Sejak dulu kok
Pas era Cultuurstelsel (kebijakan tahun 1830), petani-petani di Jawa punya keahlian agraris yang bagus. Mereka kompeten merawat lahan.
Tapi karena sistem yang dibuat oleh kolonial Belanda mewajibkan penanaman komoditas ekspor dengan eksploitasi gila-gilaan, para petani tetap jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.
Puncaknya, terjadi wabah kelaparan massal di Cirebon dan Jawa Tengah pada tahun 1840-an.
Semua itu bukan masalah skill nya tapi emang sistem dirancang agar tetep miskin wkwk
Guys ini keren banget..
Demak ternyata di zaman itu adalah kota besar dengan penduduk 90 ribu jiwa!
Ini berdasarkan catatan orang Portugis yang mengunjungin Demak di tahun 1640.
Untuk di zaman itu, Demak bisa dibilang metropolis.
Sebagai pembanding, jumlah penduduk kota kota perdagangan di Eropa Utara pada abad ke 16-17 adalah:
- Hamburg : 70-90 ribu
- Edinburgh : 40-60 ribu
- Copenhagen: 60-80 ribu
Artinya apa?
Artinya bangsa kita sebelum kolonial sudah mengembangkan ekonomi yang kompleks dan peradaban yang besar di masa itu.
Tidak mungkin penduduk Demak bisa sampai 90 ribu kalau ekonomi masyarakatnya tidak maju.
Source gambar : https://t.co/8UjH5XOlzz
Pasukan tombak Jawa di Ternate (Maluku) yang dikirim Raja Pajang. Artinya prajurit Jawa berperang lintas pulau atas otoritas Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir-Mas Karebet) menantu Sultan Trenggono (Demak).
Motifnya apa? Kalau yang Ternate lawan adalah Portugis satu isunya jihad.
Untuk memahami pemikiran S.H. Alatas lebih jauh, temen-temen bisa baca buku ini. Melaluinya, kalian akan ngedapetin pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep Captive Mind yang digagas oleh beliau.
Pandangan inggris dan barat terhadap jawa itu berubah total waktu raffles nemuin Borobudur dan dan kagum ketika dalamin sejarah-budaya jawa.
Makanya di peta “rasis” W.C Woodbridge 1827, Jawa itu jadi satu-satunya pulau di nusantara yang masuk kategori “half civilized”.
Peta kuno Jawa ini diperkirakan berasal dari awal abad ke-18 (sekitar 1719–1726), dibuat berdasarkan karya Adriaan Reland dan diterbitkan oleh Gerard van Keulen di era VOC.
Kebumen atau Panjer adalah lumbung padi
sebelah utara masih ada gajah
@HastoSuprayogo@toniocampolopez
Jika saja perempuan-perempuan yang berhaji bisa menuliskan atau dituliskan pengalamannya, barangkali kita bisa memulai menggagas historiografi alternatif tentang perempuan.
#historiografiinklusif
Menyewa Suami, Kisah Nenek Berhaji di Masa Kolonial https://t.co/zyNGV1WgEK
Lukisan Junghuhn itu suka ada detail2 menarik yg dia ceritain di dalam caption lukisannya.
Nah mari kita lihat apa aja yg menarik dari lukisan Diengnya Junghuhn.
Sebelum perang dunia banyak masyarakat Indonesia di Belanda. Namun bukan mahasiswa yg menempati urutan terbanyak masyarakat Indonesia di Belanda.
Kelompok mana yg menempati urutan pertama? Para pembantu rumah tangga Indonesia menempati urutan pertama sebagai kelompok masyrakat terbesar. Dalam bahasa kolonial disebut sebagai baboe atau djongos, sebagian besarnya wanita. Mereka datang bersama majikan Belanda yg sedang cuti dari pekerjaan mereka di Hindia Belanda.
Di sana selain menemani tuan Belanda mereka, mereka juga mendirikan organisasi sosial dan keagamaan. Dengan tujuan untuk mengatasi masalah dasar mereka seperti penggangguran, kemiskinan dan kesulitan birokratis.
Golongan ini umumnya kurang mendapat perhatian dari peneliti dibandingkan mahasiswa yg menempuh studi di Belanda. Mungkin karena kelompok mereka tidak meninggalkan sumber-sumber tertulis dibandingkan mahasiswa.
"Bahasa Melayu … diganti sekarang oleh bahasa Indonesia, yang … harus dapat dan pandai melukiskan perasaan masyarakat Indonesia muda yang dinamis … yang hendak tegak sama tinggi, duduk sama rendah dengan negara lain-lain. " — Sutan Muhammad Zain (1951)
Penyesatan sejarah. 1838 dinasti Chakri lagi kuat2nya dan lagi gencar2nya ekspansi teritori ke arah semenanjung. Kalo bukan karena intervensi British dan Perancis, hari ini pulau Sumatera ini bisa tetanggan langsung dengan Thailand
“Perasaan antagonis yang timbul di antara buruh terampil, sebagian hadir dari masuknya ide-ide kaum intelektual perkotaan dan sebagian karena kebencian akibat rintangan rasial yang sangat tampak dari bentuk kemajuan ekonomi,” John Ingleson
Doris Jedamski
RADEN AJENG KARTINI (1879-1904): PIONEER FOR WOMEN’S RIGHTS IN THE DUTCH EAST INDIES / INDONESIA
Leiden Special Collection Blog, 22 June 2021
Unduh : https://t.co/tl09ihEWBp
#catatannusantara
Bagaimanapun dan sampai kapanpun, ilmu sejarah akan terus relevan dengan berbagai aspek kehidupan dan lintasan zaman. Prof. Bambang Purwanto memberikan panduan bagaimana ilmu sejarah memiliki urgensi, termasuk dalam sektor industri.
Baca di: https://t.co/lf4VRJcQtY
The Makassarese have a system of Ada’ Sampulonrua (12 customary laws).
This manuscript contains the wishes of Karaeng (King) Bantaeng to establish maritime trade organization through Ada' Sampulonrua.
https://t.co/behIZgX6xc
#OTD 1104 tahun lalu sebuah proses peradilan menyelesaikan persengketaan mengenai status kewarganegaraan seseorang yang bernama Saṅ Dhanadī, yang dituduh oleh petugas pemungut pajak sebagai warga asing (wka kilalān) dan ditagih pajak kitêran.
Karena merasa bukan warga asing, ia datang menghadap penguasa Paḍaṅ terutama para pejabat pemutus perkara. Mereka kemudian menginvestigasi leluhur Saṅ Dhanadī, berikut dihadirkan juga saksi-saksi dari warga desa Grih, Kahuripan, dan Paniṅlaran, ternyata memang benar bahwa Saṅ Dhanadī adalah warga asli desa Wurudu Kidul, atau istilahnya wwang yukti. Surat sakti pun dikeluarkan oleh samgat Paḍaṅ untuk membebaskan Saṅ Dhanadī dari tuduhan tersebut.
Apakah Saṅ Dhanadī benar-benar terbebas dari akal-akalan petugas pemungut pajak? Ternyata tidak, 16 hari kemudian ia harus mengadu ke pengadilan lagi, kali ini ia dituduh oleh Pamariwa, orang suruhan samgat Manghuri, yaitu petugas pajak yang sebelumnya mencoba memeras Saṅ Dhanadī, sebagai keturunan Khmer. Samgat juru di Madandar pun mengeluarkan jayapattra atau "surat sakti" (16 Mei 922) yang membebaskannya dari tuduhan karena setelah dua kali panggilan Pamariwa tidak hadir di persidangan.
Pawning of Minangkabau wet rice fields was common (see Christine Dobbin, Islamic revivalism in a changing peasant economy: central Sumatra, 1784-1847 (London, 1987), p.19), and so surat gadai (pawn or mortgage letters) manuscripts are commonly found in West Sumatra