@kimtaehyuag_ "Boleh, ga usah bawa mobil ya."
Tanggap Taylor, menyetujui ajakan Sastra. Malam itu mereka tutup dengan perut kenyang dan sebuah persetujuan akan janji makan bersama lainnya.
@kimtaehyuag_ Taylor segera mempercepat langkah.
Ia dudukan Chiyo pada baby chair di bangku belakang. Memastikan safety belt khusus, memeluk tubuh Chiyo dengan benar.
@kimtaehyuag_ "Gue aja, lu tugasnya duduk pukpuk Chiyo. Nih mulai rewel dia, capek kayaknya."
Adu Taylor, menunjukan bagaimana Chiyo kini menggeliat dalam dekapannya. Samar-samar, rengekan mulai terdengar, yang jelas bisa meledak kapan saja.
-
@kimtaehyuag_ "Tau gitu tadi makannya lebihan. Siang tapi makan bener kan? Bukan cuma cemal-cemil?"
Taylor menggendong Chiyo yang nampak sudah setengah mengantuk. Ia berikan bungkusan makanan miliknya pada Sastra.
"Bantuin bawa, Chiyo gue aja yang gendong. Udah ngantuk bocahnya."
@kimtaehyuag_ "Tapi lu sarapan, kan?"
Sambar Taylor cepat, ia ingin memastikan yang satu ini. Ia biarian Sastra mengurus keponakannya, sementara Taylor sibuk mengarahkan pelayan untuk membungkus dan membayar semua pesanan mereka.
"Chiyo pake jaket lagi ya, udah malem. Kasian dingin."
@kimtaehyuag_ "Gue ga napsu lagi, gue bungkus aja lah. Kenyang gue, liat si Chiyo makannya lahap banget."
Kali ini, Taylor sepenuhnya berkata jujur. Lagi pula, memang sedari awal ia tidak merasa terlalu lapar. Perlu diingat bahwa pukul 3 sore tadi, Taylor sudah menghabiskan semangkuk bakso.
@kimtaehyuag_ "Makan dulu Sas es krim lu, udah mau cair itu."
Taylor memperingati Sastra, untuk segera melahap es krim yang sebenarnya baru saja di antar ke meja mereka. Mata Chiyo berbinar, menatap es krim pink yang memang khusus dipesan untuknya.
"Chiyo maemnya pinter, boleh habisin."
@kimtaehyuag_ "Ya masa gue tanya bocahnya, masih umur segini anjir. Ga bener ah lu. Gue coba potongin kecil-kecil aja."
Omel Taylor, kemudian ia mulai bergerak memotong daging di hadapannya membentuk dadu mungil. Ia tersenyum senang ketika anak itu ternyata bisa memakannya.