ridwan Kamil (74 persen), Suswono (61 persen), Dharma Pongrekun (57 persen), dan Kun Wardana (59 persen).
Disparitas tingkat kedisukaan atau penerimaan publik inilah yang menjadi modal politik terpenting bagi pasangan Pramono-Rano untuk memungkinkan mereka memperlebar jarak dengan lawan-lawannya.
Namun begitu, bukan tidak mungkin pasangan Ridwan-Suswono bisa menikung di putaran akhir. Pasangan ini juga memiliki modal politik dan modal finansial yang sangat besar mengingat mereka adalah calon yang didukung oleh istana. Beberapa waktu lalu, Ridwan Kamil bahkan menemui Prabowo Subianto dan Jokowi. Pertemuan tersebut bisa dibaca sebagai permohonan restu. Dan restu dari seorang presiden aktif dan presiden yang baru lengser bisa diterjemahkan oleh aparat di tingkat bawah sebagai perintah. Kalau ini terjadi, pertarungan akan timpang atau tidak fair. Semoga aparat bisa menjaga independensinya.
Mari menunggu.
Jakarta, 13 November 2024
SAIDIMAN AHMAD