Jadwal pertandingan Indonesia di ACC Women's Asia Cup 2026
Ini bakal jadi momen bersejarah karena Indonesia akan debut di Piala Asia Cricket Putri.
Good Luck! ๐ฎ๐ฉ๐ฆ
#ACCWomensAsiaCup#Cricket
International Kids Cup Downhill 2026
Raesha Azriyan (6 tahun) berhasil meraih gelar juara dalam event downhill usia dini yang berlangsung di Ilmenau, Jerman.
Selamat atas prestasinya๐
#Downhill#MountainBike
Kita ini jangan hanya memohon ridho Allah SWT,tapi kitapun harus ridho pada apa yang di berikan yang di takdirkan pada kita, kalau kita ridho maka otomatis Allah itu pasti meridhoi kita,
Jangan curiga pada Allah, kita harus percaya sama Allah SWT.
#NasehatMbahNun
Persib Bandung ke Asia lagi ๐
Persib memastikan lolos ke AFC Champions League Two 2026/27, usai mengalahkan Manila Digger lewat gol Mariano Peralta di menit 88'
Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan selamat dan sukses kepada KH. Miftachul Akhyar dan KH. Abdul Hakim Mahfudz atas amanah sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU Periode 2026โ2031.
Semoga kepengurusan baru PBNU dapat menjalankan amanah dengan baik serta sukses melaksanakan keputusan-keputusan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang telah digelar pada 27โ31 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur.
#Muhammadiyah #PBNU #NahdlatulUlama
World Boccia Championships 2026
Indonesia berhasil meraih 2 gelar juara & 1 runner-up dari nomor individual dalam Kejuaraan Dunia Boccia yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan.
Ini menjadi sejarah untuk pertama kalinya Indonesia meraih gelar Juara Dunia Boccia.
#Boccia
Surat perpisahan Lionel Messi untuk timnas Argentina, staf pelatih, rekan setim, manajemen, suporter, dan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Messi pamit...! (Tapi) Messi (belum) akan kembali ke kotanya, Rosario, sebagai rakyat biasa.
Karena Messi masih bermain untuk Inter Miami.
Jadwal pertandingan Indonesia di AFC U20 Asian Cup 2027 Qualifiers
8 juara grup & 7 runner-up terbaik akan lolos ke putaran final. Sementara juru kunci grup akan terdegradasi ke development phase.
Good Luck! ๐ฎ๐ฉ๐ฆ
#AFCU20Q#TimnasU20
Indonesia keluar sebagai juara umum POLYTRON Pontianak International Challenge 2026 dengan meraih tiga gelar juara dan satu runner up.
โKita patut bersyukur Indonesia bisa meraih tiga gelar juara di turnamen ini. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemain kita mampu tampil kompetitif dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik," ucap Eng Hian, Kabid Binpres PP PBSI.
"Tentunya ini menjadi modal positif untuk menghadapi turnamen berikutnya. Harapannya, di Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 level Super 100, para pemain Indonesia bisa kembali menunjukkan performa terbaik, bermain lebih konsisten, dan tentunya meraih hasil yang maksimal di hadapan dukungan masyarakat Pontianak.โ sambung Eng Hian.
Keseruan di Pontianak memang belum akan usai. Pekan depan atau tepatnya tanggal 1-6 September akan bergulir POLYTRON Pontianak Indonesia Masters 2026 Super 100.
Ayo datang dan ramaikan kembali GOR Terpadu Ahmad Yani. See you! ๐ฅ๐ธ๐ฎ๐ฉ
#BadmintonIndonesia
#DjarumBadminton
#BanggaTerusMelangkah
#PolytronInternationalChallenge2026 #PolytronIndonesiaMastersSuper1002026
๐ฒ | #AFCU17 ๐๐ฎ๐๐ฅ๐ข๐๐ข๐๐ซ๐ฌ
๐ฎ Group A
๐๏ธ Myanmar
๐ ๐ฒ๐ฒ๐ฆ๐ซ๐ต๐ญ๐ฐ๐ญ
๐ฐ๏ธ November 8 โ 20, 2026
Only the group winner will progress to next yearโs ๐ ๐ข๐ง๐๐ฅ๐ฌ.
โฃ #GarudaMendunia
Bruno Fernandes memang mencuri semua headline. Tapi jangan lewatkan performa Kobbie Mainoo.
Dalam kemenangan 5-2 Manchester United atas Ipswich, Bruno menjadi bintang utama dengan hat-trick + satu assist. Namun, di balik dominasi United setelah tertinggal 0-1, ada Mainoo yang tampil sangat penting di tengah lapangan.
Mainoo memberikan sesuatu yang sempat hilang dari permainan United: ketenangan saat menerima bola, kemampuan keluar dari tekanan, progresi bola, dan kontrol di lini tengah.
Ia tidak sekadar menjadi pemain yang mengalirkan bola dari belakang ke depan. Mainoo beberapa kali mampu membawa bola melewati tekanan lawan, memenangkan duel, melakukan tekel, dan membuka ruang bagi pemain-pemain di depannya untuk bergerak lebih bebas.
Salah satu momen pentingnya datang ketika umpan Mainoo melepas Matheus Cunha hingga berujung penalti untuk United. Ia juga terlibat dalam rangkaian serangan yang menghasilkan gol ketiga Bruno.
Yang menarik, Mainoo terlihat jauh lebih nyaman ketika diberi peran aktif dalam membangun serangan. Ia mampu menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan tanpa harus terburu-buru memainkan bola.
Kiai yang Tidak Punya ID Card
Halimi Zuhdy
Saya masuk salah satu gang yang berada di sekitar arena Muktamar NU ke-35. Di situ saya bertemu seorang kiai sepuh. Tidak ada ID card di dadanya. Saya tidak tahu beliau siapa.
Saya menyapa.
โDari mana, Yai?โ
Beliau tersenyum.
โDari jauh.โ
Hanya itu. Saya tidak mengejar pertanyaan berikutnya. Kok rasanya tidak pantas. Beliau berjalan sangat pelan. Sandalnya sederhana. Songkoknya bahkan seperti kurang pas. Seperti baru saja dipakai terburu-buru. Ada warna pirangnya.
Saya lihat beliau masuk ke masjid. Duduk. Diam. Khusyuk. Di luar, muktamar sedang ramai. Orang-orang sibuk. Kamera sibuk. Televisi sibuk.
Orang-orang dengan ID card berwarna-warni berjalan cepat. Ada yang dikejar jadwal. Ada yang dikejar kamera. Ada yang dikejar orang.
Kiai itu tidak dikejar siapa-siapa.Beliau juga tidak mengejar siapa-siapa. Mungkin memang itu tujuan kedatangannya. Tidak mencari apa-apa. Hanya ingin melihat NU. Melihat jamaah. Melihat orang-orang berkumpul.
Mungkin beliau datang dengan uang sendiri. Mungkin naik kendaraan umum. Mungkin berangkat dari desa yang namanya tidak pernah masuk berita. Desa yang bahkan mungkin tidak punya media sosial.
Di sana, setiap malam Jumat, beliau mungkin memimpin tahlil. Setiap subuh, menjadi imam. Setiap sore, mengajari anak-anak membaca Al-Qur'an. Kalau ada orang meninggal, beliau yang datang lebih dulu.
Kalau ada warga bertengkar, beliau yang didatangi. Kalau ada anak menikah, beliau yang diminta menjadi saksi dan penasihat.
Tidak ada kamera. Tidak ada live streaming. Tidak ada subscriber.
Tidak ada yang menekan tombol โlikeโ.
Tetapi jamaahnya ada.
Dan mungkin NU bertahan sampai hari ini justru karena orang-orang seperti itu.
Saya jadi berpikir. Kita sering membicarakan NU dari atas. Tentang struktur. Tentang kepengurusan. Tentang jabatan. Tentang siapa terpilih. Tentang siapa kalah. Tentang siapa menang.
Tetapi NU juga hidup dari bawah. Dari kiai yang tidak dikenal. Dari mushala yang tidak masuk Google Maps. Dari masjid kecil di ujung desa. Dari pengajian yang jamaahnya hanya dua puluh orang. Dari orang-orang yang tidak tahu bagaimana membuat dirinya viral.
Mereka hanya tahu bagaimana membuat jamaahnya tetap hidup. Mungkin kiai tadi bahkan tidak terlalu peduli siapa yang nanti menjadi pengurus.
Ia mungkin tidak hafal struktur organisasi. Tidak hafal istilah-istilah yang sering kita perdebatkan. Tetapi ia tahu satu hal: jamaah harus tetap bersama.
Saya bertemu lagi dengan kiai lain.
Saya sapa.
โYai, dari mana?โ
Ia menyebut sebuah daerah.
Saya tidak terlalu mengenalnya.
โJauh?โ
Ia tersenyum.
โLumayan.โ
Lalu berjalan lagi.Pelan.Saya memandang punggungnya. Tiba-tiba saya merasa kecil.
Kami yang sering merasa paling NU, mungkin justru terlalu sibuk membicarakan NU.
Sementara beliau-beliau itu cukup menjalani NU. Tidak banyak bicara. Tidak banyak menuntut. Tidak banyak tampil. Mereka datang. Duduk. Berdoa. Bertemu jamaah. Lalu pulang.
Mungkin suatu saat kita tidak akan lagi melihat mereka. Usia mereka sudah terlalu jauh. Langkah mereka sudah terlalu pelan. Suara mereka mungkin sudah mulai bergetar. Tetapi sebelum itu terjadi, saya ingin mengatakan:
Terima kasih, Yai.
Karena mungkin kami tidak mengenal nama panjenengan. Mungkin kamera tidak pernah merekam wajah panjenengan. Mungkin televisi tidak pernah menyebut panjenengan.
Tetapi kami tahu satu hal.
Rumah besar bernama NU ini berdiri bukan hanya karena orang-orang yang tampak di panggung.
Ia juga berdiri karena orang-orang yang diam-diam menjaga tiangnya.
Di kampung. Di desa. Di mushala. Di masjid. Di tempat yang jauh dari sorotan.
Dan mungkin, kiai yang tidak punya ID card itu justru memiliki sesuatu yang jauh lebih penting: hati yang penuh cinta kepada jamaah. Ia datang bukan untuk menjadi siapa-siapa. Ia datang karena merasa NU adalah rumahnya. Dan mungkin itu sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup.