Waktu pertama kali gue kerja di luar negeri, jujur gue cukup pede. Gue ngerasa skill gue udah cukup dan harusnya bisa adapt tapi malah susah.
Di minggu-minggu awal, yang paling kerasa itu ritme kerja. Di meeting, orang-orang ngomong cepat, langsung ke inti, dan biasanya udah siap dengan data. Sementara gue masih butuh waktu buat process apa yang dibahas. Kadang gue ngerti, tapi telat respon. Kadang juga gue milih diem karena ga yakin.
Bukan karena gue ga bisa kerja, tapi karena cara kerjanya beda.
Cara mereka handle problem juga beda.
Dikasih issue, mereka ga nunggu arahan detail. Mereka langsung breakdown sendiri, cari data yang dibutuhkan, dan datang dengan beberapa opsi solusi.
Sementara gue waktu itu masih kebiasa nunggu direction. Gue pengen semuanya jelas dulu baru mulai.
Ada satu momen yang cukup kena buat gue. Waktu itu gue lagi kasih update progress di meeting. Gue jelasin apa yang udah gue kerjain, dan menurut gue itu udah cukup jelas.
Tapi setelah itu, ada yang nanya, “what’s the next step?” dan gue ga punya jawaban yang solid.
Di situ gue sadar, ekspektasinya bukan cuma kerja selesai. Mereka expect gue ngerti arah dan bisa lanjut ke step berikutnya tanpa harus disuruh.
Sejak itu gue mulai ubah cara kerja gue. Sebelum meeting, gue mulai prepare lebih dalam. Gue ga cuma bawa progress, tapi juga bawa kemungkinan next action.
Gue juga mulai biasain buat ga nunggu disuruh. Kalau gue lihat ada hal yang bisa diexplore, gue coba jalan dulu.
Awalnya ga nyaman, karena gue takut salah. Tapi lama-lama jadi kebiasa.
Kalau gue lihat sekarang, fase awal itu emang berat, tapi justru di situ gue paling banyak belajar. Bukan cuma soal kerjaan, tapi soal cara mikir dan cara adapt di environment yang lebih cepat.
Dua tahun yg lalu CATL groundbreaking factory for Na-ion battery, dan saya menulis ini: https://t.co/fWSO7kcy8L.
Menyarankan Indonesia utk look ahead beyond Lithium, Nickel & Cobalt based battery.
Sekarang sudah terealisasi di China: https://t.co/RPnMIHKRgO
#lpdp
Korea Selatan itu di tahun 70-an masih negara miskin. Lalu 1-2 dekade belakangan tiba-tiba menjadi negara kaya & diperhitungkan di dunia karena teknologinya. Indonesia pun tersalip. Padahal sumber daya alam Korea nggak se-mewah Indonesia. Lalu kita …
Salah siapa … ?
@ardisatriawan Sama aja sih kayaknya. Bedanya sekarang baru kelihatan, karena 2014 & 2019 nggak dapat kesempatan utk memimpin. Janji-janjinya tidak ada yg terukur. All bad planning or either no planning at all, yg penting ngejanjiin rakyat dulu.
@LivingCh@e100ss Menurut aturan, menyalip dengan kelebihan kecepatan 1 km/jam pun masih dibolehkan, selama menyalip di jalur yg benar. Mobil sudah benar, harusnya bus menunggu sampai mobil selesai menyalip.
Drawback negeri dengan aturan mendapatkan izin mengemudi yg tidak jelas, bnyk suap, dll.
Negeri mie instant. Liga nasional itu jadinya untuk apa?
Lebih baik uangnya dipakai utk memperbaiki kualitas liga, kualitas klub, gizi anak-anak calon atlet sepak bola. Melihat jangka panjang. Have we not learn enough from the past???
Kalo saya berharap Indonesia nggak lolos Piala Dunia sih. Alasannya: dapat lessons learned kalau yang instant itu nggak akan abadi. Semua harus melalui & merasakan prosesnya.
#TimnasIndonesia#TimnasDay
Harusnya Indonesia menaturalisasi Son Ye Jin dan Lee Min Ho supaya sinetron Indonesia maju. Pasti ada ‘lah kaitan keluarganya dengan Indonesia kalau dicari-cari. #naturalisasi
It was an honour to sit alongside Prof. @ward_berenschot to share our perspectives about technology, innovations & industrial advancements in Indonesia. It’s not a secret that the political environment is playing a great role in this. Indonesia Emas 2045 or Indonesia Cemas?
Hilir = akhir
Hulu = awal
Hulu ke hilir:
Penambangan —> Pengolahan bahan tambang —> Pembuatan precursor —> Pembuatan komponen utama —> Pembuatan/perakitan modul/devais —> Perakitan produk akhir
Kalo cuma penambangan & pengolahan bahan tambang mah masih hulu-isasi.
@rafikasturii Proses yg saya maksud adalah pembinaan dari usia muda, kompetisi dalam negeri yg berkualitas, standar yg bagus utk klub lokal (fasilitas, akademi, dll.).
Ingat perkataan Nugraha Besoes tahun 1999: “Indonesia akan ke Piala Dunia 2022.”
Hasilnya gagal karena sistem yg bobrok.
Kalo saya berharap Indonesia nggak lolos Piala Dunia sih. Alasannya: dapat lessons learned kalau yang instant itu nggak akan abadi. Semua harus melalui & merasakan prosesnya.
#TimnasIndonesia#TimnasDay