It is true that only songs of 𝐫𝐞𝐠𝐫𝐞𝐭 and 𝐞𝐦𝐩𝐭𝐢𝐧𝐞𝐬𝐬 𝐏𝐈𝐄𝐑𝐂𝐄 the 𝒉𝒆𝒂̲𝒓̲𝒕̲. The 𝐮𝐧𝐜𝐞𝐫𝐭𝐚𝐢𝐧𝐭𝐲 of 𝑠𝑢𝑐𝑐𝑒𝑠𝑠 or 𝑓𝑎𝑖𝑙𝑢𝑟𝑒 is that the 𝐠𝐨𝐚𝐥 or the 𝐬𝐭𝐚𝐫𝐭 𝒍͟𝒊͟𝒏͟𝒆. 𝑇𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡 and 𝑟𝑒𝑠𝑢𝑙𝑡, the 𝐟𝐫𝐮𝐢𝐭𝐬 of your 𝐥𝐚𝐛𝐨𝐫.
Senang melihat sosoknya yang hilang namun muncul dengan menjadi pesaingnya. Rindu? Tentu saja. Marah? Bisa jadi. Tapi bukan marah yang sampai ingin memakinya. Aku masih menatap @claiersentience dalam-dalam.
Kuasaku menarik lenganmu untuk duduk di sebelah, “Atau mau duduk dipangkuanku saja?” Gurauku sedikit, tangannya masih setia berada di lenganmu. Menunggumu untuk duduk di sebelahku.
Rasa berkecamuk dalam relungnya sungguh membuatnya bimbang harus bagaimana sekarang.
“Jangan menangis,” Itulah hal yang pertama kali ku ucapkan pada @claiersentience. Ku usap air matanya dengan lembut.
"Kau tidak egois, hanya saja takdir yang begitu kejam terhadap kita. It's nice to see you again, Shuu."
Takdir membawa kami semua pada titik ini. Lika liku kehidupan yang pasang surut buat kami semua kadang tidak berdaya ini mentertawakan keinginan yang sederhana milikku.
Aku, membuka pelan kedua mataku. Mendapati Shuu yang masih menangis. Kuasa bergerak menyentuh pipinya.
@THEGENIUSRAPPER Haruomi terkekeh pelan, tubuh Chisei ia dekap erat. "Iyaa, tidak ditinggal. Mana mungkin?" Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit, seulas senyum terbentuk pada parasnya.
@THEGENIUSRAPPER Sampai mampus pun ia tak akan mengakui, "Tidak. Sudah diam." Matanya memicing, menatap tajam. "Atau ku tinggal saja kau di sini. Mau?" Hanya gertakan singkat yang tiada mungkin dilaku juga.
@THEGENIUSRAPPER Saat sebuah kecupan lembut mendarat pada wajah, Shura tak serta-merta tampilkan keterkejutannya pada aksi Yasha. Namun, tak dapat dibohongi, semburat merah tipis warnai durja penuh pesona. Tak pula ia akan akui bahwa semburat itu nyata jikalau Yasha mengungkitnya.
@THEGENIUSRAPPER Tak menghiraukan topik perihal sabun, kini hatinya lebih ingin tahu tentang topik terakhir. Haruomi menatap Yasha penuh dengan gejolak ingin tahu. Tak bersuara sampai Yasha bersuara lebih dulu. Harusnya Yasha peka akan hal itu.
@THEGENIUSRAPPER “Me.” He said while taking the bottle from him, drinking it right away as his eyes remained fixed on Yasha, his partner; his beloved partner. He wagered that Yasha wouldn't discern whether he was joking or not. His expressionlessness, hard to judged by it.
@THEGENIUSRAPPER Haruomi tak menghiraukan saat kedua tangan Chisei meraba masuk ke dalam pakaian; meraba tubuhnya dengan seenaknya.
“Sabun punya kamu, masa ngga hapal?” Ia, melirik Chisei yang berada di belakangnya. Sedikit memutar tubuh guna menghadapnya, agar saling berpandangan.