Seburuk-buruknya seseorang,
selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Dan mungkin benar,
Allah lebih menyukai mereka yang kembali dan bertobat—
dibanding mereka yang merasa dirinya selalu benar dan tak berdosa.
Senin, 4 Mei 2026 — Musashi Sakai
Hari ini dimulai dengan rasa yang campur aduk—
senang, grogi, semangat, sekaligus khawatir.
Event yang tak pernah direncanakan,
tiba-tiba menemukan jalannya.
MasyaAllah.
— Pelajaran ku hari ini: Kebaikan bukanlah sesuatu yang perlu kita hitung balasannya. Karena melakukan kebaikan itu sendiri, sudah menjadi kebaikan untuk kita. —
QS. Al-Isra [17]:7
“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
-sydz-
Minggu, 3 Mei 2026 — Chofu
Senyum dan potensi anak-anak hari ini terasa lebih dari sekadar perlombaan.
Di sana ada keberanian mencoba, proses belajar, dan kebahagiaan sederhana—bagi mereka, juga bagi para orang tua yang ikut tumbuh bersama.
Semua itu, jika dituangkan dengan kerahmatan Allah, rasanya tidak akan pernah sanggup dikurskan ke dalam materi dunia manusia ini.
Hari ini sederhana, tapi penuh makna.
Dari niat kecil, ternyata banyak hal baik menemukan jalannya.
Kesendirian bukan tentang sepi,
tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri dan harapan yang kita bawa.
“Sendirian atau di tengah keramaian, bagi Epicyetus, keduanya adalah hal yang netral.”
— Filosofi Teras
Sabtu, 2 Mei 2026 — Shibuya
Turun di perhentian terakhir, aku melihat seorang lelaki paruh baya berdiri di sudut stasiun dengan seragam biru lengkap. Tegap, diam, sering tertutup oleh lalu lalang orang—tapi tetap di sana, menjalankan tugasnya.
Usia di mana hidup mulai terasa lebih nyata,
dan pilihan-pilihan tidak lagi terasa sesederhana dulu.
Dari hari ini aku sadar,
kesendirian dan keramaian itu bukan lawan.
Di tengah keramaian, kita bisa merasa sendiri.
Dan di kesendirian, kita bisa merasa cukup.